Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 5.5


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, suasana kamar ini pun berubah gelap tepat setelah Bian mematikan saklar lampu yang berada di sebelah nakasnya. Ruangan gelap memang adalah kesepakatan kami bersama. Sepertinya kami ada sedikit kesamaan dalam hal satu ini, lebih menyukai tidur dalam keadaan gelap.


Meski begitu, entah kenapa aku tetap tak bisa tidur. Aku tetap terjaga meski beberapa menit telah berlalu.


Dan, hal ini membuat otakku memikirkan hal-hal yang seharusnya tak kupikirkan. Termasuk, kebaikan-kebaikan Bian yang terasa ganjil untuk kuterima sepanjang hari ini.


Pertama, saat di mana acara resepsi sedang berlangsung, dia tak sungkan membantu gaunku yang panjang ketika aku berjalan hingga terpogoh-pogoh tanpa perlu diminta. Atau pun saat aku ingin minum atau makan sesuatu dia pun siap pasang badan untuk mengambilkan semua itu untukku. Tapi kupikir, kebaikan itu hanya sebatas formalitas saja karena kami sedang berada di depan banyak orang. Ya, bisa saja. Melihat perangai Bian selama ini kepadaku tentu kemungkinan dia berubah baik secara tiba-tiba itu sangat lah tidak mungkin jika bukan karena ada maunya!


Lalu yang kedua, yaitu pada saat aku membutuhkan bedak tabur untuk membantuku mengurai rambut yang kaku akibat hairspray. Entah dari mana dan sejak kapan dia mempunyai barang seperti itu. Apalagi aku sangat tahu, bedak tabur bukan lah barang yang bisa dimiliki oleh lelaki seperti dirinya.


Dan, terakhir, yang ketiga. Hal yang baru saja terjadi, yaitu... dia yang rela mengalah atas tempat tidur ini dan lebih memilih kursi keras itu agar aku bisa tidur dengan nyaman.


Stop! Bahkan ini sudah terlalu banyak bila hal-hal tersebut dilakukannya hanya karena dia tak mau penilaian orang yang buruk tentangnya merebak. Di kamar hotel ini mana ada orang lain selain kami. Maka tentunya, perbuatan baiknya itu bukan lah perkara untuk menjaga citra baiknya semata!


Jadi... ada apa dengan Bian? Kenapa dia bisa berubah dan bersikap sebaik ini padaku?! Apa mau dia yang sebenarnya?? Kenapa aku nggak bisa menebak apa yang ada di isi otaknya itu sih?!!


"Kamu udah tidur?" Tiba-tiba dia bersuara. Memecahkan keheningan, dan membuatku yang sedang berpikir keras ini refleks langsung meliriknya yang berada di belakang tubuhku.


Aku menarik napas. Suara beratnya yang dadakan itu sungguh membuat jantungku nyaris copot! Apalagi, baru saja aku memikirkan hal tentangnya!


"Baru mau." Kataku yang sekarang telah memejamkan mata.


"Kenapa? Susah tidur ya?" Balasnya dengan suara seperti tengah menahan tawa. Kenapa juga dengan suaranya itu?!


"Siapa juga..." aku mengelak. Membalikkan fakta yang ada. Maaf aku berbohong, ini karena gengsiku padanya! "Kalau kamu nggak ngajak ngomong, aku udah masuk alam mimpi kali!"

__ADS_1


"Oh ya? Maaf ya... aku pikir kamu juga susah tidur kayak aku,"


Mendengar alasan itu, mataku yang sudah kupejamkan langsung terbuka kembali secara otomatis. Apa katanya? Dia susah tidur??


"Kenapa?" Tanyaku yang mendadak penasaran.


"Apanya?"


"Kenapa susah tidur??" Kataku, memperjelas.


Bukanya langsung menjawab, dia malah mengeluarkan suara tawa kecilnya. Aku mengerut kening. Tak mengerti tentang arti tawanya barusan. Namun rasa-rasanya terdengar seperti suara tawa orang yang sedang salah tingkah.


Ehei... mana mungkin, seorang Fabian Samudra salah tingkah kepadaku?! Ha ha... nggak mungkin!


Masa iya, sama musuh sendiri dia masih bisa gugup??! Mataku mengerjap.


Maka, di detik itu juga aku bangun dari tidurku. Suara decitan ranjang juga gerakan di permukaannya tentu saja langsung membuatnya ikut bangun secara otomatis.


"Apa? Kenapa??" Tanyanya yang mulai kebingungan akibat gerakanku yang amat tiba-tiba.


Aku menatapnya lekat dengan mata membulat. Ekspresiku ini mungkin terlihat seperti baru saja aku melihat hantu.


"Kamu gugup? Kok bisa?!" Tanyaku tak habis pikir. Mengabaikan pertanyaan yang dia ajukan untukku sebelumnya.


"Ya, bisa lah. Namanya juga, aku cowok normal!" Dia malah membalasku sengit, seolah tak habis pikir dengan pertanyaanku.

__ADS_1


"Tapi aku ini... musuh kamu lohh!" Aku mencoba mengingatkannya kembali tentang posisi kami dari awal. Benar, kalau kami ini adalah musuh. Musuh bebuyutan malah!


Bian menatapku seraya menghela napas panjang. "Tapi kamu cewek bukan?"


Aku mengangguk.


"Masalah selesai kalau gitu!"


Lalu, tanpa mempedulikanku lagi dia kembali merebahkan dirinya pada posisinya semula. Tidur menyamping dan memunggungiku dengan punggung lebarnya itu. Sementara aku tetap memandanginya.


Ternyata benar ya, yang dikatakan Kania. Yang namanya laki-laki pasti tetap terpengaruh meski yang ada di hadapannya ini hanyalah perempuan jelek dan bahkan musuhnya sendiri!


Hahh... kata-kata "jelek" membuatku teringat akan peristiwa itu lagi. Sial! Sampai kapan sih, aku dibayang-bayangi permusuhanku dengan Bian terus?? Kalau begini terus, kehidupan pernikahan ini pasti tak akan bisa berjalan normal!


"Sampai kapan kamu mau terus duduk begitu? Kamu nggak tidur?" Ujarnya seraya menyipitkan mata. Tajam.


"Eh?! Iya... iya... ini juga mau tidur lagi kok!" Kataku, lalu aku pun kembali merebahkan diri dengan posisi menyamping seperti dirinya.


Baiklah... malam pertama dengan punggung saling berhadapan? Bukan masalah, kan!



......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...

__ADS_1


__ADS_2