
Satu hari pun berlalu.
Acara yang sempat membuat orang-orang sibuk ke sana-ke mari, atau melakukan hal ini dan juga hal itu akhirnya dapat berjalan baik pun berakhir dengan sukses.
Semua orang bersorak gembira. Para sanak saudara dan keluarga berkumpul di rumah ini bersama-sama guna menyambut upacara pernikahan yang akan terjadi esok pagi.
Aku hanya mampu tersenyum saat beberapa saudara mendekati untuk mengajakku bicara mengenai hal yang tak pernah aku pikirkan selama ini, yakni; malam pertama pernikahan!
Dan mungkin juga menjadi hal terakhir yang kupikirkan karena sepertinya itu tak akan terjadi di antara aku dengan Bian!!
Mereka yang duduk di sekelilingku masih tertawa-tawa, menggoda. Menyentilku dengan kalimat-kalimat yang membuatku meringis bingung bagaimana untukku menanggapinya. Aku pun hanya bisa meringis sekali lagi.
"Re, nanti malam pertamanya di hotel aja. Habis nikahan selesai, cuss... langsung aja kalian check-in hotel ya!" Seru Tante Rima, adik bungsu Ibu yang baru saja melahirkan anak ketiganya sebulan lalu.
"Nah, iya! Betul banget itu, Mbak... pokoknya kalian nggak usah pulang ke rumah. Habis resepsi selesai, mobil pengantin harus belok ke hotel! Kan, enak yaa kalau di hotel jadi nggak ada yang ganggu! Hihihi," Kania terkikik sendiri. Sepupuku yang belum menikah ini sungguh sok tahu sekali ya! Ck.
"Tapi, Tant, kalau malam pertama gitu kayaknya oke juga kalau di homestay deh. Iya, nggak, sih, Tant??" Tanya Kania pada Tante Rima yang malah tertawa-tawa saja tanpa jawaban.
__ADS_1
"Heh! Kania!!" Tiba-tiba Mbak Citra ikut duduk di antara kami bertiga. Dia lantas mengambil alih tempat kosong di sebelahku. Duduk dengan nyaman memeluk bantal sofa yang tadi berada di belakangnya.
"Kayaknya, kamu harus cepet-cepet cari suami deh! Kekepoan kamu tuh udah parah banget tau!" Ucap Mbak Citra yang membuatku ingin terbahak menertawai Kania.
Haha, suruh siapa dia sok tahu!
"Emang rencananya tahun depan kok Kania mau nyusul Mbak Rere, yeee..." balas Kania agak sewot. Yang kontan membuatku membulatkan mata, terkesiap.
Jujur saja, aku nggak tahu kalau sepupuku yang satu ini berniat nikah muda. Padahal usianya baru menginjak 20 minggu lalu.
"Lah, nyusul?? Nyusul sama siapa??" Mata Mbak Citra memicing. "Emangnya calon udah ada???" Dan, Kania langsung manyun seketika.
"Kenapa sih, Mbak Citra kalau ngeledek Kania seneng banget!" Keluhnya dengan wajah bersedih.
"Bukannya gitu, Kan, abisnya kamu kayak tau-tauan aja... homestay, homestay segala lah!" Seloroh Mbak Citra yang membuatku tertawa kecil.
"Tapi Kania nggak salah, kan?? Kan, biasanya kalau pasangan habis nikah maunya punya tempat privasi biar bisa saling mengenal lebih dalam satu sama lain gitu, kan, Mbak...." jawab Kania yang masih nggak mau kalah dari Mbak Citra.
__ADS_1
"Wahhh," Mbak Citra ternganga, sedangkan Tante Rima tampak menaikkan alisnya tinggi selagi menatap Kania. Dua ekspresi yang menunjukkan wajah terkejut juga kagum secara bersamaan, dan hal itu membuatku mengernyit tak mengerti.
Tiba-tiba, Mbak Citra menoleh kepadaku. Dia lantas menepuk pundakku. "Re... kayaknya kamu harus banyak belajar sama Kania deh! Ilmu dia lebih matang daripada kamu, tuh!"
Wajah Kania lantas merona seketika. Dia tersenyum lebar saking senangnya dipuji oleh Mbak Citra. Sedang aku jadi tersenyum geli melihat tingkahnya.
Mereka lantas kembali melanjutkan obrolan itu bersama. Terdengar canda dan haha-hihi yang makin membuat seru suasana. Sekali lagi aku hanya mampu memasang senyum tipis sebagai sedikit tanggapan dariku yang pikirannya malah berkelana jauh.
Dalam diamku sembari menatap wajah-wajah mereka, aku memikirkan hal itu lagi dalam benakku.
Obrolanku dengan Bian tempo hari lalu.
...
...________......
__ADS_1
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...