Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 4.6


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Regita Pertiwi binti Anas Ilham dengan maskawin tersebut... dibayar tunai!"


Aku meneguk ludah. Suara itu, kalimat itu sudah terucap rupanya. Dan aku dapat mendengarnya amat jelas. Fabian telah mempertaruhkan kalimat ijab itu untukku. Benar....


"SAHHH... ALHAMDULILLAAH,"


Suara riuh rendah pengucap syukur itu diiringi dengan tawa bahagia di sana pun di dalam ruangan ini. Nadia tersenyum puas, dia lantas memelukku erat-erat. "Rere! Selamaaatt," ujarnya bahagia.


Aku tersenyum tipis yang lambat laun membalas pelukan Nadia dengan kaku. Bukan, bukannya aku tak suka dengan pelukan Nadia. Aku hanya terkejut dengan takdirku ini.


Ternyata orang yang kuanggap sebagai musuhku benar-benar...


"Rere, ayo keluar! Udah ditunggu," Mbak Citra datang tiba-tiba dari balik pintu untuk menemuiku. Dia lantas menjemputku, menghelaku keluar ruangan ini dengan dibantu Nadia yang dengan sigapnya mengurus ekor gaunku yang menjuntai di belakang.


Begitu keluar dari ruangan rias itu, aku merasakan bahwa semua mata sedang tertuju padaku saat ini. Oh, bukan ternyata. Karena ada satu orang terduduk tegap memunggungiku dengan balutan jas putihnya di depan sana.


"Pengantin pria... silahkan jemput lah pengantin wanitanya," seru penghulu itu padanya. Namun dia masih kaku dan tetap dalam posisi duduknya yang seperti itu.


"Pengantin pria..." panggil sang penghulu sekali lagi seolah menberikan peringatan padanya. "Pengantin pria," sampai ke panggilan ketiga dia tetap bergeming di tempatnya.


Aku mengerut kening. Jujur, aku tak senang. Bahkan baru usai ijab qobul saja dia seolah sudah menolakku mentah-mentah.

__ADS_1


"Pengantin..."


Dia berdiri tiba-tiba, masih dalam posisi memunggungiku yang memang sedang berdiri di belakangnya. Beberapa detik kemudian, punggungnya naik dan turun seakan dia baru saja menghela napasnya dalam-dalam.


Aku menyipitkan mata, memicing tajam padanya. Kenapa dia harus begitu sih?!


Lalu, sedetik kemudian dia membalikkan tubuhnya dan lekas menyambutku dengan senyumnya yang setipis kertas.


Aku memerhatikan dirinya. Wajahnya datar seperti biasa. Mendekatkan diri padaku, lalu memberikan sebelah tangannya untuk aku cium untuk pertama kalinya. Aku menurut, karena memang begitu lah seharusnya prosesi ini berlangsung.


Aku merasa semua sudah dapat kami lalui dengan baik sampai akhirnya pembawa acara yang iseng membuatku mati kutu seketika.


"BETUUULL..." semua orang pun mendukungnya.


Aku langsung bergerak gelisah. Kupandang Fabian yang sepertinya hendak mengambil sikap menuruti apa yang dipinta. Di saat Bian makin bergerak mendekat, aku melotot padanya. Seolah-olah memberikan peringatan keras untuknya tak melakukan hal itu.


Namun, senyum miringnya makin membuatku ketakutan. Aku menggeleng pelan, menyiratkan permohonan padanya. Tapi dia tetap tak menghiraukanku dan tetap mendekat.


Ingin rasanya aku mendorongnya sampai terjungkal, namun tatapan semua orang membuatku tak dapat melakukan itu. Apa jadinya jika pengantin wanita yang mendorong pengantin prianya saat ia hendak dicium? Akh, tidak!!


Mau tak mau aku memejamkan mataku. Berharap hal itu segera berlalu meski harus menahan malu setengah mati. Astagaaa...

__ADS_1


"Setelah ini nggak ada lagi kata lo-gue di antara kita, oke? Kalau sampai itu dilanggar... aku punya hadiah yang sangaaat besar buat kamu." Bisiknya di telinga lengkap dengan penekanan, hingga membuatku membuka mataku dalam sekejap.


Aku menoleh padanya, ingin melihat ekspresinya saat mengatakan ultimatum itu padaku. Lagi-lagi dia tersenyum miring yang membuatku bergidik. Ngeri!


Suaraku rasanya sudah berada di ujung kerongkongan, hanya tinggal aku ucapkan saat itu juga. Namun semua tertahan karenanya!


Cup. Dia mengecupku tepat di pipi kananku secepat kilat, sampai aku tak bisa mengambil sikap untuk melindungi diriku sendiri. Lalu, dia tersenyum. Senyuman yang kurasa sedang mengejekku sekarang!


"Segitu dulu ya, yang lebih-lebihnya nanti malam aja. Kamu nggak mau kan, jadi tontonan gratis di sini?!" Ujarnya santai. Membuatku termakan emosi hingga mengetatkan kepalan tanganku dengan kencang karenanya.


Dia sedang menggodaku. Dia sedang mempermainkanku. Benar, aku tahu betul itu!


Fabian... sekalinya musuh, memang benarlah musuh. Nahasnya musuh ini malah menjadi jodohku!


Sungguh, betapa ironisnya takdir ini.



......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...

__ADS_1


__ADS_2