Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 4.8


__ADS_3

Aku tersenyum. Lalu, membalikkan badan dan kembali berjalan ke depan menuju panggung pelaminan itu berada.


Di sana masih ada sosok yang sama. Sembari memasang senyum yang paling lebar dia menyambut tamu yang memberinya salam selamat.


Langkahku berhenti sejenak. Selagi menatapnya dari posisi yang cukup jauh, aku menyusun kalimat yang hendak aku ucapankan sebagai alasan mengapa aku tinggalkan ia sendiri di sana tanpa pamit.


Iya, aku memang meninggalkannya tadi. Tepat di saat dia membalikkan badannya setelah berbicara akan mengambilkan minuman untukku. Karena aku merasa, saat itu adalah kesempatan yang tepat buat aku menemukan Mbak Citra di antara ramainya tamu.


Seketika aku membulatkan mataku lebar-lebar, tepat di saat tatapannya tertuju padaku dengan tepat nan sempurna. Dia menelengkan kepalanya sembari menatapku tajam seolah memanggilku untuk kembali menemaninya di sana segera.


Buru! Begitulah kata yang dia ucapkan dari gerak bibirnya itu.


Aku mendesah panjang. Resikoku yang meninggalkannya sendirian. Setelah ini aku pasti akan habis di tangannya. Ck!


***


Satu jam kembali berlalu, namun tanda-tanda diakhirinya acara ini belum juga terlihat.


Aku berdecak. Kakiku makin kebas rasanya. Entah harus berapa jam lagi aku berdiri di sini dengan hak tinggi seperti ini. Kalau bisa ingin kutinggalkan saja kaki ini sementara aku pergi istirahat di tempat lain!


"Kamu capek? Duduk aja gih,"


"Nggak pa-pa kok." Jawabku.

__ADS_1


"Acaranya masih dua jam lagi, selesai. Kalau capek nggak pa-pa, salamannya sambil duduk aja." Katanya lagi.


Sungguh, mendengar Fabian Samudra bersuara lembut ditambah dengan bahasa aku-kamu seperti ini padaku... terasa aneh dan sangat menganggu di telingaku!


Tuh, kan, aku bahkan sampai bergidik!


Astagaaa.... kenapa rasanya berat banget sih, menerima Bian menjadi suamiku??


"Nggak perlu khawatir.... baik-baik aja kok," balasku. Sengaja aku tak bicara kata itu, karena sebelum mengucapkannya saja aku sudah bergidik geli dan aneh duluan!


"Kalau capek harus bilang ya!" Dia kembali memasang senyum manisnya.


Bahkan setelah bertindak menyebalkan seusai akad tadi, sikapnya langsung berubah manis di depanku 360° dalam sekejap! Entah karena alasan apa. Yang jelas gelagatnya sungguh amat mencurigakan bagiku!


"Nggak perlu curiga... aku nggak akan minta imbalan apa-apa kok, selain menepati janji." Ucapnya tiba-tiba seolah langsung menjawab pertanyaan yang ada dalam benakku barusan .


Gila, apa dia ini bisa membaca isi hati orang lain ya??


Aku mendengus. Namun dalam hati aku merasa sedikit terharu karena ternyata Fabian bisa bersikap dewasa daripada yang aku bayangkan selama ini.


Bahkan, soal menepati janji itu pun dia langsung mengingatnya tanpa harus aku yang mengingatkan.


Ah, ya, ini soal janjinya waktu itu padaku. Janji yang ia ucapkan pada H-2 pernikahan ini. Janji yang menyatakan bahwa dirinya akan membuatku bahagia selama kami bersama. Hmm... apa iya, seorang Fabian bisa seperti itu? Aku jadi tak sabar!

__ADS_1


"Bro!"


Panggilan yang terdengar menyentak itu membuatku terkesiap, mataku langsung membulat dalam sekejap mencari sumber suara itu berasal.


"Woi!" Balas Bian, dan mereka langsung bertos ria ala anak muda seperti biasanya. "Kok lo baru datang sih? Udah jam berapa ini?? Bentar lagi mau kelar juga acaranya, ck!" Dia berdecak. Sementara lawan bicaranya malah tertawa haha-hihi sembari garuk-garuk kepala.


"Iya, sori-sori... gue ada pertemuan dadakan sama klien. Mendadak banget dari pagi padahal gue udah rapih niat mau dateng ke sini. Karena niatnya pengin lihat lo akad, huh..." balas cowok itu lagi, yang entahlah siapa namanya.


"Yah, okelah. Dimaklumi kok buat arsitek super sibuk!" Ujar Bian yang kemudian disusul dengan tawa mereka yang super renyah.


Sementara aku yang masih setia berada di samping mereka hanya mampu melihat interaksi mereka sembari tersenyum canggung. Pasalnya aku tak kenal siapa teman Fabian ini, maka itulah aku...


"Rere! Congrats ya!" Cowok ini menyapaku dengan tiba-tiba. Hingga aku yang belum siap ini jadi kikuk sendiri menanggapinya.


"Eh, iya... makasih." Aku mengangguk kaku. Dia tersenyum.


"Eh, elo masih ingat gue gak sih??" Tanyanya yang langsung membuatku mengernyit.


Siapa??



......________......

__ADS_1


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...


__ADS_2