
"Jadi... Udah cukup yaa perkenalannya." Putus Jendra tampak jengah dengan momen ini. "Langsung main aja gimana, kalau kelamaan entar nggak jadi lagi!"
"Iya, Kak, gue setuju!" Ujar Kania antusias.
"Baiklah," Jendra tersenyum simpul. Lalu dia meletakkan sebuah botol minuman yang terbuat dari beling itu di tengah-tengah meja. Posisi botol yang semula tegak lurus pun kini ia rebahkan. "Are you ready, guys...?"
Tangan kekarnya mulai membuat gerakan bersiap untuk memutar. "Mulai!"
Dan, botol itu pun berputar antusias.
Semua wajah itu berharap-harap cemas, mungkin mereka sambil berdoa agar tidak dipilih seperti halnya diriku yang perasaan khawatirnya mulai berubah jadi ketakutan.
Botol itu masih berputar dengan kecepatan yang terus menyusut.
Dengan menggigit bibir gemas sendirian, aku menatap botol berputar itu takut. Sambil berdoa terus agar bukan aku yang dipilih olehnya.
Kini detik-detik menakutkan itu kian mendekat. Botol itu sebentar lagi pasti akan menentukan arah corongnya berhenti.
Aku memejamkan mata, "ya Allah... Jauhkan hamba dari permainan konyol ini ya Allah... Tolong lah hamba-Mu ini...." rapal hatiku memohon.
Lalu, suara tawa yang pecah pun menyusul tepuk-tepukan tangan. "Ahahaha... Botolnya paham banget siapa bintang utama hari ini ya!" Ujar Jendra yang membuatku langsung membuka mataku seketika.
Mataku tanpa sadar mengikuti arahnya tertuju. Aku menoleh ke samping. Aku menganga kala melihat Bian dengan cengiran konyolnya itu menatap botol yang mengarah kepadanya. Malapetaka tertuju padanya tapi dia malah bahagia?
"Heh, nggak lo setting kan, ni?" Seloroh Bian pada Jendra yang diiringi dengan tawanya. Aku tahu maksudnya bercanda, tapi aku juga curiga dengan Jendra siapa tahu dia memang berbuat curang karena telah mengincar kami berdua sejak awal!
Jendra mendengus keras. "Mana ada! Emang gue tau gimana cara setting-nya biar ngarah ke lo?"
__ADS_1
"Siapa tau lo jampiin dulu nih botol biar ngarah terus ke gue, hahaha..." Balas Bian.
"Ngaco lo! Gue aja gak percaya dukun dan sebangsanya!" Sungut Jendra yang dibalas Bian dengan tawanya yang keras.
Aku menghela napas panjang sambil melirik Bian di samping. Ya, mungkin nasib Bian memang lagi sial saja...
"Ayo, langsung pertanyaan atau tantangannya dong!" Seru Kania yang tak sabar.
"Ya ampun, anak kecil ini gak sabar!" Decak Jendra.
Jendra kemudian melirik Bian. "So, lo mau pilih truth atau dare nih?"
"Truth lah! Ntar kalo dare kalian nyuruh yang aneh-aneh lagi!" Putus Bian secepat kilat.
"Jadi, siapa nih yang mau kasih pertanyaan duluan? Atau... Kita diskusi aja?" Tanya Davin yang mulai larut dalam permainan.
"Oke!" Putus Jendra yang langsung membuat ke empatnya membuat lingkaran kecil dengan rangkulan lengan mereka yang saling merangkul menjadi satu padu.
"Hei, masih ada orang lain lohh di sini!" Aku menunjuk diriku sendiri agar mereka sadar bahwa aku berhak ikut diskusi bersama mereka juga.
Kania tiba-tiba melirik ke arahku, "Mbak nggak masuk itungan, Mbak kan isterinya Mas Bian!" Ucapnya seenak jidat!
Aku misuh-misuh dalam hati. Jago sekali yaa akal bulus mereka membuat aku dan Bian terpojok bersama seperti ini?!
Aku lantas melirik Bian. Dia malah mengangkat bahu seenaknya. Hah, menyebalkan sekali!!
"Oke kita udah punya satu pertanyaan yang terbaik nih buat Mas Bian, hehe..." Davin cengengesan.
__ADS_1
"Pertanyaannya..." Gala melirik ke Davin, tampak tak yakin.
"Yaelah, Gal, takut amat, lo udah gede inget ey! Gapapa nanya yang nakal dikit mahh..." Seru Davin yang otaknya mulai nggak benar.
"Ciuman pertama kalian kapan dan di mana?" Tanya Jendra terus terang. Aku bahkan sampai menganga mendengar pertanyaan barusan. Astaga... Bisa-bisanya merekaaa!!
"Ah, pertanyaannya mudah banget!" Seloroh Bian. "Setelah ijab qobul di depan penghulu dan semua para tamu,"
Aku mendengus. Dia mengingatkan aku lagi dengan kejadian hari itu!
Jendra, Davin dan Kania berdecak nyaris bersamaan.
"Bukan itu, itu mah cium pipi. Ini maksudnya ciuman loh, kissing lips to lips!" Jendra berujar blak-blakan membuatku tanpa sadar menganga karenanya.
Gantian Bian yang kini berdecak. "Tadi, nggak ada penjelasan kayak gitu, ah! Karena gue udah jawab, gue gak mau jawab lagi! Salah sendiri kasih pertanyaan yang nggak jelas!!"
Aku mengempat tawa. Puas sekali rasanya mendengar kalimat itu dari Bian. Sambil melirik Bian, aku berkata dalam hati, "Bagus Bian!"
"Ahh, ini sih nggak seru banget!" Kania bersungut.
"Iya nih gak seru!" Davin menimpali.
"Ya salah sendiri, makanya lain kali harus lebih spesifik yaa pertanyaannya, adik-adik!" Bian tersenyum sarkas. Dan ketiganya langsung mencebik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...
__ADS_1