Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 2.4


__ADS_3

Diam-diam, selagi aku mengaduk adonan tepung bumbu mendoan di mangkuk, aku mencuri pandang pada Mbak Citra yang sedang sibuk menyiapkan bumbu-bumbu andalannya. Penuh pertimbangan, sebelum akhirnya aku putuskan untuk memanggilnya. "Mbak..."


Kontan, Mbak Citra menoleh padaku. Menatapku dengan seulas senyumnya. "Eung?"


Aku menggigit bagian dalam bibirku. Agak ragu mulanya, namun akhirnya kuputuskan untuk membicarakannya juga. "Hmm... Mbak, Boleh nggak kalo aku batalin aja pernikahannya?"


Sesuai dengan perkiraanku, reaksinya syok menatapku dengan mata membulat lebar. "HAH?? Kamu ngomong apa barusan??"


Aku terdiam, menatapnya dengan perasaan terbelah. Setengah bersalah, setengah tidak.


"Kamu jangan macem-macem, deh, Re! Pernikahan kamu tinggal sepuluh hari lagi. Undangan aja udah siap disebar!"


"Tapi Mbak, aku nggak bisa nikah sama Bian!" Seruku menahan tangis. Pergolakkan hatiku mulai mendominasi. Aku frustasi, bingung, dan putus asa. Karena memang aku tak ingin menikah. Apalagi bersama Fabian Samudra!


Air mataku bersiap jatuh dari pelupuk mata. Sedikit saja kukedipkan, akan kupastikan pipiku jadi benar-benar basah!


"Lagian, siapa yang suruh kalian buat rencana tanpa libatin aku di dalamnya? Apalagi ini soal pernikahan aku sendiri. Harusnya kalian tanya aku dulu, aku mau atau nggak menikah? Karena ini tuh nyangkut masa depan hidup aku, Mbak!" Akhirnya kulontarkan semuanya pada Mbak Citra. Tak peduli lagi dengan air mata yang sudah membanjir di pipi. Aku sedih, teramat sedih. Nelangsa!


Mbak Citra yang tadinya bersiap menumis bumbu di atas wajan seketika langsung mematikan kompor, meninggalkannya begitu saja untuk kemudian berjalan mendekatiku. Menatapku dengan pandangan yang tak mampu aku mengerti.


Dan, di saat Mbak Citra mulai menggerakkan bibirnya untuk mengucap sesuatu. Suara bel rumah berbunyi nyaring mengalihkan perhatian.


"Cit, itu Om Heri, tolong bukain ya! Ayah lagi nanggung!" Seruan Ayah dari halaman belakang membuatku dan Mbak Citra bersitatap.

__ADS_1


Tak berapa lama dihapusnya air mataku yang ada di pipi. Mbak Citra tersenyum padaku sekilas sebelum akhirnya meninggalkanku demi menemui tamu yang sudah menunggu.


Sepeninggal Mbak Citra, pikiranku meracau ke mana-mana. Kedatangan Om Heri yang tak terduga mendadak membuatku ingin menggunakan ide yang tadinya tak ingin kupakai. Siasat terakhirku, yang bisa menjadi boomerang jika saja aku tak hati-hati. Ide paling nekat yang kumiliki.


Ah, apa pedulinya. Asalkan aku tak jadi menikah, apa dan bagaimana pun caranya pasti akan kutempuh.


Maafkan Rere semua. Untuk sekali ini saja. Sekali ini, Rere ingin egois...


"Biar aku aja yang bukain pintunya, Mbak!" Cegahku secepat kilat begitu Mbak Citra berpaling hendak berjalan mengarah pintu utama berada. Aku tersenyum tipis, meyakinkannya. "Mbak lanjutin aja masaknya ya,"


Kulihat ada secercah perasaan khawatir dari sorot matanya, namun setelah beberapa saat diputuskannya untuk mempercayaiku. Mbak Citra pun tersenyum. Dia mengangguk. "Yaudah, gih..."


Aku membalas senyumannya sekilas sebelum berbalik dan berderap lekas menuju pintu di mana tamu itu menunggu.


"Ting-tong!" Bel itu berbunyi sekali lagi. Membuat langkahku makin kupercepat ritmenya. Lalu, begitu tiba tepat di depannya. Dan...


Om Heri tersenyum ramah padaku begitu aku membukakannya pintu. Lantas, aku persilahkan beliau masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah memintanya menunggu sesaat, aku pun bergegas membuat minum di pantry.


Selagi aku mengaduk dua gelas teh hijau panas ini, mataku melirik ke arah Mbak Citra yang sudah melanjutkan pekerjaan yang tadi aku tinggalkan. Dari gelagatnya, aku pikir Mbak Citra tak curiga denganku. Meski omonganku tadi sempat terdengar aneh.


Aku tersenyum simpul. Bagus lah, aku jadi bisa melanjutkan siasat itu...


"Kamu buat teh hijau kan, Re? Tanpa gula??" Tiba-tiba Mbak Citra menoleh kepadaku, bertanya hingga membuatku jadi sedikit terkesiap.

__ADS_1


Aku lantas mengangguk. "Iya, teh hijau kok."


"Bagus," Mbak Citra tersenyum memuji. Membuatku membalasnya dengan senyuman yang serupa.


Perlu diketahui, Om Heri dan Ayahku adalah dua orang dari sekian banyaknya manusia yang terdeteksi penyakit gula. Akibatnya, diwajibkan untuk mereka mengurangi kadar gula dalam makanannya. Bahkan akhir-akhir ini pun menu nasi kami pun berubah menjadi nasi merah yang rendah gula. Yah, tak memungkiri, faktor umur tentu saja akan membuat kondisi tubuh dan organnya berubah tak sekuat dan setangguh dulu.


"Ini nggak ada makanan pendampingnya, Mbak?" Tanyaku.


"Ini aja." Mbak Citra lantas memberiku sepiring penuh berisi bolu pisang buatannya kemarin sore.


Aku mengerut kening. "Loh, kok malah dikasih bolu sih? Kan, Bapak-bapak itu nggak boleh makan manis, Mbak??"


"Tenaaang! Bolunya aman dari gula kok. Kan, Mbak sendiri yang bikin jadi teruji klinis! Hehe," katanya berbangga diri, membuatku bersungut.


"Ih, jelek kamu kalo manyun-manyun gitu, Re!" Dicubitnya pipiku hinggaku mengaduh gaduh. Akh, dasar Kakakku ini masih saja kebiasaannya nggak berubah!


"Yaudah, cepet sana anterin! Tamunya udah kering tuh tenggorokannya. Nungguin yang bikin minum nggak dateng-dateng," selorohnya bercanda. Membuatku mendengus saja sebelum akhirnya menuruti titahnya.



____________________


P.S :

__ADS_1


Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI


sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI


__ADS_2