
Aku mendengus dalam hati. Bian yang masih diam saja sungguh jadi PR bagiku. Aku harus cari ide untuk membuatnya merespon!
"Bi, ayo, Aaa..." kini, aku dengan inisiatifnya menyuapinya kentang goreng yang piringnya berada di hadapanku persis. "Ayo, aaa.... yang lebih lebar dong! Jangan irit-irit gitu,"
Lalu, Bian pun menuruti segala ucapanku. Hingga terbitlah sorak-sorai riuh rendah dengan kata, "Ciye..." pada kami berdua.
Aku tersenyum penuh arti. Sedangkan Bian malah memandangiku tanpa ekspresi kala mengunyah kentang goreng yang baru kusuapi tadi. Ekspresinya yang tampak janggal di mataku, membuatku menatapnya serius. Akhirnya kami saling bertatapan untuk beberapa saat sampai dia memalingkan wajahnya dariku.
Tatapan mata itu. Entah kenapa aku... terluka melihatnya.
Bian sudah bersikap wajar seperti yang kuharapkan. Anehnya kini malah aku yang bersikap aneh. Setelah melihat tatapan itu, telapak tanganku tiba-tiba mengalami tremor. Bergetar sendiri tanpa kumengerti sebabnya, jantungku ikut-ikut berdenyut nyeri. Bahkan untuk menahan semua itu aku sampai meremas rokku erat-erat.
Aku nggak tahu pasti mengapa. Tapi aku yakin, memang ada yang salah dengan diriku. Terlebih hatiku yang mendadak merasa sakit hanya karena melihat tatapan Bian yang terlihat perih.
Atau... mungkin hanya aku yang terlalu sensitif.
***
Acara lusa lalu berakhir sukses. Terbukti, karena hampir seluruh kerabat antara keluargaku dan keluarga Bian kini sudah saling mengenal. Bahkan yang kutahu kini di antara sepupuku dan sepupu Bian beberapa dari mereka sudah saling mengikuti di sosial media.
Aku tersenyum tipis. Lagi-lagi membayangkan betapa harmoninya dua keluarga besar itu. Andai saja yang akan disatukan nanti bisa seharmoni itu...
Aku menggelengkan kepala. Jengah terhadap pikiranku yang melantur. Mengharapkan aku dan Bian bisa akur dan harmonis seperti ingin melihat ikan berjalan di darat. Mustahil!
__ADS_1
Aku berdecak. Lalu mengusap wajahku gusar. Bahkan hari ini sudah menjadi H-5 sebelum pernikahan itu terjadi. Dan kemudian, dalam sekejap mata aku dan musuhku malah menjadi pasangan lengkap dengan buku nikahnya. Ya Allah... nggak bisakah waktu berhenti saja atau aku yang kabur, gitu? Huhu.
Dalam sekejap, aku bangun dari tidur-tiduran malasku. Karena kepikiran pernikahan dan kehidupan setelahnya, aku jadi nggak fokus untuk menyelesaikan skripsiku!
Kini, aku sudah duduk dengan berselonjor kaki di atas ranjang. Mataku mengerjap menatap jendela balkon kamar yang terbuka. Menyelaraskan pandangan mata agar bisa melihat objek lebih nyaman.
Beberapa saat aku hanya diam terpaku di atas tempat tidur. Sampai kemudian dahiku mengernyit dalam. Mendadak tercetus sesuatu di dalam pikiranku. Ada kejanggalan yang baru terasa aneh saat dipikirkan baik-baik.
"Kok, nggak ada fitting baju pengantin sih??" Aku mengernyit. Bingung sekaligus heran.
Pasalnya sekarang ini sudah H-5 loh, H-5!
Entah kenapa aku merasa ada hal yang nggak benar. Untuk itu, dengan gerak cepat aku pun langsung beranjak dari kamar ini menuju ke lantai bawah di mana seharusnya semua anggota keluarga sedang berkumpul.
Malam hari di hari weekdays seperti hari ini tentu saja akan bermanfaat bila digunakan untuk bersantai apalagi bagi mereka yang sudah lelah bekerja sejak pagi sampai sore hari tadi.
Mungkin karena suara derap langkah kakiku atau karena Ibuku yang terlalu peka oleh keadaan, entah lah. Yang jelas sekarang Ibu tampak menoleh untukku yang sedang berdiri di ambang akses masuk ruangan yang nggak berpintu ini.
"Eh, Re, kirain kamu udah tidur, Dek?" Dan semua pasang-pasang mata yang semula terlalu fokus menatap layar kaca di depannya pun seketika menatapku.
"Nggak ngerjain skripsi, kamu?" Tanya Ayah.
"Ya Allah, Ayah, pliss... deh! Pertanyaannya kenapa gitu sih? Nggak kasihan yaa sama si bungsu yang udah mumet mikirin skripsinya tiap hari ditambah pernikaham yang tinggal bentar lagi?!" Ujar Mbak Citra menimpali. Kakakku ini sedang berpihak padaku ternyata. "Sini, sini, Re! Duduk di samping Mbak!" Mbak Citra pun menepuk-nepuk tempat di sebelahnya yang kosong.
__ADS_1
"Atau mau di tempat Mas Aji aja nih?" Tawar Mas Aji yang ternyata sangat mengerti kalau aku lebih suka duduk yang berada dekat dinding.
Aku menggeleng yang lantas menciptakan kernyitan dahi atau pun tatapan heran untukku. "Makasih ya semuanya. Tapi Rere ke sini bukan mau ikutan nonton tivi kok. Rere ke sini cuman mau tanya sesuatu," ungkapku tegas.
"Oh, tanya apa sih? Muka kamu kok serius banget begitu??" Tanya Ibu. Yang diangguki oleh Ayah juga Mbak Citra. Sedangkan Mas Aji hanya terdiam di tempatnya dan ikut menatapku.
"Soal pernikahan...."
"Iya," mereka mengangguk hampir serentak.
"Kenapa?" Tanya Ayah.
"Kan harinya kurang 5 hari lagi, kan..."
"Terus??" Ayah lagi-lagi memotong ucapanku yang belum selesai. Ayahku memang suka gitu kok, jangan heran!
"Kenapa nggak ada fitting baju pengantin?" tanyaku yang kemudian membuat keadaan hening.
______________________
P.S :
__ADS_1
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI