
Aku tak mengerti maksudnya. Kenapa bisa aku sudah tahu rencana ini dari awal, padahal aku sendiri saja merasa baru pertama kali mendengar rencana itu lusa lalu!
Aku menatapnya bingung. "Maksud lo... gue udah tau...??"
Namun, bukannya menjawab Bian malah menghela napasnya panjang. Lalu melirik jam di tangannya sekilas. "Setengah jam lagi gue masuk." Dia menatapku lagi. "Udah kan, nggak ada yang mau dibicarakan lagi? Kalau gitu udah ya, gue pamit!"
"Tunggu!!" Seruku menghentikannya saat barus saja dia hendak memundurkan kursinya.
"Apa lagi??" Tanyanya mulai jengah.
"Lo... lo benaran serius nggak mau gagalin rencana pernikahan itu? Lo yakin? Asal lo ingat, gue ini musuh lo! Orang yang lo benci!! Tapi lo masih mau nikah sama gue??!" Mataku mendelik lebar. "Serius?? Lo nggak nyesal?!"
Untuk beberapa saat dia menatapku datar. Lalu berkata, "Gue nggak pernah benci lo."
Aku langsung terdiam di tempat. Menatapnya lurus-lurus. Mencari-cari kebohongan dari sepasang mata hazelnya, namun yang kudapat malah sebaliknya.
Dan, itu membuatku tak bisa berkata apa pun lagi kecuali hanya duduk terdiam. Membisu.
"Biar gue tegasin sekali lagi. Gue nggak mau ikut campur. Dan lebih baik lo pertimbangkan rencana lo ini. Karena ini menyangkut banyak pihak, kalau lo benar mau gagalin pernikahan ini, jelas lo bakal menyakiti semuanya!" Tegasnya. "Terlebih itu orang tua." Imbuhnya lagi. Membuatku makin berpikir keras.
"Lagi pula, gue pun nggak merasa beban kok nikah sama lo." Tiba-tiba dia berucap demikian. Hingga kepalaku yang tadinya tertunduk lesu jadi kembali tegak untuk menatapnya.
"Ha??" Aku tak paham maksudnya. Mendadak dalam hatiku muncul keresahan. Gundah. Dia itu... bukan seperti yang lagi kupikirkan, kan?!
Bian tersenyum miring. Senyum yang bahkan pernah aku akui bahwa senyuman itu adalah senyum yang paling menyebalkan seantero semesta raya ini!
"Kalau gue nikah sama lo kayaknya gue bakal awet muda nih,"
__ADS_1
Kernyitan di dahiku pun makin dalam. "Kok bisa?"
"Ya bisa lah! Kan setiap hari dihibur terus sama lo..." dia tersenyum manis dengan alis yang naik turun. "Iya, nggak?"
Manusia ini...! Geramku dalam hati.
Mendadak menyesal tadi aku sempat berpikir macam-macam.
Astaga! Rere ingat, Fabian nggak mungkin pernah suka kamu! Sungguh, aku mengutuk diriku sendiri karena telah punya firasat aneh seperti itu!
Aku mendengus keras, menatapnya penuh kesal. Dalam hati sudah memaki-maki namanya setelah memaki diriku sendiri tadi di awal. Menafsirkan kalau dia adalah bentuk nyata dari lelaki yang paling menyebalkan di muka bumi!
"Gue bukan pelawak!" Kataku kesal.
"Tapi kelucuan lo melebihi pelawak," dia tersenyum.
"Makasih." Ucapnya sembari tersenyum.
"Itu bukan pujian kali!"
Bukannya marah atau kesal, Bian malah tertawa kecil. "Tiap makian dari lo udah gue anggap pujian kok. Selalu. Jadi lo nggak perlu khawatir gue bakal sakit hati. Oke?"
Aku sampai meringis, tak habis pikir akan responnya. Sumpah, aku merasa kalau dia sudah benar-benar gila sekarang!
"Udah lah, sekarang lo nggak usah pikir macam-macam. Belajar aja yang benar!"
"Ha? Belajar??" Lagi-lagi aku kebingungan karena ucapannya.
__ADS_1
"Belajar saling mencintai sama gue." Lalu, dia terbahak-bahak sampai wajahnya memerah.
Sementara itu aku memandangnya aneh sekaligus bergidik ngeri sendiri. Lihat! Bulu kudukku saja langsung meremang, saking horor ucapannya itu!
Aku geleng-geleng. "Gue rasa lo benaran udah gila," gumamku ngeri. Bukannya menyanggah, dia malah tersenyum.
"Sekarang mau ngomong apaan lagi? Udah, kan? Gue belum sholat nih," Bian melirik sekilas jam di tangannya, lalu kembali menatapku tak sabar.
Aku terdiam dan hanya menatapnya. Entah kenapa pikiranku jadi buntu sekarang.
Tiba-tiba dia manggut-manggut. "Bagus," dan senyum menyebalkannya itu pun tercipta, lagi. "Oke, kalau gitu gue duluan ya! Mau kerja dulu nih demi dua piring nasi di masa depan."
Mataku sampai mengernyit aneh sendiri kala mendengar apa yang dikatakannya barusan. Dua piring nasi di masa depan?? Hah! Aku sungguh ingin tertawa sarkas untuknya!
"Hei, pokoknya jangan hubungin gue lagi kalo bukan masalah penting! Gue sibuk. Oke?!" Katanya mulai berlagak.
"Duluan!"
___________________
P.S :
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI
__ADS_1