Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 4.5


__ADS_3

Suara riuh rendah di ruangan ini masih ramai didengar telinga. Mengecilkan suara peringatan dimulainya acara yang harusnya bisa terdengar jelas dari luar.


Aku terdiam bersama Nadia yang terus saja tersenyum sembari memegangi tanganku dengan eratnya.


Aku mengernyit kala merasakan bahwa telapak tangannya sudah dingin betul sekarang. Sejenak aku berpikir, apa dia yang akan menikah? Kenapa bisa dia jadi segugup ini, bahkan sampai melebihi aku??


Aku pun membalas senyum padanya. Lalu, kutarik tanganku dari genggamannya agar jadi aku yang menggenggam erat tangannya.


Matanya membulat seolah bertanya mengapa. Tampak tak terima dengan apa yang barusan aku lakukan untuknya.


Aku tertawa kecil. "Karena lo kelihatan lebih gugup daripada gue, tau, Nad!"


Nadia lantas mencebik. "Emang lo enggak??" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Biasa aja tuh," dustaku. Padahal aslinya perasaanku di dalam sini sudah sangat campur aduk rasanya. Namun, karena subuh tadi sudah kuputuskan untuk menyerahkan segalanya pada takdir, perasaanku jadi lebih tenang dan ringan dibandingkan sebelumnya.


Ya, hal itu karena tiba-tiba saja semalam aku memimpikan Uti dalam tidur malamku. Di dalam mimpiku, beliau membelai lembut riak rambutku dengan diriku yang berbaring di atas pangkuannya. Mengingatkan pada masa lalu di saat diriku kecil bersama Uti. Di dalam mimpiku, Uti tersenyum lembut dengan sangat jelas padaku. Senyumnya menenangkan seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. Meski sampai akhir mimpiku semalam Uti tak mengatakan sepatah kata pun. Namun dari senyum, belaian tangan beliau di rambutku juga bahasa tubuh beliau seperti mengatakan bahwa yang telah aku putuskan saat ini bukanlah hal yang akan membuatku tersesat.


Maka, setelah kuterbangun, pesan tersirat dari mimpi itu pun terasa melekat erat dalam benakku hingga saat ini.


Hal itu lah yang membuatku sedikit bernapas lega. Aku sudah meyakinkan diriku untuk bisa menerima apa yang akan terjadi di masa depanku nanti, semua kata takdir yang telah tertulis untukku. Jika memang Fabian Samudra adalah jodohku, tentu saja kami akan bersama meski sejauh apapun aku menghindar.


Setelah kupikir lagi, mimpi itu seperti jawaban dari semua sholat dan doaku secara tak langsung. Namun setidaknya itu cukup untuk mengikiskan keraguanku yang sempat berkecamuk hingga menganggu pikiranku.


Akh! Kalau dipikir ulang kok aku jadi sebal yaa?


Tangan Nadia yang makin terasa dingin membuatku lantas tersadar dari lamunan. "Kipas anginnya mau dimatiin aja apa, Nad? Kasian banget, lo kedinginan gini..."

__ADS_1


Nadia menggeleng. "Gak usah! Nanti kalau riasan lo luntur kena keringat gimana??" tanyanya. Lalu dahinya pun berkerut dalam, "Lagian hari ini kan hari spesialnya elo, Re, kenapa juga lo yang harus repot pikirin gue. Pikirin lah diri lo sendiri buat hadepin gimana malam pertama lo nanti!"


Kontan saja aku langsung melotot mendengar ucapannya yang barusan itu. Sedangkan dia malah terkikik tanpa dosa. Kurang asem, Nadia, bikin kepikiran aja!


Tak berapa lama suasana di ruangan ini yang tadinya gaduh akan suara kami entah mengapa tiba-tiba berhenti berisik. Tinggal lah suara napas manusia yang saling bersahut di sini. Termasuk diriku yang mulai kebingungan kenapa suasana ini mendadak berubah drastis.


Seolah menjawab pertanyaanku, suara seseorang yang menggema dengan pengeras suara di luar sana menyambut tanya dalam benakku. Aku terdiam membisu. Suara desau angin dari kipas yang bergerak tak henti makin membuatku parau kedinginan.


Apa sekarang... sudah waktunya??



......________......

__ADS_1


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...


__ADS_2