
Anak-anak baru gede di depan kami ini pun bergidik. Ya, mereka pasti geli mendengar kalimat Bian tadi. Jangankan mereka, bahkan aku saja ngeri berat mendengarnya!
"Ayo kita mulai sekarang, gimana?" Saran Kania yang masih tak berubah pikiran.
Ish, bocah ini. Rasanya ingin aku kunciin saja dia di kamar mandi deh, kalau begini!
Yang lain lantas ikut mengangguk. Menyetujui Kania. Begitu pun dengan orang di sebelahku. Bian pun kelihatan tak kalah antusias dengan permainan ini.
Ah, sepertinya yang harus aku kunciin di kamar mandi emang Bian bukannya Kania!
Ya Allah... Kenapa aku jadi berakhir di sini?? Rengekku dalam hati. Sungguh, daripada duduk di sini lebih baik aku kembali ke kamar dan tidur!
"Guys, jadi aturannya adalah... Jika dia pilih Truth, orang yang ditunjuk botol harus menjawab semua pertanyaan dengan jujur dan sebenarnya tanpa ada terkecuali. Dan jika memilih Dare, orang yang ditunjuk botol harus menuruti semua permintaan yang ada, tanpa terkecuali." Terang Kania dengan penekanan di akhir kalimatnya.
Aku langsung mengernyit. Merasa tak terima dengan aturan itu. "Nggak cuman satu tapi semua?? Nggak salah??"
Kania lantas menggeleng. "Kan, tiap anggota permainan harus punya kesempatan bertanya atau bikin permintaan kan, Mbak. Kalau satu aja gak adil dong?!"
__ADS_1
"Kalau begitu, aku gak ikutan!!" Putusku secara sepihak. Yang seketika membuat wajah semua orang berubah ngeri.
"Nggak bisa gitu dong. Kalau udah join, mana bisa batal, yaa nggak??" si Gondrong itu lagi yang bicara, mencari persetujuan yang lain.
"Pokoknya, kalau kebanyakan pertanyaan atau permintaannya, aku nggak mau. Titik!" Ketusku. Masa bodoh mereka mau kesal padaku, yang penting aku nggak jadi ikutan permainan menyusahkan begini! "Toh, Bian juga udah ikut kok. Perwakilan aja, cukup kan?" Lalu aku menyimpul senyum manis, yang kuyakini mereka tak akan menganggapnya begitu.
Hening. Mereka semua nampak berpikir, sementara Bian malah sibuk dengan ponselnya. Aku tersenyum dalam hati. Aku yakin mereka pasti nggak akan mau menuruti permintaanku semudah itu.
"Oke! Satu." Putus si Gondrong itu tiba-tiba. Membuatku seketika bergeming kaku. "Satu permintaan atau pertanyaan. Deal, kan??"
Aku terdiam di tempat, Kania malah sibuk menyikut dan berbisik kalau permainan tak akan seru kalau dirubah seperti itu. Namun, si Gondrong malah menimpali, "Tenang... Permainan ini malah bakal lebih seru kok, percaya sama gue?!"
...*****...
Semua telah berada di tempat masing-masing. Dan sekarang aku telah mengetahui nama mereka, akibat Bian yang mendadak membuka ruang perkenalan instan di meja ini.
Dimulai dari orang di sebelahku yang sejak tadi diam saja. Mungkin anak inilah yang paling pendiam di antara yang lain. Namanya, Gala, dia masih duduk di bangku kelas XII SMA, baru saja naik kelas bulan lalu.
__ADS_1
Lalu di sebelah Gala ada cowok yang memiliki tahi lalat di bawah matanya. Dari penampilan dia terlihat paling dewasa di antara yang lainnya. Namanya, Davino, lebih akrab dipanggil Davin. Dia sudah kuliah semester 7 dan sedang bersiap menyusun skripsinya. Yah, meski nggak berbeda jauh dengan usiaku tetap aja dia adalah junior.
Sebenarnya di sebelah Davin ada Kania, tapi karena aku sudah sangat hapal dengan anak itu jadi lewati saja bagiannya. Kania nggak masuk hitungan!
Di sebelah Kania, ada dia yang menjadi selalu menjadi kompor di meja ini. Siapa lagi kalau bukan si Gondrong itu. Dan, aku baru tahu kalau namanya adalah Rajendra dan lebih akrab disapa Jendra. Nama yang unik, tapi terlihat cocok dengan penampilannya yang kuat itu.
"Jendra harusnya udah lulus tahun kemarin," Terang Bian padaku yang langsung membuatku mengernyit. Bian tiba-tiba memutar kepalanya untuk mengadap Rajendra. "Tapi kenapa belum lulus-lulus, Jen? Mau jadi Mahasiswa abadi ya lo, biar bisa gondrong terus?" Kekeh Bian yang membuat cowok itu mengumpat.
"Sial. Ya kali aja. Nggak lah! Salahin dospem gue tuh, revisi kok lamanya gak ketulungan. Ck!"
"Uber terus lah. Kalau lo diemin mana tau dospem lo!" Ujar Bian.
"Tenang aja, lusa gue kejar ampe kampung halamannya!" Balas Jendra yang membuat semua orang tertawa terkecuali diriku yang masih merasa heran.
Iya, aku heran. Bukan karena skripsinya yang belum selesai, namun karena ternyata usianya lebih tua dari yang aku kira. Bahkan dia mungkin sepantar denganku dan Bian!
Akh, pantas saja dari tadi dia nggak mau menyebutku dengan embel-embel "Mbak", jadi karena itu penyebabnya?!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...