Nikah Dadakan Dengan Guru

Nikah Dadakan Dengan Guru
NDDG\\42{Sayang dede}


__ADS_3

maaf di skip yah maaf.....


.


.


.


.


.


4 bulan kemudian


Hari berganti hari bulan berganti bulan, kandungan Dira mencapai 7 bulan dan tentu semakin besar.


Dafi paling suka bobok sama debay yang didalam perut Dira, Raden juga dia menyayangi adik adiknya.


Hingga suatu hari...


Pukul 11 siang, sekolah TK.


"BUNDA.." Dafi berlari menuju Bundanya yang menunggu di luar gerbang sambil mengelus perut yang buncit, Dira tersenyum menatap anak anak yang berlari menuju nya.


Dan...

__ADS_1


"Hap.." Mereka berpelukan, Dafi menyapa adik bayi didalam perut Dira.


"Bunda Bunda, lihat Dafi gambar apa.." ucap Dafi mengeluarkan buku gambar dari tasnya dan memperlihatkan sebuah gambar keluarga dimana ada Ayah, Bunda dengan perut besar, ia dan kakak Raden ditengah.


"Wah bagus dek gambarannya." puji Raden menatap gambar itu,


"Iya terus kok perut Bunda besaryah?" tanya Dira heran.


"Bunda kan lagi hamil Dede, kalau adek udah lahir maka aku gambar lagi disini." ucap Dafi menunjuk kertas gambar yang kosong, Dira tersenyum dan mengecup kening Dafi perlahan.


"Yaudah yuk pulang, soalnya ayah pulang siang ntar dicariin." ucap Dira, Kedua anaknya mengangguk dan menggandeng kedua tangannya. Mereka pulang menggunakan Taksi.


Sampai rumah.


"AYAH KITA PULANG.." Ucap mereka dan menemukan sang ayah di dapur memasak makan siang, mereka memeluk kaki sang ayah.


Rafael tersenyum dan membalas pelukan mereka,


"Sekarang Raden dan Dafi ganti baju, terus kita makan sama sama. Nanti sore kita ke bu Dokter cek Dede bayi." ucap Rafael mengelus lembut kepala kedua anaknya.


Mereka mengangguk dan pergi ke kamar menganti baju, Dira masuk menatap Rafael.


"Diem duduk anteng, jangan sampe kayak sebulan lalu pecicilan naik atas genteng." ucap Rafael tajam, Dira hanya cengar cengir lalu segera duduk anteng di kursi meja makan.


Tak lama kemudian, Masakan selesai dan bersamaan anak anak sudah menganti seragam mereka. Mereka pun makan siang bersama sama.

__ADS_1


Selesai makan siang, Rafael mencuci piring dana Dira anak anak berada di kamar.


Kamar.


"Bunda burung terbangkan pakai sayap, ayam kan punya sayap kok gak bisa terbang?" tanya Dafi polos, Dira pun jadi berfikir iya juga kok bisa.


"Bunda juga gak tahu." ucap Dira, Dafi mengangguk lalu mereka seperti mendengar sesuatu seperti dengkuran halus lalu mereka melirik samping kanan Dira.


"Kak Raden tidur, Dafi juga deh.." ucap Dafi memeluk Bunda dan sesekali mengelus perut Bunda hingga dirinya terlelap tidur ke alam mimpi.


Dira tersenyum ia mengecup kedua kening anaknya lalu menatap perut buncitnya.


"Cepat lahir yah sayang, temani kakak kakakmu ini." ucap Dira mengelus lembut, tak lama Rafael datang membawa susu kehamilan milik Dira.


"Anak anak tidur?" tanya Rafael sambil memberikan segelas susu, Dira menerima dan mengangguk. Dira pun meminum susu miliknya,


Rafael berbaring di sebelah kanan Raden tak lupa ia pindahkan Dafi agar ditengah bersama Raden.


"Anak anak mulai.besar, dan kita nambah satu." ucap Rafael mengelus perut Dira, Dira terkekeh dan mengangguk.


"Tidur gih, kalau udah sore aku bangunin. Makan malam nya kita di luar saja sekali kali ajak anak anak jalan jalan." ucap Rafael, Dira setuju dan perlahan ia pejamkan matanya dan mulai terlelap.


Rafael tersenyum lalu ia mengambil laptop dan mengerjakan yang belum tuntas saat di sekolah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2