Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 6.2


__ADS_3

"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu!" Seru salah satu sepupu Bian yang tak kuhapal namanya itu tepat ketika kami berjalan masuk ke ruangan.


"Akhirnya pengantin baru datang juga!" Teriak Om Toro yang sangat-sangat tidak sungkan itu. Membuat orang asing yang lain pun jadi menengok ke arah kami. Ugh, dasar Om Toro!


"Lama banget sih, sampainya wahai pengantin baru?" seloroh Om Toro lagi.


"Maklumi aja dong, Om, namanya juga pengantin baru. Pasti butuh waktu buat berdua lebih lama."


Aku nyaris melotot kalau saja aku tak ingat akan sandiwara ini, saking kagetnya mendengar Bian bicara hal seperti itu dengan begitu santainya.


Wah, sebetulnya dia pernah latihan akting di mana sih? Bisa-bisanya dia selihai ini?!!


Dan, tentu saja hingar bingar teriakkan kata "ciye" atau batuk yang sengaja dibuat-buat atau pun suara tawa yang menbahana langsung merespon ucapan Bian tadi. Bahkan sepupu Bian yang usianya tampak tak jauh beda memberikan standing applause-nya untuk kami tanpa ragu.


Aku mendengus dalam hati. Padahal ini bukan lah acara penghargaan, kenapa harus seramai ini sih??

__ADS_1


"Udah yuk, duduk dulu. Kita makan dulu, nanti baru ngobrol lagi. Oke?" Titah Tante Wina, ralat, Mama Wina mengintrupsi.


Lalu semua orang pun mulai menyantap hidangan yang sudah disediakan di atas meja panjang itu. Tak terkecuali diriku yang sudah mengambil tempat di salah satu kursi.


"Hei, makanan kalian belum tersedia. Karena kalian telat, Mama jadi bingung mau ambilin apa?" Mama Wina tertawa kecil. "Nggak apa ya kalau kalian ambil sendiri?"


Kontan, aku mengangguk. "Iya, Mama, nggak apa-apa kok." Aku tersenyum, kikuk.


Aku baru saja hendak berdiri dari dudukku, namun seketika tertahan karena tangan Bian yang amat sigap menahan pundakku. Kepalaku mendongak, melihatnya yang sudah berdiri dari duduknya.


Nadanya terdengar begitu lembut di telingaku. Membuatku antara percaya atau tidak percaya kalau lelaki yang berbicara dengan nada lembut di depanku ini benar lah lelaki yang sama yg kulihat di kamar tadi.


"Hei, aku bicara loh sama kamu. Jangan bengong," Lalu dia menjawil pipiku pelan. Membuat beberapa orang yang tak sengaja melihatnya pun jadi terbatuk-batuk.


Aku nyaris tak percaya tentang hal ini kalau saja aku tak mengalaminya sendiri.

__ADS_1


Bian... Dia ini memang aktor ya rupanya!


"Jadi kamu mau makan apa? Mau aku ambilin apa?? Nasi goreng? Roti bakar? Bubur? Kentang goreng?? Mau apa? Hmm?" Dia memberikan tatapan seolah aku memang benar pacarnya. Ya, begitulah tatapan yang sering kulihat saat sepasang kekasih sedang bercengkrama.


"A... Roti bakar dan jus aja ya, kalau kamu tanya aku minum apa." Aku tersenyum kaku. Sementara dia malah tersenyum manis untukku sebelum akhirnya mengangguk dan mencubit pipiku pelan sebelum ia benar-benar pergi mengambil menu sarapan kami.


Aku tertegun. Sesaat aku merasa pikiranku kosong. Karena ulah dan akting Bian yang begitu hebatnya aku nyaris saja terbawa suasana. Aku menghela napas panjang sembari menyenderkan punggung ke kepala kursi. Sebetulnya agak tak nyaman juga bersandiwara seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Mana mungkin di hari pertama pernikahan kami ini kami malah ketahuan bertengkar.


Itu tak akan bagus, ya, kan?!



......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...

__ADS_1


__ADS_2