
"Mana bedaknya?" Tanyaku yang to the point tanpa menghiraukan ucapannya barusan.
"Nih," Bian mengangkat sesuatu dengan tangannya itu menghadap ke atas langit-langit. Aku tahu, itu adalah botol bedak tabur bayi yang biasanya Kania pakai.
"Duduk sini!" Dia mengedikkan dagunya ke arah lain. Tepatnya pada tempat kosong di sebelahnya itu.
Aku mengernyit. "Ngapain?"
"Kalau mau pakai bedak ini harus duduk di sini." Balasnya yang membuatku tak bisa berkata-kata. "Ayo, sini!" Serunya lagi, pantang menyerah.
"Kasih aku aja, sini... biar aku pakai sendiri," balasku yang amat enggan menuruti perintahnya.
Bian malah balik melotot padaku. Menunjukkan kuasanya bahwa perkataannya tak akan bisa dibantah!
Astaga... aku pikir setelah dia menyuarakan suara kekhawatirannya padaku tadi, dia akan lebih lembut dan murah hati padaku. Tapi pada kenyataannya malah sama saja! Ck.
Bian mengernyit. Mata elangnya menyipit tajam. "Ngapain malah diam di situ? Cepet duduk di sini! Atau mau aku gendong aja biar langsung sampai sini?!"
__ADS_1
Aku melotot. Kontan menolak mentah-mentah sarannya yang amat tak masuk akal itu! "Nggak! Makasih! Masih bisa jalan sendiri."
Bian tersenyum tipis seakan puas dengan reaksiku pada permainan katanya. Huh, harusnya aku tahu kalau dia memang hanya berniat menggodaku!
Aku berjalan dengan terpaksa tuk duduk di sisinya. Sedikit membuang mukaku ke arah lain demi tak langsung bertatapan dengannya.
"Hei, muter! Kamu ngapain malah hadap ke sini? Jangan-jangan mau tatapan terus sama aku ya?" Katanya menyeringai.
Aku berdecih. Menyesali keputusanku beberapa saat lalu. Lagian, kenapa aku bodoh banget sih, malah duduk begitu aja. Kenapa aku nggak peka?!Dia kan jadi meledekku!
Sungguh, kalau bisa aku mau mau kabur aja dari kamar ini. Dan, aku pun ingin langsung mengumpatnya yang telah menggodaku, membuatku malu sampai sebegininya sekarang juga, andai aku bisa. Nahasnya aku hanya mampu berkata, "Hih! Siapa juga!!" Lalu, langsung kubalikkan tubuhku membelakanginya seperti maksud dari perintahnya tadi.
Sial, sial... umpatku lebih untuk diriku sendiri yang sempat bodoh.
Aku masih berusaha memendam kekesalan hatiku sampai dia mulai meraih rambutku, lalu dengan lembut mengurainya satu per satu.
Mungkin sudah lebih dari lima belas menit dia hanya diam dan fokus pada rambutku juga bedak tabur itu, membuatku ikut terdiam dan menerima perlakukannya itu pada mahkota kepalaku. Sebenarnya, mulanya aku agak risih karena bantuannya, tetapi setelah melihat perlakuannya yang amat sabar dan telaten akhirnya membuatku berangsur-angsur merasakan kenyamanan.
__ADS_1
Aku pun tak tahu kalau ternyata Fabian bisa bersikap selembut ini padaku...
"Selesai!" Serunya setelah berhasil menyisir rambutku tanpa ada helai yang kusut lagi. Aku pun merasakannya.
Lantas, aku menghadapnya lagi. Dia sudah memasang senyum cerahnya itu entah untukku atau untuk keberhasilannya atas rambutku.
"Sekarang, kamu bilas lagi rambut kamu pakai air. Bilasnya di wastafel aja jangan pakai shower biar lebih gampang, juga biar baju kamu nggak basah. Oke? Baru habis itu kita lanjut sholat." Katanya memerintah.
Karena tak ada cara lagi selain menjalankan perintahnya, akhirnya aku pun mengingkari egoku. Lebih menerima kenyataan bahwa barusan aku telah dibantu oleh musuhku sendiri.
Jadi...
Apakah ini adalah awal cerita baru kami bermula?
......________......
__ADS_1
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...