
"Bukannya hal itu harus dilakukan ya buat calon pengantin, kok aku enggak??"
Lalu, situasi di ruangan ini pun mendadak hening. Ayah dan Ibu saling berpandangan. Sedangkan Mbak Citra menatapku dengan pandangan yang sulit aku mengerti. Begitu pula dengan Mas Aji yang air mukanya nggak jauh berbeda.
Aku mengerut kening. "Kenapa kok semuanya jadi pada diam sih?"
"AH!" Mbak Citra tiba-tiba menepuk tangannya keras hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di telinga. Lalu dilanjutkan oleh tawanya yang membahana. "Ha ha ha... oh, iya ya? Ya ampun, Bu, kenapa bisa kita kelupaan sama acara penting itu sih??"
"Eh, iya ya, Cit... Ibu juga lupa saking sibuknya ngurus printilan nikah ini itu sampai-sampai yang paling penting kelupaan!" Seru Ibu menimpali.
"Tuh, kan..." aku menghela napas panjang. "Kalau semuanya lupa gimana coba! Nanti aku pakai baju apa gitu pas nikah?" Rutukku.
Mbak Citra nyengir, tangannya mengusap tengkuk yang bebas dari rambutnya yang dicepol tinggi itu. "Maaf ya, Re... besok, deh, besok kita ke butiknya. Ya, kan, Bu?"
Ibu langsung mengangguk. "Iya, betul itu!"
"Sekalian nanti kita hubungi Bian sama Maminya biar bisa datang sekalian." Putus Mbak Citra yang langsung membuatku salah fokus.
Ketemu Bian lagi ya...??
__ADS_1
Aku menghela napas. Rasanya nggak ingin cepat hari esok. Karena aku sungguh malas bertemu dengan cowok itu.
Heuh!
***
Semua alasan kemalasanku bertemu dengannya berawal dari berakhirnya pesta pengenalan antar dua keluarga lusa lalu.
[...]
2 hari lalu, pesta pengenalan keluarga.
Tepat pukul 20.00 WIB, seorang Master of Ceremony yang sebetulnya berasal dari keluarga kami juga, menyuarakan kata pamitnya yang menyimpulkan berakhirnya acara.
Semua orang yang semula berkumpul dengan duduk rapih di dalam balik bangunan putih berbentuk persegi panjang ini pun segera meninggalkan tempat tanpa aturan. Terlebih itu para anak-anak kecil atau remaja yang sudah lari berhamburan keluar. Tentu saja, mereka pasti senang meninggalkan acara yang agak membosankan ini. Bahkan aku yang sudah 24 tahun saja merasa sangaaat bosan!
Mengabaikan para orang tua yang sepertinya masih betah mengobrol di tempat mereka meski acara sudah usai pun, aku lantas beranjak menuju pintu keluar menyusul di mana anak-anak tadi pergi.
Namun baru saja satu langkah kakiku ini keluar pintu, sebuah suara menahanku dari arah belakang.
__ADS_1
"Rere!"
Aku terdiam di tempat, lantas segera menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Suara yang begitu familiar didengar telinga. Suara baritone dengan serak yang khas itu... jelas aku sudah tahu siapa pemiliknya sejak awal.
Kini, kami saling berhadapan. Dia yang jauh lebih tinggi dariku membuat kepalaku harus sedikit mendongak hanya untuk menatap wajahnya.
"Kenapa?" Tanyaku tanpa minat. "Ada apa??" Tanyaku sekali lagi saat dia nggak kunjung juga bicara.
Dia menghela napasnya sejenak. Raut dan tatapan sedih seperti yang kulihat terakhir kali sudah tak nampak lagi di sana. Benar, sepertinya memang hanya aku saja yang terlalu sensitif sampai-sampai aku mengira Bian menatapku dengan pandangan kesedihan. Ck!
"Siapa yang suruh lo bohong?"
Aku mengernyit.
_____________________
P.S :
__ADS_1
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI