
Setelah selesai adegan Candaan.
"Raf.." panggil Xander
"Hem.." jawab Rafael tanps menoleh,
"Lo belum itu sama Dira?" tanya Xander dan itu membuat Rafael yang tadi main game berhenti lalu menoleh ke arah Xander dan menggelengkan kepala.
"Gw belum siap." ucap Rafael menghela nafas lalu melirik Dira yang tadi terus mengelus perut Kiran.
"Gak laki lo." celetuk Xamder dan...
Keduanya gelut dan membuat kedua wanita tadi juga berhenti.
Byur....
Dira mengambil selang lalu menyalakan kran air dan menyemburkan pada kedua lelaki yang gelut,
"YAK ANINDIRA.." Keduanya berhenti dan kaget.
"Salah siapa pada berantem, alasannya apa coba?" ucap Dira,
"Yah laki mu gak laki.." ucap Xander membuat Dira bingung.
"Hah maksud?" Dira tidak paham
"Kan emang Mas Rafael laki masak perempuan?" lanjut Dira, Kiran geleng kepala sebenarnya ia tahu maksud suaminya.
__ADS_1
"Maksudnya tuh kok belum itu..." ucap Kiran, seketika Dira paham dan diam.
"Oh itu toh.." ucap Dira menutup Kran air tapi sesekali melirik Rafael yang menatapnya tajam.
"Kenapa Mas?" tanya Dira
"Nanti kamu dihukum." ucap Rafael, tapi sayang Dira tidak paham dan hanya mengangguk saja.
Menjelang siang Xander dan Kiran pulang, Rafael tengah berkutat dengan laptop dan Dira belajar.
Hingga....
"Huh...akhirnya.." keduanya berucap bersamaan lalu menatap satu sama yang lain, Rafael meletakkan laptopnya di meja lalu berjalan ke arah Dira yang diam saja menatapnya polos.
Bruk...
"Ada apa Mas?" jawab Dira bingung,
"Mau itu.." ucap Rafael. Dira bingung
"Itu apa?" tAnya Dira.
"Itulah yang biasanya yang kemaren dibilang Bunda." ucap Rafael, Dira terdiam dia sedikit memainkan jarinya ada keraguan di hatinya dan rasa takut.
"Dira takut mas.." ucap lirih Dira, dan itu di dengar oleh Rafael. Rafael mengerti dan memeluk Dira setelah itu keduanya terlelap.
Malam hari.
__ADS_1
Rafael terbangun kala seseorang sedikit bergerak mencari tempat nyaman, Rafael menunduk dan ternyata Dira menulusup dalam pelukannya. Rafael sedikit tersenyum namun tiba tiba ia ingat perkataan nasehat Xander 2 hari yang lalu.
"Jangan memberi harapan.." gumam Rafael lalu menatap Dira, ia mulai mengelus rambut Dira perlahan lalu mengecupnya. Rafael melamun memikirkan perkataan nasehat Xander, ia juga takut terlalu memberi harapan untuk Dira.
Ia takut untuk membuat Dira sakit hati kembali, senyuman Dira menyembunyikan semua rasa sakit. seperti kemarin Dira hampir berbohong kalau ia tidak di bully.
"Emh..." Dira mulai terbangun dan membuat Rafael tersadar dari lamunannya, Dira membuka matanya lalu mendongak menatap Rafael yang menatapnya juga.
"Mas udah malem yah?" tanya Dira, Rafael mengangguk.
Dira mengucek matanya namun di hentikan Rafael,
"Jangan nanti jadi sakit, Kamu mandi Mas masak dulu." ucap Rafael.
"Mas yang mandi aja, dari kemaren mas yang terus bekerja di rumah Dira gk ngapa ngapain." ucap Dira cemberut, Rafael mengijinkan.
Sesuai tadi Dira memasak dan Rafael pergi mandi, selesai mandi dan memasak mereka makan malam bersama sama.
Selesai Makan malam.
Disaat sedang mencuci piring tiba tiba Rafael memeluk Dira dari belakang, "Ada apa Mas butuh sesuatu?" tanya Dira. Rafael menggelengkan kepalanya.
"Besok Dira kan sekolah, tapi seragam Dira bagaimana mas?" bingung Dira, "Jangan khawatir udah Mas urus." ucap Rafael tersenyum.
Dira mengangguk, selesai mencuci piring mereka pergi tidur karena esok sudah waktunya sekolah.
Bersambung.
__ADS_1