Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 2.3


__ADS_3

Aku tiba di rumah tepat pukul tiga sore, tadi. Setelah mengorbankan diri dengan naik beragam transportasi umum dari mulai mobil angkutan kota sampai bus kopaja. Merelakan diriku sendiri kepanasan terpapar teriknya sinar matahari kota Jakarta yang amat menyengat, bahkan rela membuat wajahku yang tadinya cerah mendadak kusam seketika karena terkontaminasi oleh polutan udara yang mengepul pekat.


Tapi yang kudapatkan setelah mengorbankan segalanya?! Aku hanya mendapat hasil nihil, alias tidak membuahkan hasil sama sekali!!


Aku menghela napas panjang, lelah. Merasa kalau perjuanganku hari ini yang begitu susah payah hanyalah kesia-siaan belaka!


Meski sebetulnya niat awalku keluar rumah adalah ingin berburu buku sebagai bahan referensi skripsi di perpustakaan kampus, namun akhirnya hanya bisa menjadi wacana karena aku malah membuat janji dadakan dengan Bian dengan niat akan pergi ke perpustakaan kampus setelah janji temu itu selesai.


Tapi karena mood-ku seketika anjlok setelah pertemuan itu di Coffee Shop tadi, akhirnya aku mengurungkan niatku mencari bahan skripsi dan malah kembali pulang. Semua itu karena pikiranku yang telah terfokuskan hanya pada pembatalan pernikahan, memikirkan rencana alternatif yang bisa kulakukan agar pernikahan itu tak akan bisa terwujud!


Hah, aku harus apa lagi sekarang?! Aku menghela napas keras, sekali lagi. Nyaris frustasi.


Sekeluarnya dari kamar mandi usai membersihkan diri dari debu juga polusi jalanan dan tak lupa mengganti pakaian, sambil mengusap-usap rambutku yang basah dengan handuk rajut kesayangan, aku melirik jam di dinding kamar. Sekarang, sudah pukul empat sore rupanya. Tak terasa aku menghabiskan waktu satu jam sendiri hanya untuk bersih-bersih diri. Lama juga! Ck.


Aku duduk di depan meja rias. Pandanganku menatap cermin seraya aku mengeringkan rambut dengan Hairdryer. Lama. Aku berpikir keras. Lalu, mencuat lah beragam ide dalam otak.


Sebenarnya, sudah banyak ide yang telah kupikirkan. Namun bila menganalisis sebab-akibatnya dengan logika, ide itu tentu tak akan menjadi yang terbaik. Terlalu riskan!


Setelah memastikan rambutku sudah tak basah lagi, aku pun menyisir dan menguncir rambutku asal. Kemudian, kuputuskan untuk keluar dari kamar menuju dapur tempat di mana Mbak Citra biasanya berada saat sore begini.

__ADS_1


Baiklah, sudah kuputuskan, agar memikirkan rencana itu lagi nanti agar lebih matang. Ya, betul. Karena memang banyak yang harus dipertimbangkan, termasuk omongan Bian di Coffee Shop tadi. Dan sebagai bahan pertimbangan yang lain, aku harus bicarakan hal ini pada Kakakku itu lebih dulu sebelum akhirnya kukatakan hal itu pada kedua orang tuaku pun orang tua Bian kemudian.


Aku berjalan lurus mendekati pantry. Tersenyum, saat kudapati Kakak Sulungku itu benar-benar ada di sana. Dia sedang asyik memasak yang entah apa. Yang jelas, dia memasak sesuatu untuk makan malam keluarga kami nanti.


"Masak apa, Mbak?" Sapaku sambil menyesuaikan diri, berdiri di sisinya di depan keran menyala deras dan wastafel aluminium yang tampak rusuh dengan sampah sayur dan gerabah di mana-mana.


Mbak Citra yang menoleh pun tersenyum sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya yang saat ini emang sedang membersihkan potongan ayam. "Mau masak Ayam Rica-rica nih. Kesukaan kamu,"


Aku yang berdiri tepat di sampingnya, manggut-manggut sambil terus memperhatikannya yang sungguh telaten membersihkan kulit ayam yang sekiranya masih ada bulu-bulu halus yang tertinggal.


Sebagai pribadi yang lebih memilih menjadi Ibu Rumah Tangga alih-alih mengikuti jejak Ibu kami yang berprofesi sebagai wanita karir, Mbak Citra emang sangat ahli mengurus hal berbau rumah tangga. Mungkin karena Mbak Citra anak pertama yang juga seorang Kakak dengan kedua orang tua yang bekerja, membuatnya bisa menjadi semandiri itu. Apalagi memang waktu kecil, kami hanya tinggal bersama Kakung dan Uti, tentunya Mbak Citra lebih berusaha mengurusku ketimbang makin merepotkan Kakung dan Uti.


Seketika itu Mbak Citra menoleh ke arahku dan tersenyum. "Kamu mau bantu?" Aku mengangguk.


"Beneran??" Tanyanya sekali lagi, memastikan. Aku mengangguk lagi.


"Boleh deh, itung-itung latihan sebelum kamu jadi istri ya, Re." Selorohnya sembari tertawa kecil. "Kamu potongin daun bawang itu gih, Re. Mbak mau bikin mendoan,"


Aku pun mulai mengerjakan apa yang diserukannya. Mengiris daun dawang yang memang sudah disediakan di atas papan talenan. Masih basah, bekas dicuci.

__ADS_1


"Jangan tebel-tebel, Re!"


"Iya, Mbak. Nggak kok." Aku mengangguk, dan melanjutkan pekerjaanku. Mengiris-iris daun bawang yang sumpah demi apapun berhasil sukses membuat mataku berair dalam sekejap.


"Mendoannya kamu aja deh yang bikin. Ya, Re?"


"Ha?" Mataku membulat. Agak keberatan menerima lemparan pekerjaan ini, pasalnya niat awalku membantu bukanlah ketulusan melainkan basa-basi semata. Aih, lalu aku harus bagaimana nih?!


"Katanya, si Bian kan suka banget sama mendoan, loh, Re, makanya kamu harus ahli nih bikinnya biar nanti bisa nyenengin Bian pakai masakan kamu." Ujar Mbak Citra, yang membuatku mendengus jengah.


Padahal kami pun belum tentu menikah...



___________________


P.S :


Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI

__ADS_1


sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI


__ADS_2