Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 4.1


__ADS_3

Masih terngiang-ngiang di otakku tentang pembicaraan kami beberapa puluh menit lalu...


[...]


"Fabian, lo yakin mau terusin pernikahan ini??" Tanyaku langsung pada inti dari pembicaraan ini.


Aku menatapnya tanpa segan. Dia pun sama, membalas tatapanku tak gentar. Kami lantas berpandang serius. Terbaca dari kilat matanya bahwa dia cukup terkejut dengan pertanyaanku ini namun sepertinya Fabian memang sangat mahir dalam menutupi perasaannya hingga aku tak mampu lagi mengira tentang apa yang tengah dirasakannya sekarang.


"Kenapa lo tanya hal itu??" Dia mengernyit. Wajahnya tampak terganggu.


Aku mengerut kening. Mungkin itu arena dia agak terguncang dengan pertanyaanku barusan.


"Pernikahannya akan terjadi besok lusa. Hanya jadi sia-sia aja kalau lo tanya hal itu sekarang." Katanya bernada ketus.


Aku menggeleng cepat. Tak setuju dengan opininya. "BELUM! Belum terlambat Fabian. Selama masih ada waktu... selama janur kuning belum melengkung. Itu artinya belum terlambat!" Kataku berusaha meyakinkannya.


Bian terdiam sesaat. Dia hanya memandangiku dengan tatapan datarnya. Matanya yang biasanya tajam itu malah cenderung sayu sekarang. Entah itu menyiratkan kesedihan atau bukan, tapi lebih masuk akal kalau dia sedang lelah. Iya, lelah bekerja. Bisa saja, kan?


"Kenapa?" Tanyanya yang membuatku mengernyit.


"Kenapa memangnya?? Lo mau batalin pernikahannyakah??!" Tayanya lagi padaku. "Emangnya lo siap nanggung konsekuensi dengan membuat semua keluarga malu??"


Aku menghela napas. "Nggak begitu..."


"Nggak begitu, apa??" Dia menatapku tajam. "Lo bertanya begitu bukankah ini maksudnya? PEMBATALAN PERNIKAHAN, ya, kan??"


"Bukan gitu, Fabian... dengerin gue dulu!" Tegasku. Dia lantas terdiam, menuruti titahku barusan. Namun tatapannya yang tajam itu masih saja di sana. Tak pudar sama sekali!


Saat dia sudah lebih tenang, barulah aku mulai menjelaskan. "Gue nggak mau jadi egois. Meski lo musuh gue sekali pun, gue tetap kepikiran..."

__ADS_1


Kini, ganti dia yang mengernyit. "Kepikiran apa??"


Aku menatapnya. Memerhatikan garis tegas rahangnya yang makin tampak. Benar, Fabian memang makin kurus sekarang...


"Lo stress ya, karena pernikahan ini? Makanya sekarang badan lo tambah kurus begini," ujarku yang malah membuatnya terdiam. Aku lantas mengernyit saat dia tak kunjung juga memberikan responnya padaku.


"Emang, kita saling nggak suka satu sama lain. Kita musuh. Tapi tetap aja, kalau lo lebih menderita daripada gue... gue pasti tetap merasa bersalah." Ucapku bersungguh-sungguh padanya. "Rasanya nggak benar lihat lo tambah kurus kering sedangkan gue baik-baik aja. Itu bukankah artinya... lo lebih-lebih menderita daripada gue karena pernikahan ini??"


Aku tertegun sesaat begitu semburat senyum yang amat tipis tercipta dari garis bibirnya. Antara aku yang salah lihat atau salah menafsirkan, yang jelas kini wajahnya sudah jauh lebih ramah dari sebelumnya.


"Hei..." dia lantas mendengus. "Gue tambah kurus bukan karena stress pikirin nikahan. Tapi karena ada hal lain yang lagi jadi pikiran, asal lo tahu!"


"He?" Aku tercengang. "Bukan karena pernikahan? Dia lantas mengangguk.


"Bukan," jawabnya meyakinkan.


"Terus kalau bukan? Apa??"


"Iya, hal lain apa??" Tanyaku lagi, sudah setengah kesal.


"Penting banget yaa buat lo tau?? Ini kan, urusan gue."


Cih. Dia bahkan bisa berbicara begitu setelah susah payah aku memikirkan kondisinya. Memang terlalu percuma aku mengkhawatirkan kondisinya. Dia memang orang tak tahu untung!


Aku memutar bola mata. Jengah juga rasanya. Fabian Samudra itu memang menyebalkan ya!


"Yaudah. Terserah." Balasku jadi keki sendiri.


Aku menghela napas. Saat meliriknya lagi, aku ingin bertanya sekali lagi sebagai yang terakhir kali sebelum pembicaraan ini benar usai. "Jadi lo yakin tetap terusin pernikahan ini??"

__ADS_1


"Ya!" Jawabnya tanpa pikir panjang. Aku heran, sebenarnya apa sih yang ada di otaknya itu? Kenapa bisa dia jadi seyakin ini sedang dia akan menikahi musuhnya sendiri?! Perlu digaris bawahi, MUSUHNYA bukan sahabatnya!


"Demi kebaikan bersama." Lanjutnya lagi. Ternyata memang ada alasan untuk keputusannya ini. Dan, aku pun sama halnya seperti dirinya.


"Oke. Tapi jangan sampai lo menyesal dengan keputusan lo ini ya. Karena penawaran ini nggak akan datang dua kali!" Kataku sungguh-sungguh memperingatinya.


Dia tersenyum tipis. "Dibandingkan gue, harusnya lo lebih mengkhawatirkan diri lo sendiri. Karena sepertinya memang lo yang menyesal."


Kata-katanya itu menohokku seketika. Hingga tepat ke sumbu pita suaraku berasal, sampai-sampai aku nggak bisa berbicara apa pun untuk menanggapinya. Aku tercekat!


Dia mengalihkan wajahnya dariku. Menatap keheningan danau yang damai tanpa riak. Cukup lama. Dan selama itu aku hanya mampu menatapnya dari samping wajahnya.


Seperti katanya, memang benar sepertinya aku harus lebih mengkhawatirkan diriku atas penyesalanku yang mungkin akan lebih dalam ke depannya. Tapi bagaimana? Aku pun tak bisa melakukan apa pun selain setuju. Dan, Bian jelas tahu itu.


"Tapi,"


Aku yang menunduk pun kembali mendongak kala mendengarnya kembali bersuara tiba-tiba. Aku menatapnya. Menunggu dia melanjutkan perkataannya.


"Meski begitu, gue akan pastikan setelah menikah nanti... lo nggak akan menyesal lagi. Karena gue janji, gue akan membuat lo bahagia."


[...]


Kala itu aku hanya mampu terdiam, menatap matanya yang menyiratkan kesungguhan yang tak kumengerti artinya. Aku tak mau berdusta bahwa aku melihat ketulusan di sana. Tepat di manik mata hitamnya.


Aku menggigit bibir bawahku tanpa sadar. Hatiku... entah kenapa ada perasaan yang tak nyaman kala aku mengingatnya lagi. Apalagi kembali mengingat bahwa dia adalah musuh bebuyutanku.


Benar, dia memang musuhku. Yang kemudian aku akan menikah dengannya.


__ADS_1


......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...


__ADS_2