
Aku pun mulai menata cangkir-cangkir itu ke atas nampan berikut tatakannya yang terbuat dari keramik yang motifnya senada. Bunga-bunga.
"Yaudah, Mbak aku ke depan dulu ya..." pamitku dan segera melangkahkan kaki untuk menuju ruang tamu berada.
Dan, saat baru saja aku menginjakkan kakiku di ruangan itu aku langsung disuguhkan oleh pemandangan di mana dua orang pria setengah baya yang rambutnya campuran antara hitam dan putih itu sedang bicara serius yang entah apa.
"Diminum dulu, Om, Yah..." sapaku sembari menyajikan apa yang aku bawa di atas nampan dan kuletakkan ke atas meja tamu.
"Waduh, calon mantu Papi... seneng banget nih jadinya dibuatin teh sama dibawain kue sama calon mantu." Ujar Om Heri yang bikin aku meringis. Ngeri mendengarnya. Calon mantu? Mantu apanya!
Om Heri tertawa kecil padaku yang buatku mau tak mau harus ikut tertawa bersamanya. Meski pun harus terpaksa dan sungguh sangat terdengar garing di telinga. Bahkan oleh telingaku sendiri.
Manik mataku entah bagaimana memperhatikan raut wajah mereka satu per satu. Sebenarnya, saat melihat wajah penuh senyum Ayah dan Om Heri barusan, membuatku agak takut bicara terus terang tentang pikiranku ini ke mereka.
Bagaimana ya baiknya? Aku takut apa yang akan kusampaikan ini malah membuat mereka bersedih atau bahkan naik pitam. Tapi, untuk merelakan hidupku begitu saja ke genggaman tangan Bian tentu itu bukan pilihan yang tepat! Karena aku sungguh tak mau hidup kami akan sengsara selepas kami menikah nantinya.
Baik, ini demi kebaikan kami bersama. Kebaikan diriku, Bian, dan juga keluarga kami masing-masing! Aku meyakinkan diriku. Menganggap keputusan itu sudah benar-benar bulat. Tak bisa diganggu gugat!
Toh, bukannya setiap orang tua pasti mengharapkan hal terbaik buat anak-anaknya?
Aku yang tadinya sudah berdiri dan berbalik hendak pergi pun kembali membalikkan badan, lalu ikutan duduk di atas sofa yang emang kosong, di samping Ayah. Tampak Ayah dan Om Heri kebingungan melihat sikapku ini, namun aku berusaha untuk tak terpengaruh.
__ADS_1
Bagaimana pun pikiranku sudah bulat! Tekanku.
"Ayah, Om..." aku menatap Ayah dan Om Heri bergantian. Lalu dengan penuh hati-hati aku mulai bicara, "Soal pernikahan itu... boleh Rere bicara sebentar?"
***
Suasana di sini terasa lebih mencekam dibandingkan aku yang duduk di tengah-tengah kursi Bioskop yang menayangkan film horor. Jantungku tak habis-habisnya berdegup cepat. Tanganku bahkan gemetar dan mulai dingin.
Aku ingin ngakui soal perasaanku yang sebenarnya tentang pernikahan itu, namun malah rasa-rasanya seperti sedang jadi tersangka yang hendak didakwa di pengadilan!
Atmosfer di ruangan ini pun tak tahu mengapa rasanya jadi berubah dingin hingga membuatku nyaris menggigil saking paniknya aku ditatap oleh dua pasang mata yang dalam perasaanku sedang menatapku dengan teramat tajam.
Aku membasahkan bibir dan lantas menarik napas dalam, menghilangkan kegugupan.
"Kok tegang amat." Seloroh Om Heri. Wajahnya masih menatapku ramah dengan senyum tipis di bibirnya. "Kayaknya soal serius nih."
Dalam hati kubenarkan tebakkan Om Heri barusan. Betul, memang ini masalah serius. Super serius!!
"Kenapa calon mantuku? Ada apa? Mau langsung pisah rumah ya setelah nikah nanti?" Tebak Om Heri sembari tertawa kecil. Beliau memang masih berusaha menggodaku ternyata.
Aku tersenyum hambar. "Bukan, Om."
__ADS_1
"Bukan?" Om Heri mengernyit. Bingung. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali cerah lagi. "Oh, iya. Pasti kamu mau dikirim ke Maldives ya buat bulan madu? Iya kan?! Tenaang, Re, nanti biar Bian yang urus. Kamu tinggal terima beres aja ya,"
Maldives?? Aku tak peduli tempat itu seindah apa bila yang membawaku ke sana adalah Bian!
Aku menggeleng cepat. "Bukan, Om, bukan itu!"
Wajah bingung pun langsung meliputi kedua pria separuh baya di depanku ini.
"Terus, kalau gitu apa dong, Re?" Kali ini Ayah yang bertanya.
Inilah saatnya, Re! Aku teguhkan niatku dalam hati. Pokoknya semua itu harus aku bicarakan sekarang sebelum terlambat dan membuat semua menjadi runyam!
Baiklah. Se-ka-rang. A-yo, Re!
___________________
P.S :
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
__ADS_1
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI