
Aku tertegun akan sikapnya yang aku bahkan merasa kalau dia menjadi lebih pengertian terhadapku. Padahal aku adalah tersangka yang menyebabkan Papinya anfal!
"Diminum! Kenapa nggak diminum-minum? Disuruh minum juga daritadi." Bian berdecak, menatapku dengan kernyitan di antara alis tebalnya.
Aku menghela napas. Mungkin kalau dalam kondisi normal pasti aku akan balas mencelanya, beradu argumen dengan dia. Mengingkari perkataannya. Bersikap menyebalkan di depannya tak peduli apapun. Tetapi hari ini kondisinya berbeda. Aku tak bisa bersikap seperti itu lagi sekarang. Lebih-lebih karena perasaan bersalahku pada Papinya yang entah bagaimana keadaannya sekarang.
Om Heri... gimana keadaannya? Apa Om Heri baik-baik saja? Otakku kini bertanya-tanya. Namun aku tak berani bersuara.
Lalu, demi menuruti titahnya, aku mulai meneguk teh kemasan dingin yang ada di tanganku. Cairan dingin yang mengalir melewati kerongkongan untuk sampai ke perut, membuatku sedikit lebih nyaman. Setelah rasanya cukup, aku menutup botol kemasan itu dan mengalihkan pandanganku padanya.
Bian terdiam. Tatapannya lurus ke depan, tapi kosong. Mungkin dia sedang memikirkan kondisi Papinya sekarang. Dia pasti sangat sedih dan khawatir, aku tahu betul itu. Meski dia sangat menyebalkan di depanku, tapi dia adalah anak bauj dan berbakti di mata kedua orang tuanya.
Dan, raut wajahnya yang tampak menyedihkan itu membuatku langsung berspekulasi aneh-aneh. Sungguh, Om Heri sudah baik-baik saja, kan?!!
"Bi," dia nggak menoleh. Tetap bergeming di tempatnya dan pandangannya yang kosong.
"Bi," panggil aku sekali lagi. Tapi dia masih juga diam.
Keterdiamannya membuat hatiku berderit gundah. Risau, khawatir dan takut lagi-lagi menyergapku membuatku luluh lantak dengan pikiran buruk. Apa yang sedang dipikirkannya? Itu bukan tentang Om Heri, kan??
"Bi!" Kali ini aku menarik lengan kemejanya. Membuatnya tersadar seketika. Berhasil. Akhirnya dia menoleh ke arahku. Matanya membulat seakan terkejut.
"Om Heri nggak pa-pa, kan? Kondisinya baik-baik aja, kan?!" Tanyaku khawatir sekaligus takut. Mengabaikan rasa terkejutnya yang baru saja kulihat.
__ADS_1
Takut. Ya, jelas aku takut. Bahkan teramat takut! Masalahnya hal ini adalah menyangkut nyawa seseorang. Terlebih lagi orang itu adalah Om Heri. Orang yang selalu baik padaku. Menyayangiku seakan aku ini putri kandungnya. Mana mungkin aku tak takut kalau benar terjadi apa-apa pada Om Heri!
Bian mengangguk perlahan. Dan, seketika itu aku langsung bisa bernapas lega.
Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan umur panjang untuk Om Heri! Ucapku bahagia tak terkira dalam hati.
"Bian, maaf." Ucapku akhirnya.
Aku yang tadinya hanya mampu menundukkan kepala pun kini mulai mendongakkannya untuk bisa menatap Bian setelah beberapa detik aku tak kunjung dapat tanggapan dari ungkapan maafku terhadapnya.
Bian kini sedang menatapku. Namun aku tak bisa membaca apa arti tatapannya itu. Aku tak mengerti dia menyiratkan perasaan apa lewat tatapannya. Antara sedih, khawatir, perasaan bersalah... aku tak tahu. Tatapannya tak mampu dibaca oleh mataku.
"Bian, maaf. Gue menyesal. Menyesal karena udah nggak dengerin omongan lo. Maaf," lagi-lagi air mataku rembes keluar. Nggak peduli udah sama Bian yang bisa aja anggap aku cengeng dalam hatinya.
"Maafin gue..." aku emang bener-bener menyesal. "Gue udah bahayain nyawa Om Heri..." lagi, aku kembali terisak. Air mata itu lagi-lagi menyesak paksa untuk keluar dari mataku yang tak mampu kutahan.
"Minta maafnya sama bokap gue, jangan ke gue." Katanya.
Aku manggut-manggut. "Pasti. Pasti gue langsung minta maaf sama Om Heri juga."
Bian melirikku sekilas. Lalu berkata, "Yaudah."
Tak berapa lama, dia pun berdiri. Aku yang masih bingung hanya memandanginya tanpa mengerti kenapa dia tiba-tiba berdiri. Apa pembicaraan ini sudah selesai?
__ADS_1
"Lo udah agak lebih baik, kan, sekarang?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ha?" Sungguh, aku tak mengerti pertanyaannya barusan. Kenapa kalimatnya itu membuat seolah dia... sedang mengkhawatirkanku(?)
"Telmi."
Aku sampai terperangah mematung akibat dari sebuah kata sadis yang baru saja dia keluarkan untukku. Sudah kuduga, Fabian Samudra jelas tak mungkin khawatir padaku! Sungguh aku telah memikirkan hal yang amat sia sia!
"Ayo, cepetan! Ngapain coba bengong di situ?!" Bian yang kini kembali membalikkan badannya setelah beberapa langkah jalan, memandangku dengan raut wajah yang teramat menyebalkan tentu saja.
"Iya, tunggu!" Aku langsung berdiri dan berderap setengah berlari untuk menyusulnya.
Untuk hari ini. Untuk hari ini saja. Aku harap aku bisa terus bersikap baik ke orang ini dan tak lagi menganggapnya musuh.
Demi Om Heri yang sedang terbaring sakit, aku harus bisa lebih bersabar untuk menghadapinya.
Namun, aku tetap berterimakasih pada Bian karena bersikap lebih pengertian alih-alih menyudutkanku dalam jurang perasaan bersalah.
______________________
P.S :
__ADS_1
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI