
Karena cekalannya itu, aku sudah tak bisa bergerak ke mana pun lagi. Aku pasrah. Mau tak mau aku pun hanya mampu memejamkan mataku rapat-rapat sambil berharap agar kejadian ini dapat segera berlalu. Embusan dari napasnya bahkan sudah terasa meniup wajahku. Tentu saja, sebentar lagi dia akan...
"Ada 3 konsekuensi yang kamu dapat setelah kamu langgar perjanjian kita pagi ini," bisiknya tepat di telingaku. Dan, saat itu pula mataku langsung terbuka lebar. Sekali lagi aku mengerjap.
Wajahnya kini sudah lebih menjauh dariku. Namun cekalannya pada bahuku dan jaraknya berdiri dariku masih sama seperti sebelumnya. Setidaknya, sekarang aku bisa lebih bernapas lega karena apa yang aku khawatirkan ternyata tidak terjadi! Haha.
Mataku mengerjap-ngerjap untuk beberapa sesaat. Kemudian ketika aku baru memahami apa yang dia katakan barusan. "Konsekuensi? Emang kapan aku melanggar??"
"Beberapa menit lalu. Setelah pertanyaanku yang tentang, kamu ikut ke bawah atau enggak, pas jam 8 tepat tadi." Jelasnya yang seketika membuatku menganga. Bisa-bisanya dia menyebutkan jam di penjelasannya itu!
Mataku mengerjap entah sudah berapa kalinya. Tanpa ada kata sanggahan, tampaknya aku sudah kehabisan kata-kata dibuatnya!
"Kenapa? Kamu mau mengelak lagi? Bilang, kalau aku cuman salah dengar aja? Iya?!" Alisnya terangkat naik satu ke atas. Dia menatapku sarkastik.
"Itu... itu kan, karena aku bicara tanpa sadar! Karena sikap kamu yang balik lagi ketus sama aku bikin suasana di sini jadi berubah. Makanya, akhirnya, aku nggak ngeh. Lupa sama perjanjian itu!" Balasku yang berupaya membuat alibi. Meski aku tak yakin juga dia akan menyelamatkanku kali ini.
"Oh, ya??"
"Iya!!" Aku langsung mengangguk tegas. Sambil dalam hati merapal doa agar dia mau mengiyakan alibiku.
"Karena kesalahan tadi ada andil kamu juga di dalamnya, maka nggak seharusnya konsekuensi itu tetap ada!"
__ADS_1
Dia lantas mengerut keningnya dalam. "Maksudnya?"
"Hapus konsekuensi itu, karena itu hanya bikin aku rugi sepihak!" Tegasku.
"Hapus konsekuensi... yang artinya, mengingkari perjanjian yang udah kita buat, gitu?"
"Ralat ya! Itu cuma perjanjian kamu sepihak, bukan kita!"
Tiba-tiba dia menyeringai. Seringaiannya sungguh tampak menyeramkan di mataku, sampai membuatku meringis kala melihatnya.
"Dengan kamu yang hanya diam aja tanpa ada kata sanggahan, itu sama artinya kalau kamu sudah setuju dengan perjanjian itu." Jelasnya yang membuat mulutku terbuka kaku.
"Jelas, itu sudah jadi perjanjian kita bukan perjanjian dari aku sepihak. Okay?"
"NOT OKAY!" Balasku cepat. Jelas aku tak terima!
"Mana ada perjanjian yang diucapkan mendadak dengan kalimat penekanan berunsur pemaksaan juga! Jelas itu nggak sah untuk disebut 'perjanjian kita' ya!!" aku nggak terima karena setelah dipikir aku merasa kalau aku sudah dibodoh-bodohi olehnya.
Sial, kenapa sadarnya nggak dari kemarin aja sih?! Kenapa malah baru sekarang?? Rutukku pada diriku sendiri.
"Saat aku mengucapkannya, itu nggak ada unsur pemaksaan sedikit pun. Kalau kamu merasa begitu artinya masalahnya hanya ada di kamu." Lagi-lagi dia terus menyalahkanku!
__ADS_1
"Padahal, ada banyak waktu untuk kamu menyanggah kalau emang kamu nggak setuju. Tapi kenapa baru sekarang dibahas, saat sudah ganti hari?" Dia menggelengkan kepalanya, jengah.
"Karena aku baru sadar, kalau aku udah dibodoh-bodohi!"
Dan, dia malah tertawa sarkas. "Kalau otak kamu yang lamban, itu bukan salah aku kan?"
Sial.
"Iya, iya, tau! Tapi nggak bisakah kita hapus konsekuensinya buat sekali ini aja. Aku pastikan, setelah ini aku akan mematuhi perjanjian itu dengan baik!" Tanpa segan aku melobinya. Berharap dia akan luluh dan menyetujuinya.
Tolong lah, Bian, sekali ini aja...
Fabian tersenyum simpul. "Maaf, perjanjian tetap lah perjanjian. Dan, aku nggak pernah biasa kasih kesempatan lebih dari sekali. Jadi... tolong terima lah dengan lapang dada kalau sekarang kamu sudah dapat 3 konsekuensi, oke?!" Dia mendengus. Lalu, tanpa tedeng aling-aling dia pun berbalik pergi meninggalkanku yang masih terpaku atas ulahnya barusan.
OH, NO! I AM REALLY IN TROUBLE!
......________......
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...
__ADS_1