Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 5.6


__ADS_3

Suasana kembali hening. Baik aku atau pun Bian, kami sama-sama mengunci bibir kami rapat. Aku cukup sibuk dengan mataku yang lagi-lagi tak mau terpejam. Aa... apa ini ada pengaruhnya dengan rasa penasaranku tadi? Iya, rasa penasaranku pada sikap baik Bian seharian ini!


Sungguh! Aku memang sepenasaran itu!


Fabian Samudra yang dulunya selalu menatapku sinis, Fabian Samudra yang bahkan hanya melengos saat melihatku tersandung dan tersungkur di tanah, Fabian Samudra yang selalu mendebat tiap apa yang kukatakan, Fabian Samudra yang pernah mengatakan aku adalah cewek terjelek yang pernah dia temui, dan Fabian Samudra yang pertama melabeli diriku adalah musuhnya. Iya, cowok itu! Mustahil bukan baginya yang sangat kontra denganku itu bersikap sebaik ini padaku kalau bukan karena ada udang dibalik batu??


Aku menghela napas. Semakin lama aku menahan rasa penasaran ini, sungguh semakin aku tak tahan. Bibirku jadi amat gatal untuk berucap pertanyaan padanya!


Meski sudah aku coba tahan berkali-kali dengan cara memejamkan mata dan mencoba tidur. Tapi... hal itu sia-sia saja. Aku tetap tak bisa!


Aku mendengus kesal pada diriku sendiri. Sial, sepertinya mau tak mau aku harus menanyakan hal itu padanya dari pada aku tak bisa tidur sampai pagi!


"Hei... Fabian?"


Hening. Aku mengerut kening. Apa dia sudah tidur ya?


"Bian... Fabian? Udah tidur ya?"

__ADS_1


"Baru mau. Kenapa?" Akhirnya dia menjawab. Suaranya terdengar agak ketus di telinga. Yah, mungkin karena dia sudah terganggu olehku. Aku meringis, merasa agak bersalah juga padanya.


"Sebelum tidur... boleh tanya sesuatu?"


"Apa?" Suaranya kini terdengar lebih bersahabat dari sebelumnya.


"Hmm..." aku menjeda. Menimang kata apa yang tepat aku hadirkan tuk merangkai sebuah kalimat tanya yang pantas kuajukan padanya. "Kenapa... kenapa hari ini sifat kamu baik banget?" Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibirku. "Terima kasih buat bedaknya. Aku tahu, kamu mendapatkannya pakai usaha, kan? Terus... makasih juga karena kamu nggak egois tentang pernikahan ini. Kamu pengertian sama aku yang belum bisa menerima pernikahan ini."


"Udah sepantasnya aku lakukan kok. Jadi, kamu nggak perlu merasa bersalah dan berterima kasih segala. Karena, semua itu udah kewajibanku." Balasnya yang membuatku terdiam seribu bahasa. "Ini adalah upayaku buat menepati janji."


Aku mengernyit. "Janji?"


Ingatan seketika membawaku pada saat aku keluar rumah diam-diam lewat pintu rahasia hanya untuk bertemu dengannya. Yang anehnya, ternyata dia pun tahu di mana pintu itu berada.


"Ingat..." balasku pelan.


"Hari itu, aku pernah bilang kan, sama kamu... setelah kita menikah, aku akan berusaha keras membuat kamu bahagia. Jadi, ini adalah bagian dari janji itu. Janji yang aku buat sendiri. Maka itu, kamu nggak perlu merasa bersalah atau pun berterima kasih."

__ADS_1


Aku terdiam membisu untuk memahami dengan pasti apa yang dia katakan barusan kepadaku. Sesungguhnya aku cukup terkejut dengan pernyataannya itu. Membuat janji demi membuatku bahagia...


Fabian ini kenapa sih? Kenapa dia jadi berusaha sekeras ini?? Kenapa dia nggak bersikap seperti dirinya yang biasa saja?! Yang selalu memusuhiku seperti misinya hidup di dunia ini adalah membuatku sengsara!


"Selama kita berada di perahu yang sama, aku bakal berusaha untuk selalu menjaga kamu." Katanya lagi yang makin membuatku terenyuh.


"Yang terpenting, tolong kamu jangan sakit..." lanjutnya lagi dengan suara sayup-sayup didengar telinga, sebelum akhirnya hening.


Karena penasaran kenapa dia tiba-tiba menjadi diam, akhirnya aku melongokkan kepala untuk melihatnya. Aku menghela napas. Benar saja dugaanku kalau dia sudah masuk ke dalam alam mimpi. Dia terlelap begitu damainya, meninggalkan diriku yang masih terjaga akibat terlalu penasan dengan kalimatnya yang terdengar seolah belum selesai terucap.


Dalam posisi yang sama, masih menatap wajahnya dari samping. Aku tertegun sesaat. Dengan apa yang dia ucapkan tadi... adakah dosa besar yang telah dia perbuat kepadaku yang tak aku tahu hingga bisa membuatnya bertekad sampai sejauh ini?


Sungguh... aku penasaran tentang itu.



......________......

__ADS_1


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...


__ADS_2