
"Hiks..Bunda jangan menangis." ucap Dafi menghapus airmata Bundanya, Dira menatap kedua anaknya dan masih tetap airmatanya mengalir.
"A..ayah ke..kecelakaan.." ucap Dira, kedua anaknya kaget dan menangis mereka memeluk Bunda mereka erat. Dira menatap hujan yang belum selesai juga, Hingga sebuah ketukan pintu menyadarkannya.
Perlahan ia melepas pelukan dan membuka pintu perlahan. Terlihat seorang wanita berdiri di depan pintu sambil membawa payung dan sebelah lagi ada seseorang juga.
"Dira.." Panggilnya menghapus air mata Dira yang mengalir, Dira memeluk orang yang di depannya dan menangis. Mereka masuk kedalam Rumah,
"Mas Rafael bakal gpp kan Bu, Dira gak mau kehilangan lagi.." ucap Dira dan masih terisak dalam pelukan Ibu Desi, anak anak dipeluk Bunda.
"Gpp sayang, mau kerumah sakit?" tawar Ibu dan Dira langsung mengangguk tapi sebelum itu ia menatap anak anak yang menangis,
"Dafi ikut Bunda.." ucap Dafi disusul Raden.
Dira mengangguk, Dira pergi bersiap maupun anak anak. Setelah siap mereka berangkat menggunakan taksi.
Sampai di Rumah sakit.
Mereka berjalan masuk dan bertanya dimana Rafael berada, maksudnya ditangani dimana masih di UGD atau IGD atau udah di pindah di ruang rawat.
Setelah tahu bahwa Rafael ada di ruang rawat lantai 3, mereka segera naik menggunakan lift menuju kesana.
Lantai 3.
__ADS_1
Di sepanjang koridor perasaan Dira campur aduk sambil menggandeng kedua putranya menujua ruang rawat, sampai diruang Rawat.
Bersamaan seorang dokter keluar bersama seorang suster juga,
"Dokter bagaimana keadaan suami saya?" tanya Dira. Tapi Dokter masih diam mengamati Dira,
"Apa anda betul istrinya?" tanya dokter memastikan.
"Betul saya,memang kenapa Dokter?" tanya Dira balik, Suster dan Dokter saling pandang lalu tiba tiba...
"Dokter bagaimana keadaan suami saya.." tiba tiba seorang wanita yang duduk dikursi roda dengan kepala diperban maupun kaki kirinya juga.
Dira berbalik badan dan ternyata..
"Maksud anda apa memgucapkan bahwa Mas Rafael suami anda?" ucap Dira dingin.
"Aem...lalu kamu ngapain disini?" tanya Ia memberanikan diri,
"Saya istrinya, memang kenapa dan Mas Rafael ayah anak saya." ucap Dira dingin menatap datar dan tajam.
Orang itu menelan silvanya dan sedikit terkejut mendengar kebenaran itu,
"Kamu jangan bercanda.." ucapnya tegas. Dira memutar matanya malas, sedangkan kedua anaknya menatap wanita itu polos.
__ADS_1
"Pak Dokter, Ayah Dafi mana?" ucap Dafi polos menatap Dokter dan suster yang bingung,
"Emh itu kondisi Pak Rafael kemungkinan tidak akan sadarkan diri selama beberapa hari, sempat terjadi benturan dikepalanya." ucap Dokter.
"Bunda ayo lihat Ayah." tarik Raden dan menatap Wanita di kursi roda dengan pandangan tidak suka.
"Jika ingin menjenguk harap 1 orang dahulu, dan jangan terlalu ramai takut menganggu kenyaman Pasien lain." ucap Dokter lalu pamit dan pergi bersama suster.
"Lebih baik kamu pergi, dan jangan ganggu kami." kini yang berucap Bunda, Dira dan anak anak masuk dahulu dan Wanita tadi memilih pergi.
Di dalam.
"Ayah.." Anak anak berhamburan naik di kursi dan memeluk Rafael yang terbaring di atas ranjang.
"Ayah ayah bangun, kita main Ayah.." bangun Dafi namun apa Rafael masih menutup rapat matanya.
"Dafi ayah lagi istirahat, kita jangan ganggu dulu kalau ayah udah sembuh kita main bersama." nasihat Raden, Dafi mengangguk.
Dafi dan Raden mengecup kedua pipi Rafael, setelah itu turun dan keluar membiarkan Bundanya berbicara dan melihat kondisi Ayah mereka.
Setelah anak anak keluar, Dira duduk di samping ranjang Rafael. Ia menggengam tangan Rafael dan mengecupnya, Air mata Dira mengalir sakit hatinya melihat suaminya terbaring tak sadarkan diri dengan perban yang menempal pada kepala.
Bersambung.
__ADS_1