Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 5.2


__ADS_3

"Rambut itu... kamu bisa atasinnya sendiri, kan??" Tanyanya lagi. Sementara aku masih sibuk sendiri mencari jawaban yang mampu membuatnya menyerah dan meninggalkanku saja. "Katanya, hairspray bisa hilang kalau pakai bedak tabur. Kamu nggak punya bedak taburnya, kan??"


Tanpa sadar, tanganku pun menyentuh puncak kepalaku. Ternyata kekakuan rambut ini akibat cairan semprot itu belum hilang. Pantas saja rasanya aneh sekali saat keramas tadi...


"Re, kamu beneran baik-baik aja, kan?!" Suaranya menggema lebih keras dibanding sebelumnya. Mendengar getarnya saja aku bisa tahu jelas kalau dia khawatir padaku.


"Iya, aku baik-baik aja kok!" Akhirnya aku menjawabnya juga. Entah, aku hanya merasa iba setelah mendengar suaranya yang seolah mengkhawatirkanku.


"Syukurlah," katanya pelan, nahasnya masih berhasil terdengar di telingaku meski hanya samar-samar.


"Yaudah, cepat sini keluar! Aku bawa bedak tabur buat kamu," katanya menyeru. Dan di detik itu pula aku malah terdiam di tempatku dengan mata yang membulat tak percaya. Tak mungkin kan, kalau dia yang sengaja mendapatkan bedak itu buatku??


"Re, cepetan! Inget, kita belum sholat loh!"


Apa? Kita?! Jangan bilang, kalau dia sengaja menungguku agar kami bisa sholat bersama? Astagaaa... Fabian...


Pasti bukan begitu, kan??

__ADS_1


Ehei, jelas nggak mungkin seorang Fabian mau melakukan hal-hal yang seperti itu. Kata suara hatiku meyakinkan diri.


Iya, benar. Fabian Samudra jelas tak akan mau melakukan hal yang seperti itu buatku, apalagi yang berbau manis begitu... Ha ha, nggak mungkin!


"Re??" Panggilnya lagi. Yang membuatku mau tak mau harus menyerahkan diri.


"Iya, iya, tunggu sebentar!" Suaraku sampai menggema hebat, karena saking kerasnya aku berteriak.


Tunggu! Sebelum keluar, aku harus memastikan sesuatu lebih dulu. Tidak mungkin bagiku yang sudah menunggu lama di dalam sini untuk tidak punya alasan mengapa aku tidak kunjung keluar juga padahal rambutku yang sudah wangi shampo ini nyaris mengering. Jelas, Bian pasti akan langsung curiga padaku tentang apa yang aku lakukan di dalam sini. Dia pasti langsung mengejekku lagi seperti yang sudah-sudah.


Jadi... apa yang harus aku lakukan? Hal yang bisa aku gunakan sebagai alibi untuk menutupi semua itu??


Apa?? Aku berpikir keras. Dahiku bahkan sampai mengerut dalam. Sembari terus mencari sebuah ide, aku lantas mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling. Namun setelah beberapa kali melihat, akhirnya pandanganku jatuh pada keran wastafel di depanku berada.


Aku tersenyum cerah. Sepertinya itu memang ide yang bagus!


Meluruskan niat, aku lantas berdiri tegak menghadap wastafel berada. Kunyalakan keran itu, lalu kujatuhkan rambutku di atasnya. Alhasil, rambutku yang tadinya sudah nyaris kering pun kembali basah lagi.

__ADS_1


Ide yang bagus untuk alibi bukan? Hehe.


Aku lantas menutupi rambutku dengan handuk lalu menggulungnya ke atas kepala. Kulihat bayangan diriku yang memantul dalam cermin itu sekali lagi. Aku kembali tersenyum. Dengan tampilan ini dia pasti percaya kan, kalau aku berdiam lama di kamar mandi hanya karena kepayahan mengurusi kekakuan rambutku ini?? Hehe.


Haa... Rere, Rere... kamu memang anak cerdas! Suara hatiku memuji diriku sendiri.


"Cklek." Pintu yang tadinya terkunci rapat itu pun kini sudah terbuka lebar.


Aku berdiri terambang di depan pintu kamar mandi, menatap dirinya yang ternyata sudah duduk di atas ranjang dengan pandangan mata yang cukup serius menonoton acara televisi. Yah, dia pasti lelah menungguku yang keluar terlalu lama.


"Akhirnya keluar juga," katanya menghela napas lega.



......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...

__ADS_1


__ADS_2