Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 4.4


__ADS_3

Akhirnya aku sampai di sini.


Menghela napas ke sekian kali, wajahku terarah pada cermin besar yang berdiri di depan. Sosok itu tampak asing dengan polesan makeup di sana-sini.


Sedari pukul 5 usai sholat subuh fajar tadi, aku sudah duduk manis di sini. Rasa pegal sedikit menyiksa punggungku karena sedari tadi tak bisa kusenderkan pada kepala kursi.


"Gimana... calon pengantin pasti udah mulai gugup ya sekarang? Acaranya kan, mulai sebentar lagi." Seloroh perias yang sedang mendandaniku ini dengan senyum menggoda. Mau tak mau aku harus menampakkan senyumku juga alih-alih wajah yang cemberut.


"Belum kok, Kak." Aku tertawa kecil. "Masih biasa aja." Jawabku. Yang lekas dibalas dengan wajah terkejut darinya.


"Wah, masa?" Ia mengerjapkan matanya. Lalu tersenyum tipis padaku. "Berarti kamu tipikal pengantin santuy yaa," katanya, bercanda.


Aku tertawa. Bukan, bukan jenis tawa yang bahagia nan semangat, justru sebaliknya. Tawa itu hanya riasan. Paksaan yang harus menutupi kegamangan hatiku sekarang.


Beberapa saat berlalu, riasan ini nyaris selesai, pun aksesori demi aksesori yang harus dipakai di seluruh tubuh ini sudah sempurna. Hanya tersisa satu polesan di bibir maka semua ini akan usai.


"Selesai!" Tukas perias itu lagi setelah memoleskan lipstik pada bibirku. Dia lantas mengamatiku setelahnya dengan wajah tersenyum ramah seperti sebelumnya. "Cantiknya... masyaAllah," pujinya. Membuatku tersenyum.


Lalu, berduyun-duyun orang-orang di ruangan ini pun menghampiriku. Mereka mengelilingiku. Tak mustahil jika beberapa sambil memotret dan memasangnya pada cerita di akun medsos-nya.


Pujian demi pujian dilemparkan untukku. Aku lagi-lagi hanya bisa memasang senyum sambil bergumam dalam hati, akh... begini ya rasanya jadi ratu sehari...


"Rere!"


Aku menoleh. Seseorang yang amat kukenali siapa ia datang mendekat dengan senyum sumeringahnya.

__ADS_1


"Nadia!!" Panggilku padanya. Nyaris saja aku melompat ke arahnya saking senangnya melihat dirinya di sini.


Nadia semakin mendekat bahkan sebelum aku lulus berdiri akibat sedikit kerepotan pada kain yang membalut kakiku ini.


"Kapan lo datang?" Tanyaku.


"Semalam." Jawabnya, lalu memelukku hangat. "Sumpah ya! Gue nggak nyangka kalian berjodoh!!"


Sama, jawabku di dalam hati. Aku tersenyum tipis.


Nadia lantas mengurai pelukannya dariku. Dia menatapku masih dengan senyumnya yang jenaka. "Jadi... kalian pacaran? Sejak kapan??"


"Kami nggak pacaran." Jawabku yang enggan berdusta.


"Ha? Terus??" Dia membulatkan matanya.


Nadia mengernyit. "Komitmen gimana??"


"Iya, komitmen. Karena keluarga kita udah saling kenal baik dari lama, dan intensitas ketemu kita yang lumayan sering akhirnya karena merasa saling membutuhkan kami memutuskan buat berkomitmen dan akhirnya berhasil sampai di sini." Entah dari mana skenario yang kubuat ini. Sepertinya isi kepalaku sudah mulai eror!


"Ah, gitu yaa..." Nadia mengangguk-angguk. Sepertinya cewek ini percaya kata-kataku. Aku mendesah lega dalam hati.


Nadia ini sahabatku yang paling dekat denganku sejak kami duduk di SMP lalu beranjak ke SMA kami masuk ke sekolah yang sama lagi. Dan hal itulah yang membuat ikatan kami semakin kuat. Nahasnya takdir kami harus terpisah saat dia diterima di universitas di luar kota, ditambah keluarganya pun turut serta diboyongnya di kota yang sama. Akhirnya hubungan kami pun harus berjarak jauh. Tentu saja hal itu membuat hubungan kami tak sedekat nadi seperti dulu.


"Eh, tapi... si Fabian udah nggak nyebelin kayak dulu, kan??" Tanyanya bernada canda. Aku mengernyit.

__ADS_1


"Meski gue nggak pernah merasa dia senyebelin itu... tapi karena lo berkonflik sama dia akhirnya bikin gue ikut-ikutan sebel deh sama dia. Meski nggak bisa sebel-sebel banget juga sihh... hehe," dia terkekeh sendiri dengan ucapannya. Aku memutar bola mata untuknya. Aku pun masih ingat kalau Nadia itu termasuk penggemar Fabian garis keras! Huhhh.


"Heh, diem aja lagi!" Dia menyenggol bahuku keras. "Gimana pertanyaan gue belum lo jawab tuh!"


Aku mengernyit sesaat memikirkan pertanyaan terakhirnya padaku. "Yahh... gitu deh,"


"Gitu deh, gimana??" Dia memancingku. "Kasih tau yang jelas dooong gimana?! Masa iya cuman, gitu deh, aja??" Ujarnya sembari senyam-senyum tak jelas. Dasar anak ini, umur tua tetap tak membuatnya dewasa ya! Ck.


Aku lantas tersenyum manis padanya yang penuh dengan pesan tersirat.


"Ah, iya ya... harusnya nggak perlu gue tanya. Jawabannya pasti enggak, kalau iya ngapain lo mau ya nikah sama dia." Dia kembali terkekeh. Sementara aku mendengus kala mendengarnya bicara.


Lalu, obrolan kami pun berlanjut pada topik yang lain-lainnya sampai waktu itu tiba.


Suara seorang pria yang disinyalir pembawa acara itu menggema lewat pengeras suara. Memberitahu pada semua orang bahwa perhelatan acara ini akan masuk ke intinya. Benar, waktu di mana ikatan sakral itu terucap.


Dengan tergugu aku memandangi Nadia sembari menggenggam tangannya.


Nadia... benarkah Tuhan menghendaki tentang musuhku lah yang menjadi jodohku??


...



...________......

__ADS_1


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...


__ADS_2