
Aku tak habis-habis memandanginya dengan tatapan tajam karena dia masih menutup rapat mulutnya untuk memberikan alasan kenapa dia bisa berada di sana. Akses rahasiaku. Pintu belakang rumah!
Pintu belakang rumahku adalah bagian tersembunyi dari tempat terpenci area rumahkul, jadi sangat mustahil baginya kalau bisa tahu tempat itu tanpa pernah diberitahukan oleh orang lain sebelumnya!
"Jadi... dari siapa lo bisa tahu tempat itu?? Itu tempat rahasia gue loh. Lo nggak mungkin seberuntung itu buat asal nemu!" Kataku sembari menyipitkan mata tajam. Menatapnya dari samping yang sedang memfokuskan diri, menyetir.
Dia masih diam. Tetap bergeming dengan posisinya itu. Mengabaikan suaraku layaknya angin lalu.
Aku menyipitkan mata kesal. "Lo nggak mau bicara nih?? Nggak mau kasih tahu lo tau tempat itu dari siapa?!!"
Kali ini dia menoleh ke arahku. Menatapku dengan wajahnya yang datar sebelum akhirnya kembali menatap jalanan di depan. Aku bercih jengah, dalam hati aku berteriak kesal. Memangnya siapa sih yang mau diabaikan? Huh!!
"Jangan bilang... lo tahu dari Mbak Citra ya??" Tebakku. Tetap nggak menyerah.
"Ha??" Dia menoleh ke arahku lagi. Tampak terkejut dengan tebakanku ini. Matanya melebar lengkap dengan alis yang naik tinggi ke atas.
Aku mendengus. Sudah kuduga. Pasti memang tebakanku benar!
"Ternyata iya, ya?" Aku menatapnya tajam. "Ekspresi lo sudah menyiratkan segalanya." Kataku. Lalu aku membuang wajahku darinya.
Aku sudah cukup puas dengan itu. Setidaknya rasa penasaranku sudah terbayarkan. Dan, lagi-lagi Mbak Citra. Sepertinya setelah pulang nanti aku harus bicara empat mata dengannya. Titik!
__ADS_1
"Bukan Mbak Citra yang kasih tahu. Tapi lo sendiri," suaranya tiba-tiba. Membuat kepalaku terputar otomatis ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Maksudnya?!" Aku nggak mengerti apa yang baru saja dia katakan. Omong kosong dari mana itu!
Terdengar, Bian menghela napas panjang. Lalu dengan sigapnya dia memutar setir ke kiri.
"Holy's Cafe. Nggak masalah, kan?" Tanyanya.
"Take away aja. Gue mau bicara di taman, jangan di Cafe. Apalagi ini masih daerah rumah gue." Jawabku cepat mengerti maksudnya.
"Oke." Balasnya lagi tanpa banyak sanggahan.
"Lanjutin obrolan kita tadi." Aku masih nggak bisa melepaskan pernyataannya yang tadi itu. Aku masih ingin tahu, kenapa bisa jadi malah aku yang memberitahunya? Mustahil!!
"Lo aja yang lupa." Ujarnya.
Aku menyipitkan mata. "Yang mana??"
Dia melirikku sesaat sebelum melihat ke depan kembali. "Lo harus inget dulu kalau lo mau tahu."
"Ih! Mana bisa begituu!!" Seruku kesal.
__ADS_1
"Itu keputusan gue." Dia menoleh padaku. "Nggak bisa diganggu gugat. Paham?" Lalu tersenyum miring. Yang membuatku terasa terbakar, murka seketika.
Aku kehabisan kata-kata. Bisa-bisanya dia berkata begitu. Padahal itu hanya omong kosongnya semata, aku tahu benar itu! Jelas, mana mungkin aku yang memberitahunya padahal kami tak pernah sedekat itu sampai rela memberitahu sebuah rahasia!
Tapi... melihat keyakinannya. Agak ragu juga kalau pernyataan itu adalah bohong. Fabian yang kutahu bukan tipikal manusia tong kosong yang hanya banyak bicara. Dia cukup meyakinkan. Namun aku tetap tak bisa percaya. Hal ini terasa ganjil untukku.
"Lo mau apa?" Tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh. Ternyata kami telah tiba di Drive Thru sebuah Kafe untuk transaksi take away. Terlalu banyak memikirkan kemungkinan hingga tanpa sadar membuatku jatuh dalam lamunan seorang diri. Ck!
"Samain aja." Jawabku singkat. Lagi pula, makanan atau minuman tak penting untukku saat ini. Karena yang kuperlukan hanya bicara empat mata dengan Fabian Samudra!
Tanpa mengangguk, dia pun memesan apa yang kusampaikan padanya. Dia memesan Peach Tea dan Croissant sebagai kudapannya, masing-masing dua. Aku diam saja. Namun dalam hati aku memuji seleranya. Karena nyatanya dua menu itu juga adalah kesukaanku. Hehe.
_____________________
P.S :
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
__ADS_1
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI