
"APA??!"
Kontan, kepalaku berpaling. Menatapnya dengan mata membulat lebar. Dan, ternyata dia juga sudah berbalik menghadapku. Membuat posisi kami kini menjadi saling berhadapan dan saling menatap satu sama lainnya.
Bian malah tertawa kecil. "Kenapa syok gitu?? Biasa aja kali ekspresinya. Nggak perlu berlebihan begitu lah!" Responnya remeh.
Nggak aku pedulikan ucapannya barusan. Aku bertanya, "Siapa yang begitu mencintai siapa? Heh?!!"
"ISTRI yang begitu mencintai SUAMINYA." Jawabnya dengan penekanan suara di awal dan di akhir kalimatnya.
Mataku menyipit tajam. Sungguh aku nggak habis pikir dengan ide gilanya barusan!
"Kamu gila ya?" Hanya kalimat sarkas itu yang bisa kuucapkan.
Dia mengangkat kedua alisnya tinggi. "Aku masih waras kok. Nggak mungkin juga aku berhasil ngucap ijab kalau gila." Dengusnya sambil tertawa.
Aku memutar bola mata. Jengah. Karena sepertinya dia hanya main-main saja menjawabku. Dasar menyebalkan!
"Hei, kamu itu mau menghancurkan rencana ya? Kamu mau membuat semua orang tau kalau pernikahan ini cuman sandiwara?!"
"Aku nggak pernah bilang gitu kok." Balasnya lagi, lalu ia menghela napasnya panjang. "Kamu aja yang menyimpulkan demikian."
__ADS_1
"Iya, aku tau itu!" Timpalku, menjeda kalimat. "Tapi dengan kamu memaksa ide gila kamu itu sama aku, membiarkan aku memimpin sandiwara ini, aku yakin 100% kalau rencana kita selama ini akan hancur lebur!"
Bian mengernyit, menatapku tanya.
"Kenapa?" Suaranya bahkan terdengar seolah memang dia tak tahu apa-apa.
Hih, dia ini sungguh menyebalkan!
"Ya jelas karena aku nggak bisa ngelakuin itu lah!" Tegasku nyaris berteriak. Sungguh, setengah kesal aku padanya yang malah berpura-pura bodoh.
"Kamu pikir aku sehandal kamu dalam berakting?!" rutukku sebal padanya.
Bian terdiam sesaat dan hanya menatapku. Matanya mengerjap dengan wajah datar, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk berucap selagi mendinginkan emosi di antara kami. Entahlah, tapi begitu lah yang kurasa.
Jadi dia menyudahi perdebatan kami secepat ini??
"Kalau begitu ganti aja," Dia pun tersenyum. Lalu membalikkan badannya ke depan.
Aku yang dipunggunginya ini seketika mendengus. Bisa-bisanya dia menyudahi pembicaraan ini dengan kalimat ambigu yang seperti itu?!
Bahkan sampai ketika pintu lift ini kembali terbuka dia masih bergeming dengan caranya. Nggak bisakah dia bicara tanpa diminta seperti sebelumnya? Lalu apa maksudnya dengan kata 'ganti' itu??
__ADS_1
Dan, karena aku terlalu tak sabar menunggunya bicara. Lekas saja aku menyusul langkahnya agar bisa sejajar dengannya. Namun, karena langkah kakinya terlalu besar aku yang selalu tertinggal di belakang akhirnya nekat untuk mencegatnya. Memblokade langkahnya agar tak lagi bisa bergerak maju.
Mau tak mau Bian pun menatapku yang kini sudah berada tepat di hadapannya. "Mau apa lagi?"
"Jelasin dulu, rencana yang diganti itu apa? Jangan biarin aku jadi orang bodoh yang gak tau apa-apa."
Dia menatapku lurus-lurus. Tatapan datarnya malah membuatku mengangkat dagu, semakin menantanginya.
"Bukannya udah sangat jelas ya?" Katanya.
"Apa??" Aku mengernyit.
"Kalau rencana A nggak bisa, tinggal balik aja biar bisa berubah jadi rencana B." Jawabnya.
"Jadi maksudnya..." Mataku membulat.
Bian malah tersenyum. "Tepat!"
"Suami yang begitu mencintai istrinya, itu kayaknya lebih baik. Ya, kan??" Ucapnya masih dengan senyumnya. Sementara aku menatapnya dengan tak habis pikir.
__ADS_1
......________......
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...