
Hari yang amat melelahkan ini belum juga usai. Bahkan mimpi buruk ini pun masih seperti mengawalku entah sampai kapan.
Usai menunaikan ibadah sholat dan mengucap doa sebagai penutup sholat kami, Bian lantas melipat sarung berserta sajadahnya lebih dulu dan tanpa tedeng aling-aling ia langsung mendaratkan tubuhnya di atas ranjang itu alih-alih menungguku selesai melipat mukena yang lebih ribet ini lebih dulu.
Aku menghela napas. Tapi di dalam otak kecil ini aku berpikir keras. Memikirkan bagaimana aku tidur nantinya. Pasalnya tak mungkin buatku benar-benar tidur di sisinya selayaknya kami adalah pasangan suami istri sungguhan, meskipun dia sudah menyiapkan tempat kosong untuk kutiduri di sebelahnya.
Hahh... tidak, tidak, tidak boleh! Itu bahaya, Rere! Hati nuraniku mengingatkan otak tak warasku ketika aku mulai tergoda.
"Hei," aku langsung menoleh ke arahnya. Dia sedang menatapku dengan kernyitannya yang dalam. "Ngapain kamu malah diam aja di situ? Sini tidur, emang nggak capek apa??"
Aku malah terdiam, menggigiti bibir dalamku. Bingung harus bersikap bagaimana atas ajakannya itu. Ingin langsung menolak, tapi aku agak takut dengan Bian yang mengancamku seperti sebelumnya. Huh... jadi aku harus gimana?
Keterdiamanku membuatnya tak tinggal diam. Bian yang tadinya sudah rebahan santai dengan amat sempurna itu kini kembali bangun mengangkat badannya agar menjadi duduk dan bisa menatapku lebih intens.
Dia menatapku datar. Lalu menghela napas panjang, seolah tahu benar tentang pesan tersirat dari gelagatku ini. "Kenapa diam aja? Kamu benar-benar gak mau tidur?!"
"Aa..." otakku buntu! Aku bingung bagaimana menjelaskannya! "Aa... ituu..." aku menggaruk kepalaku, kebingungan. Ayo, ayo... cari alasan yang bagus Rere!!
"Kalau kamu khawatir aku bakal ngapa-ngapain kamu... tenang aja, itu nggak akan terjadi kok."
__ADS_1
Perlahan, mataku kembali menatapnya. Dia tak tersenyum seulas pun. Bahkan seringai yang biasa dia tunjukkan kala sedang menggoda atau membohongiku pun tak terlihat. Wajahnya benar-benar serius. Dan hal itu terlihat dari sinar matanya yang tengah menyorotku sekarang. Yang sungguh tak main-main!
"Aku janji, aku nggak bakal nyentuh kamu sejengkal pun tanpa adanya izin dari kamu." Tambahnya lagi.
Aku menatapnya lurus. Meski kuselami kembali arti tatapannya, tetap saja aku terus percaya bahwa apa yang dia katakan adalah kesungguhan.
"Kalau kamu nggak percaya, ini..." lalu dia mencari-cari sesuatu barang dari tas kecilnya yang teronggok di atas nakas di sebelahnya.
"Ini..." dia menunjukkan sebuah barang kecil yang kupikir itu adalah sengatan nyamuk mini yang entah dia dapatkan dari mana. "Kamu bisa pakai ini kalau-kalau kamu merasa aku menyentuh kamu."
"Meski itu dalam keadaan kamu nggak sadar?" Tanyaku.
Itu adalah penawaran yang menarik, aku tahu. Tapi tetap saja. Jika harus menyengatnya dengan listrik seperti itu, tentu yang ada aku bisa membunuhnya. Iya, kalau dia merasa sengatan listrik itu hanya sakit yang wajar. Tapi jika itu malah jadi boomerang baginya bagaimana? Bisa saja kan, karena kaget disengat listrik jantungnya jadi melemah, dan kemudian dia... ARGH! NOO WAY!!
"Kalau kamu minta aku tidur di bawah... maaf, buat hari ini aja, aku nggak bisa." Dia menjawab hal yang baru saja ingin aku tanyakan. "Kamu juga merasa kan, kalau AC di kamar ini dingin banget? Aku juga nggak ngerti, remotnya eror atau bagaimana. Tapi emang benar-benar nggak berfungsi." Jelasnya.
Dan karena ucapannya, membuatku penasaran untuk turut mencoba remot yang katanya tak berfungsi itu. Aku langsung memencet tombolnya berkali-kali. Tetap, suhu di kamar ini tidak berubah. Dia benar, remot ini mungkin eror!
"Aku nggak tahan dingin. Kamu juga nggak mungkin kan, tidur tanpa selimut dalam suhu ruangan yang sedingin ini?" Tanyanya padaku.
__ADS_1
Aku diam saja menatapnya seraya menimbang keputusan apa yang aku ambil selanjutnya.
"Oh ya... aku lupa kalau di sini ada kursi yang bisa disusun. Oke kalau gitu. Kamu tidur di sini, aku di kursi," putusnya sepihak setelah bersikap salah tingkah sendirian, lalu dia punĀ mencoba berdiri dari posisinya. Mungkin karena keterdiamanku barusan ini yang langsung membuatnya mengambil sikap dan berinisiatif lebih dulu. Mungkin juga dia mengira, aku akan menolak mentah-mentah permintaannya yang sebelumnya.
Aku mendengus kesal. Bukannya senang, aku justru merasa sebaliknya. Dengan membiarkannya tidur di atas kursi kayu keras yang disusun memanjang dan tanpa selimut sama saja menjadikanku manusia jahat tak berperasaan!
Aku tahu betul dia pasti sama lelahnya sepertiku akibat rangkaian acara padat yang sungguh menyiksa sepanjang hari ini. Badan pasti makin remuk kalau dipaksa tidur ditempat keras seperti itu!
"Nggak perlu!" Cegahku yang langsung menghentikan geraknya.
Kini, Bian menatapku dengan postur tubuhnya yang telah berdiri sempurna. "Tidur aja di situ. Aku tidur di sebelahnya," putusku, lalu aku mulai mengambil tempat yang kosong dan merebahkan diriku dengan posisi memunggunginya.
"Buat malam ini aja. Kita bisa berbagi tempat tidur." Kataku.
"Makasih." Dia berucap disusul oleh gerakan kecil pada ranjang sebelahku, tanda bahwa kini sudah mulai kembali merebahkan dirinya di sana. Sementara aku hanya diam saja mencipta keheningan.
......________......
__ADS_1
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...