
Kami bangun seperti yang seharusnya. Diam, tanpa sepatah kata pun menyapa. Tak ada hal yang spesial bahkan setelah Bian mengucapkan segalanya semalam.
Tunggu, sebetulnya dia yang memulainya duluan. Berdiam diri, tanpa satu patah kata. Dan aku hanya mengikuti cara mainnya saja.
Dia yang lebih dulu bersikap seolah-olah hal semalam adalah angin lalu yang mudah tuk dilupakan. Bahkan sejak matanya terbuka dia hanya sekali saja menegorku, yakni saat ingin membangunkanku tuk bersiap sholat shubuh. Setelah itu dia diam saja, sibuk dengan ponselnya atau kalau tidak, ya hanya pada layar televisi yang sedang menyala di depannya selayaknya saat ini. Mengabaikanku yang bahkan sedari tadi setia duduk di sebelahnya, yang lagi-lagi hanya bisa diam saja bak patung hidup!
Aku berdecih sebal dalam hati. Sebetulnya semalam itu dia mabuk atau apa sih? Kenapa hanya dalam semalam sikapnya bisa berbanding terbalik begini?!
Dan sekarang dia mau mengabaikanku seenak jempolnya itu apa? HAH! MENYEBALKAAAN!!! Amukku yang lagi-lagi hanya dalam hati. Ck!
"Hoi!"
Aku mengerjap, terperanjat dengan suara menggelegarnya yang barusan memanggilku tanpa ada embel-embel nama! Atau setidaknya nadanya lebih lembut sedikit kek!!
__ADS_1
"Yang lain udah pada ke bawah tuh, ambil sarapan. Mau ikut atau gak??" Tanyanya acuh tak acuh, tanpa mematap mata atau bahakan melirikku sedikit pun! Dia hanya berfokus pada layar ponselnya itu terus.
Aku mendengus. Melihat gelagatnya ini, aku pikir sekarang Fabian sudah benar-benar kembali pada tabiat aslinya ya?!
Akhirnya aku putuskan untuk tak memikirkan keanehan sikapnya itu lagi dan bertekad untuk membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Toh, makin dipikirkan hanya akan membuatku pusing. Jelas itu tak akan baik untuk keutuhan mood-ku, apalagi aku harus menjaganya selama berada di depan para orang tua nanti, tentu saja!
"Ya, ikut lah! Masa iya, gue di sini sendirian." Balasku yang sudah berdiri sempurna dari dudukku dan bersiap untuk berjalan keluar dari kamar ini segera. Namun, apa yang kudapati di depanku membuat diriku mengurungkan niatku seketika. Bahkan, kaki yang tadinya sudah melangkah ke depan pun seketika kembali lagi ke posisi semula begitu melihat tatapannya yang teramat tajam itu menghunusku!
Nyaliku seketika menciut, sungguh!
Ditatapnya sebegitu garang, membuat mataku mengerjap tanpa sadar.
"Ke-kenapa k-kok malah berhenti sih??" Ya ampuuun... apa aku saking takutnya kah sampai suaraku aja menjadi gagap begini?!!
__ADS_1
Tanpa menjawab langsung pertanyaanku barusan, Bian malah mendengus dan kemudian berbalik sempurna menghadapku. Aku mengerut kening, sementara dia makin menipiskan jarak.
Aku meneguk saliva saat jaraknya makin dekat dan makin dekat. Dan, ketika aku hendak mundur kedua tangannya kontan menahan pundakku hingga rasanya tubuhku terkunci, tak dapat bergerak lagi.
Hatiku berteriak mulai ketakutan, dan padahal sebetulnya mulutku pun ingin bersikap sama. Tetapi karena saking tegangnya suasana ini, akhirnya hanya napas yang tertahan di kerongkonganku.
Aku berusaha mengelak dengan kemungkinan negatif yang bisa saja dia lakukan, tapi sentakkannya yang kuat lagi-lagi membuatku mati kaku.
Dalam satu kali gerakan, dia langsung mendekatkan wajahnya itu ke arahku. Seketika itu jantungku melemah dan rasanya aku jadi ingin menangis. Dia... dia nggak beneran ingin menciumku, kan??
......________......
__ADS_1
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...