
"He?" Aku bingung.
Setahuku, teman Fabian yang bisa mengenalku hanyalah teman SMA-nya saja. Ya, itu karena kami memang satu sekolah! Tapi dia ini, siapa... kenapa aku nggak bisa ingat?!
"Ck! Masa lo lupa sih sama gue? Dulu kita pernah berantem loh, gue juga sempat ngatain lo cewek bawel. Ingat gak??"
Dahiku terus mengerut. Melihat wajahnya yang semakin lama dilihat semakin tak asing itu harusnya membuatku langsung tahu siapa nama cowok ini sebetulnya.
"Kita juga pernah jadi rival pas jadi calon wakil ketua OSIS. Kita juga pernah debat terbuka, tapi kalau bagian ini berempat sama Bian dan Renata..." dia sedang berusaha keras membuatku mengingat tentang dirinya. Sementara aku hanya terus diam saja menatapnya.
"Oya, ada satu lagi! Momen ketika muka gue kegebok bola voli yang lo lempar sampai merah. Di situ lo minta maaf berkali-kali ke gue, tapi gue malah marah-marah terus sama lo. Haha, kalo inget yang bagian itu... gue jadi pengin minta maaf balik sama lo," dia menggaruk-garuk tengkuknya sambil meringis tertawa. "Sorry ya, Re,"
Aku tersenyum tipis. Lalu mengangguk.
"Makasih yaa, Rere..." katanya sumeringah. "Jadi gimana, sekarang inget kan, sama gue??"
Oh, rupanya dia belum menyerah juga ya. Sepertinya dia akan terus begitu sampai aku bisa menyebut namanya...
"Oke. Kalau gitu, gimana sama momen yang pas OSIS kita adain kemah, waktu itu..."
__ADS_1
"Hush! Udah deh, lo gak usah maksa! Kalau dia gak inget yaudah, jangan dipaksa." Seru Bian dengan wajah kerasnya. Padahal aku pun tak merasa terganggu tapi kenapa dia bersikap berlebihan begitu?
"Makan aja gih sana! Jangan ganggu orang terus!" Kata Bian lagi memperingati.
"Iya, iya, sori deh. Yaudah kalau gitu... gue pergi makan dulu ya." Matanya lekas beralih menatapku kemudian. "Re, sori ya..."
Setelah mengucapkan hal itu, lalu dia pun beranjak dan berjalan hendak menuruni tangga pelaminan ini. Melihat cara berjalannya yang lunglai dan wajahnya yang lesu seakan baru saja dikecewakan, aku tak tega jadinya.
Dengan senyum yang kutarik dengan lebar, kupanggil namanya dengan keras. "Davin! Makasih sudah datang. Selamat menikmati makanannya yaa..."
Davin yang sudah berbalik badan menghadapku malah terbengong-bengong seolah tak percaya pada satu hal yang baru saja dia lihat. Apa memanggil namanya adalah hal yang semenakjubkan itu??
Aku mengangguk, tersenyum sekali lagi padanya.
Tentu saja aku tak lupa dengan orang yang sering membuatku sebal setelah Fabian. Davin adalah sohib Bian yang cukup kukenal apalagi saat SMA kita sama-sama berada di organisasi yang sama, Osis, dengan dia yang menjabat sebagai sekertaris sedangan aku adalah wakil ketua dari Fabian yang notabene adalah ketua Osis. Namun, aku sempat bingung dengan penampilan barunya itu. Dahulu, Davin yang kuingat bukan cowok yang seputih dan serapih itu. Davin itu berkulit coklat seingatku, agak dekil sedikit menurutku. Tapi lihat lah sekarang, kulitnya ternyata jadi lebih bersih. Apa mungkin karena sekarang dia hanya bekerja di dalam ruangan makanya penampilannya pun jadi berubah begitu?
Davin tersenyum lebar. Wajahnya yang lesu seketika berubah cerah. Kenapa dia bisa sebahagia itu sih? Aku jadi ingin tertawa geli karena ulahnya.
"Yaudah, cepet gih turun. Drama lo ditonton tuh sama yang lain!" Aku terkekeh. Dia malah nyengir. Setelahnya dia pun kembali pamit pada kami untuk menikmati hidangan. Dan, sampai ketika ia pergi aku masih tersenyum. Nostalgia aneh yang cukup mengejutkan...
__ADS_1
"Kamu... kamu betulan ingat Davin??"
Suara orang di sebelahku ini membuatku langsung melenyapkan senyumku seketika dan menoleh kepadanya.
"Ingat lah, masa iya lupa!" Balasku sekenanya.
Aku pikir setelah ini dia akan berjengit dan menatapku kesal karena jawabanku yang terdengar acuh tak acuh itu. Namun reaksi yang kulihat malah sebaliknya. Dia malah menyimpulkan senyum manisnya, menatapku dengan mata berkaca seakan baru saja aku melakukan hal yang membuatnya terharu. Dia ini kenapa sih??
"Kenapa? Kenapa muka..." aku menggantungkan kalimat karena tak ingin mengucapkan sesuatu yang salah. Pasalnya aku juga masih enggan memanggilnya dengan embel-embel "aku-kamu" seperti pintanya setelah prosesi akad tadi.
"Nggak pa-pa," dia masih tersenyum cerah. Lalu dia mengalihkan pandangannya dariku. Menyambut kembali tamu yang hendak mengucapkan selamat untuk kami.
Selagi menyalami tamu yang seolah datang tanpa henti, aku sesekali mencuri pandang kepada Fabian. Aku tak mengerti dirinya. Sikapnya yang mendadak lembut dan baik padaku membangkitkan kecurigaanku.
Apa iya, dia menikahiku bukan karena terpaksa??
......________......
__ADS_1
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...