
Air mataku tak habis-habisnya menetes. Tiada hentinya. Dengan duduk menunggu di depan ruangan beraroma obat-obatan ini selagi berharap dengan penuh cemas.
Aku tak berani masuk. Berharap seseorang keluar dari balik pintu itu dan memberitahukan aku tentang suatu kabar yang melegakan. Sungguh, aku sangat-sangat berharap.
Tanganku gemetar sedari tadi. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaan kalut masih meliputi. Rasa bersalah yang teramat besar langsung mengikuti. Aku takut!
Aku menangis sejadinya. Perasaan menyesal kembali menyergapku seketika. Sungguh, aku benar-benar menyesal dengan segenap keegoisanku. Daya pikirku yang terlalu sempit!
Andai... andai saja aku lebih mendengar Bian dan bisa berpikir jernih alih-alih mengedepankan egoku sendiri, hal tragis ini pasti tak akan pernah terjadi!
Lalu, sekarang, setelah melihat Om Heri terbaring di Rumah Sakit dengan nyawa yang terancam baru lah aku sadar dan baru merasa menyesal. Terlambat, Re, terlambat!
Merasa tak kuat lagi, aku langsung menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Menahan isak tangis yang penuh penyesalan ini agar nggak bisa kedengaran orang lain. Namun sepertinya tak mudah karena sedu sedan suara tangisku masih mampu terdengar oleh telingaku sendiri. Aku nyesel, Om... Rere, menyesal, Ayah. Rere benar-benar menyesal....
"Re,"
Panggilan itu langsung membuat kepalaku mendongak menatap seseorang yang tengah berdiri menjulang di hadapanku. Bian dengan wajah kerasnya memandang ke arahku.
__ADS_1
Aku mengerti. Bian pasti murka dengan aku yang baru saja telah mengancam jiwa Papinya. Dan aku tak akan protes sedikit pun tentang hal itu karena aku sudah amat sadar dengan posisiku di sini.
Bian adalah saksi mata selain Ayah. Karena dia datang tepat di saat Om Heri jatuh tak sadarkan diri. Aku tak tahu dia datang karena alasan apa, tapi kemungkinan itu karena dia ingin menjemput Papinya pulang selepas dia kerja. Begitu lah, boleh dibilang, dia melihat Papinya anfal tepat di depan mata kepalanya dan itu semua tersebab olehku. Beruntung, Mbak Citra langsung memanggil ambulance dan kami pun bisa membawa Om Heri ke Rumah Sakit dengan cepat dan tepat waktu.
"Ayo bicara." Kata Bian lagi, lalu dia berjalan lebih dulu menggiringku menuju ke arah luar lorong bangsal.
Aku mengikutinya dari belakang sambil sesekali mengusap mata atau pipiku yang basah. Aku kira dia akan berhenti tepat di pintu depan bangsal. Tapi ternyata aku salah.
Bian masih melanjutkan langkahnya sampai akhirnya kami tiba di sebuah lorong di mana terdapat sebuah vending machine yang memang tersedia beragam minuman dingin berbagai merk di sana.
Namun, tanpa ada niatan membantah, aku lantas duduk di atas kursi itu yang memang sedang sepi orang. Bian tak lantas ikut duduk bersamaku, dia malah mendekati vending machine itu dan mulai memasukkan uang untuk membeli minuman dingin yang tersedia di sana, entah apa.
Aku tak tahu apa niatnya membawaku duduk di tempat ini. Aku pun tak tahu wajahnya sudah semarah apa saat ini padaku. Karena sekarang aku tak lagi berani menatapnya. Aku takut, terlebih karena merasa bersalah terhadapnya. Terhadap Papinya lebih-lebih. Karena kenyataan memang aku yang bersalah!
"Minum dulu,"
Aku mendongak. Sebotol teh botol kemasan dingin disodorkannya padaku. Aku menatapnya. Dia kini sudah duduk di atas kursi berjeda satu di sebelahku. Iya, berjeda. Dia sedang menjaga jaraknya denganku. Mungkin itu adalah taktiknya agar dia bisa menahan amarahnya terhadapku sekarang.
__ADS_1
Aku meliriknya dari samping. Kini dia sedang menenggak kopi dalam kaleng dinginnya. Lagi, aku menunduk. Hatiku masih risau. Bahkan mendapat minuman darinya pun rasanya aku nggak pantas.
Kenapa...
Kenapa Bian tak langsung saja memaki-makiku? Memarahi aku?! Kenapa dia malah mengajakku ke tempat ini, duduk, bahkan membelikan aku minuman? Kenapa... kenapa dia bersikap baik seperti ini padaku??
Membuat rasa bersalahku makin tumbuh subur akibat sikapnya!
______________________
P.S :
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI
__ADS_1