
Aku berhasil kembali dengan selamat. Pukul 12 tepat Bian mengembalikanku di tempat semula di mana kami pertama kali bertemu hari ini.
Benar, tempat rahasiaku yang sepertinya tidak menjadi rahasia lagi, pintu halaman belakang rumahku berada! Lalu, setelah itu dia pun bergegas kembali ke kantornya mengingat jam makan siang sudah habis.
Tak ingin membuang waktu percuma, aku pun berderap cepat menuju letak kamarku berada. Masih dengan hati-hati. Bahkan aku sampai berusaha membuat suara langkah kakiku ini seperti melayang alias nggak bisa didengar oleh orang-orang yang ternyata memang sedang berkumpul di ruang makan dan sedang menikmati berbagai menu makan siang yang sudah tersedia rapih di atas meja persegi panjang di sana.
Dari sudut ke sudut aku berjalan. Hati-hati. Tetap hati-hati. Masih berupaya agar tak ada yang menyadari kehadiran diriku di sini. Sesaat aku tersenyum ketika berhasil tiba dan meletakkan kakiku di atas anak-anak tangga, akses satu-satunya untuk menuju lantai dua, lantai di mana kamarku berada. 78% mission will complete!
"Re...??"
Nahas. Ternyata sempurnanya misi ini hanya mampu jadi angan semata. Sialnya aku ketahuan. Aish!
Drap. Aku nggak jadi melangkah dan malah memutuskan untuk mengembalikan posisi kaki kananku untuk kembali berada pada pasangannya yang masih diam.
"Kamu dari mana??" Suara Mbak Citra mengalun merdu di telingaku dengan sangat jelas. Tap-tap-tap, suara telapak kakinya melangkah. Tanda dia sudah beranjak dan kini pasti berada persis di belakangku.
Mataku terpejam sekaligus menghela napas berat. Lalu, dengan amat berat hati aku menoleh ke belakang.
Dan, benar saja dugaanku. Mbak Citra memang sudah berada di dekatku, hanya terpaut dua anak tangga di bawahku!
Dia menatapku intens. Menyelidik dengan tatapan belati khasnya yang didukung oleh sepasang mata bulat tajam. Bahkan dibandingkan Ibu dan Ayahku, Mbak Citra ini terlalu kritis hingga tak mudah untuk dikelabui!
__ADS_1
"Kamu pergi keluar kan, iya kan, Re??" Selidik Mbak Citra tepat sasaran yang langsung kubenarkan dalam hati.
Aku tersenyum. Lalu mengangguk. Menutupinya pun percuma. Sudah kubilang bukan, Kakakku ini tak mudah untuk dikelabui.
Mbak Citra lantas memicingkan matanya, menatapku tajam. "Dari mana? Kapan keluarnya?? Kenapa nggak bilang-bilang??!"
Sederet pertanyaan itu langsung terlontar dari bibir tipisnya. Aku tersenyum saja kala mendengarnya. Untunglah aku sudah sangat mengenal Kakakku sendiri, andai tidak aku pasti langsung terjebak oleh segala pertanyaan kritisnya itu.
"Tenang Mbak, tenang..." aku tersenyum menenangkan. "Rere nggak ke mana-mana kok, tadi cuman keluar beli ini..." aku lantas menunjukkan sebungkus plastik putih yang memang sudah kupegang sejak tadi.
Mbak Citra mengernyit. Tangannya lantas terulur untuk menjangkau bungkusan plastik itu dari tanganku. Dia mengambilnya. Lalu menilik isi di dalamnya.
Aku tersenyum puas dalam hati saat wajah Mbak Citra sudah tampak lebih ramah dari sebelumnya. Sepertinya trik ini memang berhasil padanya.
"Kenapa nggak titip Mbak aja? Kan, Mbak juga sempat keluar tadi." Katanya setelah mengembalikan bungkusan plastik putih itu kembali padaku.
"Mbak kan, repot. Orang-orang rumah di sini juga pada repot. Cuman aku yang nggak ngapa-ngapain. Makanya, daripada tambah bikin repot mending aku jalan aja sendiri. Toh, mini marketnya juga nggak jauh, kan. Sekalian aku jalan-jalan Mbak. Bosen banget tau, di rumah terus dan nggak ngapa-ngapain!" Balasku. Yang langsung membuat Mbak Citra terdiam. Sepertinya alibiku ini berhasil yaa?? Hehe.
Sebetulnya, aku nggak berbohong sepenuhnya juga sih. Toh, kata "bosan" itu memang ada benarnya. Semenjak ritual pingitan ini diadakan, ditambah ponselku disita sementara, alhasil membuatku kebosanan setengah mati. Apalagi selama pingitan ini aku juga nggak boleh melakukan apa pun termasuk ikut urun tangan membantu mereka yang dengan alasan 'calon pengantin nggak boleh capek!'. Untung saja masih ada skripsiku yang masih setengah jalan menuju selesai. Jadilah, kebosananku ini agaknya bisa berkurang.
"Yaudah, balik kamar lagi gih. Inget! Kamu ini lagi dipingit. Lain kali kalau mau apa-apa bilang, biar Mbak yang belikan! Oke?!" Serunya yang langsung kuangguki.
__ADS_1
"Siap bos!" Jawabku sambil menunjukkan sikap hormat dengan meletakkan tangan di depan dahi.
Lalu, aku pun berbalik hendak pergi menuju kamar. Akhirnya, inspeksi ini pun selesai dengan mulus. Selamat... selamat...!
"Re, makan siang??" Suara Mbak Cita kembali menggema.
Berbeda dengan yang tadi. Karena perasaanku sudah lega, kali ini tanpa berhenti melangkah aku lantas menoleh sedikit ke arahnya. "Nanti aja, Mbak. Biar Rere aja yang ambil sendiri!" Balasku sebelum akhirnya menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.
Kemudian, aku terdiam. Berdiri menyender membelakangi daun pintu kamar ini. Melihat pemandangan kamarku yang cukup rapih tak lantas mengalihkan pikiranku dari pembicaraan yang terjadi di antara aku dan Bian tadi.
Aku mengerjapkan mata. Entah dia sedang salah makan atau tidak. Dia pasti hanya melantur!
Iya, benar, dia memang melantur! Kalau tidak, buat apa dia bicara seperti itu. Khususnya padaku, orang yang pernah dia benci. Musuhnya sendiri!
_____________________
P.S :
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
__ADS_1
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI