
Aku pun menghela napas panjang sambil memantapkan hatiku untuk bicara. Setelah perasaanku sudah mantap, aku pun mulai membuka suara. Dengan hati-hati aku mulai bicara.
"Ayah, Om Heri..." aku memandangi mereka bergantian. "Tolong batalin pernikahan itu. Aku nggak mau menikah!" Sembari menutup mata akhirnya kalimat itu terucap juga.
Syukur lah...
Aku tersenyum tipis. Perasaan lega langsung meliputiku. Hatiku plong rasanya. Bahkan sampai bisa membuat aku tersenyum dan berteriak girang dalam hati.
Dan, di saat aku membuka mata, seketika senyum yang tadi sempat menghiasi wajahku langsung lenyap.
Tatap-tatapan syok langsung mengulitiku. Ayah membulatkan matanya lebar-lebar, menatapku tak percaya. Begitu pula Om Heri!
"Re... Re... tadi kamu bilang apa? Papi salah dengar, kan?" Wajah Om Heri seketika itu pucat pasi. Tapi jahatnya aku, karena aku lebih memilih menutup mata akan hal itu. Aku tahu aku egois. Ya, aku memang egois!
Aku menggeleng. "Nggak, Om. Om, nggak salah dengar. Rere emang nggak mau menikah!" Apalagi nikahnya sama putra Om. Nggak mau...
"Rere! Jangan bercanda kamu!" Seru Ayah dengan wajah menahan marah. Warna wajahnya bahkan sudah berubah merah padam.
__ADS_1
Aku menggeleng lagi. Tetap kukuh pada pendirianku. Bagaimana pun aku tak boleh goyah! "Nggak, Ayah... Rere nggak bercanda. Hal ini samasekali bukan candaan, Ayah!"
"Rere! Kamu pikir pernikahan itu mainan? Yang bisa kamu batalin sesuka kamu?!"
Aku tak mengerti mengapa. Namun air mata itu tiba-tiba menyesak keluar dari mataku. Melihat kemarahan dan kemurkaan mereka di depan mata kepalaku sendiri membuatku menjadi serba salah. Apalagi saat mengingat bahwa bukan hanya mereka saja yang akan menyerang kemarahan kepadaku melainkan seluruh keluarga. Hal itulah yang membuat separuh dari hatiku bertanya-tanya, apakah jalan yang kuambil ini sudah tepat atau malah sebaliknya?! Aku pun tak tahu pasti!
"RERE!!" Bentak Ayah yang seketika sukses membuat air mataku jatuh meluruh nan semakin berderai hebat.
"Salah Ayah! Itu semua salah Ayah! Kenapa nggak bilangin Rere dulu sebelum ambil keputusan besar kayak gini?! Rere nggak mau dinikahin paksa. Rere nggak mau!!"
"APA?!" Ayah terlihat amat syok saat mendengarku berbicara seperti itu. Seolah-olah kalimatku barusan adalah hal yang baru didengarnya. Gelagat dan reaksinya seolah tak dapat memehami apa yang telah kukatakan padanya.
Reaksi ini bahkan tidak pernah aku harapkan sama sekali. Melihat mata Ayah yang berkabut amarah dan Om Heri yang menatap dengan perasaan mencekam padaku yang semakin mengerdil.
Skarang aku baru merasa... merasa bahwa aku telah mengambil keputusan yang salah. Sangat salah!!
"Re-re-rere,"
__ADS_1
Aku menoleh pada Om Heri yang memanggil namaku dengan terbata-bata. Genangan air mata yang begitu banyak menggenangi mataku membuat aku agak kesulitan melihat jelas ekspresi wajahnya.
"Aak... aakk... AKH!" Seketika itu Om Heri memegangi dadanya, nyeri. Dari raut wajahnya terlihat sekali kalau beliau sedang amat sangat kesakitan.
Aku melotot. Gundah langsung muncul dalam hatiku. Kepalaku menggeleng-geleng otomatis. Menyanggah kejadian yang padahal sudah bersiap menyapa di depan mataku. Nggak, itu nggak boleh terjadi!
Dan... "BRUKKK!!"
"OM HERIII!!"
"PAPIIIII!!"
______________________
P.S :
__ADS_1
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI