Nikah Dadakan Dengan Guru

Nikah Dadakan Dengan Guru
NDDG\\15{Rengekan Dira di pinggir jalan}


__ADS_3

"Emh..." Dira membuka mata perlahan,matanya menangkap ruangan putih tercium bau obat obatan tapi ia merasa seperti ada yang kurang.


"Mas Rafael..." Dira perlahan duduk dan sebuah pintu terbuka ternyata, Rafael yang tadi keluar cari makan.


"Dira..." Rafael senang melihat Dira sudah sadar, ia mendekat dan memeluk Dira dan itu membuat Dira bingung.


"Ada apa mas?oh ya mas gpp kan?" tanya Dira, Rafael tidak apa apa namun senyuman tidak pudar sekali melihat itu Dira kebingungan.


"Mas kenapa sih?" tanya lagi Dira.


"Kita bakal jadi orang tua Dira, bentar lagi kita punya baby.." ujar lagi Rafael senang dan memeluk Dira, Mendengar akan hal itu Dira terkejut dan tersenyum lebar tanpa luntur.


"Benarkah Mas?" tanya Dira masih belum percaya, Rafael mengiyakan.


Hari ini adalah Hari paling bahagia bagi mereka karena sebentar lagi mereka akan menjadi orang.


Setelah itu mereka pun makan karena perut Dira juga sempat kosong dan belum makan malam.


Skip...


Keesokan harinya.

__ADS_1


Dokter sudah memperbolehkan Dira pulang, sekarang mereka perjalanan pulang tapi..


"Aaaa mAs sekolah titik.." Rengek Dira dipinggir jalan


"Tapi Dira kamu baru keluar loh besok aja yah.." bujuk Rafael


"Gak mau Sekolah kan ada ujian, Dira gak mau ikut ujian susulan Sekolah..." Dira terus merengek hingga ia hampir menangis.


"Tapi..." Belum selesai Rafael berbicara,


"Kalau Mas gak mau antar Dira berangkat sendiri.." ujar Dira mulai berjalan kaki meninggalkan Rafael yang memanggil dirinya.


"Ok kita ke sekolah, tapi seragam mu Dira.." ujar Rafael


Mereka pun berangkat ke sekolah, dan sepanjang perjalanan Dira menggerutu tak jelas dan Rafael kadang mengiyakan padahal tidak paham.


Sampai di sekolah.


Dira menganti baju, dan Rafael duduk di tempatnya di ruang guru.


"Kenapa Rafael kok kyk stress?" tanya Guru tertua darinya.

__ADS_1


"Dira merengek kesekolah padahal baru keluar dari rumah sakit." ujar Rafael memijat pelipis di dahinya.


Dira telah selesai menganti baju, Dia langsung pergi ke kelas tanpa peduli dengan Rafael yang tadi manggil.


"Sabar sabar Bumilnya ngambek.." Rafael mengelus datar berusaha sabar memang harus ekstra sabar dengan sikap perubahan Dira kadang drastis.


"Bumil?,Dira hamil?" tanya Xander sambil menggendong Baby Vier yang minum susu botol takut merengek tiba tiba.


"Iya, 2 minggu dan menguji kesabaran." ucap Rafael lalu menatap kertas ujian bahasa indonesia.


"Sabar ibu hamil memang begitu tapi lebih parah kiran, mana gw di suruh Foto ma orgil lewat depan rumah-_" ujar Xander lalu melihat bahwa botol susu anaknya sudah habis, dan Vier suka bergerak aktif.


"Hm yah.." Rafael hanya menghela nafas pasrah, Disisi Dira sampai kelas dia menggerutu tak jelas sampai guru penjaga maupun teman temannya heran bingung.


Selama itu juga Dira terus menggomel tentang Rafael yang tak menurutinya tadi, terus tentang Damian terus mengusiknya, Dan ditambah lagi Guru perempuan yang centil dengan suaminya.


Kiran yang melihat geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya ini.


"Aneh banget, kenapa sih Dira dari tadi ngomel mulu kadang pak Rafael kadang Damian kadang si guru centil." gumam Kiran melirik sahabatnya yang terus mengomel tanpa henti.


"Sudahlah.." dan itu kata terakhir dan Dira diam tenang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2