Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 5.9


__ADS_3

Akhirnya pintu itu tertutup rapat.


Tanpa ada sedikit ragu, kakiku melangkah cepat menyusuri koridor hotel yang tampak sepi. Bian sudah tak ada dalam jangkauan mataku, padahal aku berusaha menyusulnya secepat yang aku bisa.


Aku berdecak. Dengan kaki panjangnya itu, dia pasti sudah tiba di resto hotel ini, duduk dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain mulai bercengkrama atau bahkan menyantap sarapan.


Aku mendengus lunglai. Bunyinya perutku membuatku meringis, setelah melihat jam di ponsel akhirnya aku sadar. Kalau ternyata aku


tidak menyusulnya dalam waktu singkat. Nyatanya syok itu telah memakan waktu. Membuat jeda panjang di antara waktu ia meninggalkanku dengan saat ini.


Lihat saja, lima belas menit ternyata sudah berlalu sejak terakhir kulihat yakni tepat sebelum perkara 3 konsekuensi itu terjadi!


Ah, ya ampun!


Kalau ingat-ingat hal itu lagi aku malah jadi tambah sakit kepala!


"Akhirnya nongol juga." Ucapnya datar.


Aku mengernyit melihat Bian yang sedang berdiri menyender dinding yang bersebelahan dengan lift yang bahkan sedang tidak berjalan. Tangannya bersidekap di depan dada, posturnya santai seolah ia sedang 'menumpang istirahat' di tempat ini. Namun, tatap matanya yang terarah padaku justru berkata sebaliknya. Begitu tajam, bak belati yang siap mengulitiku hidup-hidup!

__ADS_1


"Ngapain aja sih di kamar? Habis pup ya??" Tanyanya asal.


Aku mendengus. Tanpa gentar aku balik menatapnya tajam. "Kamu... Ngapain berdiri di sini??" Tak peduli dengan pertanyaannya, aku malah balik bertanya.


"Menurut kamu??" Kontan, sebelah alis matanya menukik ke atas. Menonjolkan kesan intimidasinya padaku. "Ngapain aku berdiri di sini dan berkata begitu pas kamu datang??"


Mulai. Lagi-lagi dia mulai menunjukkan sifat aslinya yang sama persis ketika kami SMA dulu.


Aku menghela napas. Baiklah, mungkin memang aku yang sudah salah pertanyaan.


"Hm, maksudnya... Kenapa kamu ada di sini? Kenapa nggak langsung ke resto aja??" Tanyaku.


Lalu tanpa peduli, dia langsung melewatiku begitu saja menuju di mana lift berada. Memencet tombolnya dan kala pintunya terbuka lebar ia pun melangkah masuk.


"Kamu nggak mau masuk??" Tanyanya dengan alis yang bertaut rapat. Mempertanyakan diriku yang diam saja bak patung, karena terlalu syok dengan kalimat sadisnya tadi.


Astaga....


Aku yang sudah tersadar, buru-buru melangkah masuk dan berdiri tepat di belakangnya. Dia pun melepaskan jarinya dari salah satu tombol yang ada di sana. Dan, lift ini pun mulai bergerak dengan semestinya.

__ADS_1


"Menjawab pertanyaan yang tadi, kenapa aku--"


"Nggak usah dijawab. Udah tau!" Tukasku buru-buru memotong ucapannya.


Aku mendengus sebal. Mataku menatap ke arah lain yang tidak ada dia di jangkauannya. Meski aku tahu itu mustahil karena kini aku melihatnya menoleh ke belakang, menatapku sembari tertawa kecil untuk beberapa saat. Entah apa maksudnya, tapi yang aku yakini adalah dia sedang mengejekku sekarang!


"Mungkin tepat seperti apa yang kamu pikirkan. Meski rumah tangga ini masih belum jelas di mata kita, tapi aku nggak mau semua orang tau apa yang sedang kita alami sekarang. Terlebih itu keluarga. Mungkin keadaannya nggak akan jauh berbeda dengan saat sebelum nikah, kita masih perlu bersandiwara di depan semuanya untuk meyakinkan mereka bahwa pernikahan ini baik-baik saja."


"Tanpa kamu jelasin lagi, aku juga udah paham di mana posisi aku." Balasku yang masih enggan menatapnya.


"Bagus, kalau gitu. Berarti kamu sudah nggak perlu tutor tentang bagaimana sikap istri yang begitu mencintai suaminya, kan??"


APAAA??



......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...

__ADS_1


__ADS_2