Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 3.7


__ADS_3

Kenyataan apa lagi ini. Aku sampai bingung sendiri mendapati kenyataan ini. Aku dan Bian saling mengikuti di Instagram?


"Sejak kapan, sih??" Aku bingung sendiri.


Diam sejenak, aku berpikir keras. Kemungkinan aku mengikuti akun Bian dengan sadar tentu saja itu adalah 0%. Pasti, itu bukan aku. Tetapi...


"Ini pasti kerjaan Mbak Citra!" Tuduhku yakin.


"Iya, bener! Ini pasti kerjaannya Mbak Citra!!" Dengusku.


"Mentang-mentang kita dijodohin, terus akunnya jadi turut dijodohin juga. Iya, kan, pasti gitu! Siapa lagi coba yang bisa iseng begini kalau bukan Mbak Citra?!" Aku mendengus sebal. Saat dia pulang dari Super Market nanti aku harus memastikannya dan memberinya ultimatum tegas!


Bagaimana pun, keisengan Mbak Citra ini jelas sudah sampai batasnya. Aku nggak akan bisa memtorerir lagi! Huh.


Tin! Tin!


Kepalaku menoleh seketika. Suara klakson mobil yang terdengar ramah di telingaku membuatku tahu kalau Mbak Citra dan Mas Aji sudah tiba di rumah ini kembali. Yang artinya adalah waktu intrograsi akan dimulai!


Namun sebelum itu, aku harus menuntaskan niat pertamaku ini lebih dulu. Mengirimkan sebuah pesan rahasia kepada Fabian Samudra.


***


Sampai satu hari berlalu, urusanku dengan Mbak Citra belum selesai. Bahkan malah aku yang sengaja menunda untuk membahas perkara "follow akun Bian" itu padanya.

__ADS_1


Bukan, bukannya karena aku yang takut atau nggak berani membahasnya, hanya saja di rumah ini sedang amat hectic karena akan berlangsungnya acara pengajian sekaligus syukuran sore ini. Karena hal itu pula banyak sekali sanak saudara bahkan tetangga yang berlalu lalang masuk dan keluar rumah. Sibuk di sana dan di sini.


Sembari mata yang mengawasi halaman rumah lewat kaca jendela kamarku ini, aku tersenyum tipis. Keputusanku memang sudah amat tepat sepertinya untuk mengambil janji temu siang ini. Di mana keadaan rumah sedang sibuk-sibuknya.


Dan, benar, itu adalah janji temuku dengan Bian. Kemarin kami sudah membuat kesepakatan lewat Direct Message Instagram untuk bertemu dan bicara terakhir kalinya sebelum akhirnya acara pernikahan itu benar terlaksana lusa nanti. Meskipun sebetulnya kami sama-sama sedang dipingit, namun sepertinya Bian juga tak ambil pusing soal adat itu. Sama persis halnya denganku yang masa bodoh. Buktinya dia mau-mau saja tuh aku ajak bertemu siang ini!


Melihat matahari yang mulai terik, aku lantas menoleh ke arah jam dinding kamarku berada. Aku mendesah panjang. Sudah hampir pukul 11 rupanya, tanpa terasa waktu cepat sekali berjalannya ya...


Lalu, tanpa pikir panjang lagi aku lantas beranjak dari posisiku semula yang berdiri terdiam di sisi jendela kamar berada. Kemudian lekas berderap cepat menuju lemari. Mengambil jaket jeans belel yang paling terlihat karena letaknya yang berada di paling atas. Nggak lupa untuk membawa masker, topi seadanya dan kaca mata minusku yang sepertinya bisa berguna untuk penyamaran kali ini.


Iya, demi nggak ketahuan aku tentu harus mempersiapkan segalanya termasuk hal ini, bukan??


Berdiri di depan cermin, aku berkaca dengan gaya pakaian yang sedang kukenakan sekarang. Aku mengernyit. Merasa sedikit bersalah karena tampak agak serampangan, tapi... it's okay lah. Hanya bertemu Bian ini bukannya Dosen kok! Hehe.


Aku tersenyum tipis saat nggak kutemukan Mbak Citra, Mas Aji, Ibu, ataupun Ayah sejauh mataku memandang. Yang kutemukan hanyalah beberapa tetangga yang sedang mengobrol di lantai bawah sembari membungkus beberapa makanan kecil ke dalam satu tempat. Iya, kebiasaan di daerah rumahku memang seperti itu. Adat paguyubannya masih kental, tak heran kalau mereka saling bahu membahu secara suka rela jika tetangganya hendak punya hajat. Adat yang baik, yang mesti dipertahankan. Bukankah begitu??


"Oke, aman." Senyumku melebar.


Lalu, dengan hati-hati aku pun mencoba keluar rumah dari pintu kecil di halaman belakang berada tepat setelah aku melihat bayangan Ibu yang sedang mengobrol di halaman depan. Huh, untung saja aku nggak gegabah!


Pintu kecil di halaman belakang sebetulnya hanya sebuah pintu darurat kalau-kalau diperlukan untuk mengatasi keadaan genting, seperti bencana alam atau kebakaran misalnya. Tetapi karena saat sekolah dulu aku sering kabur lewat pintu ini, jadilah pintu ini dikunci rapat oleh Ayah. Bahkan, tepat di depan pintu itu sudah dihalangi batu... eh, tunggu dulu!


Dahiku mengernyit saat tak kudapati batu besar di sana yang padahal seingatku Ayah selalu meletakkannya di sana sampai aku malas untuk kabur pada akhirnya. Tapi... ke mana batu itu sekarang??

__ADS_1


Tanpa sadar aku malah berpikir, memikirkan keberadaan batu besar itu yang hilangnya terasa ganjil.


Akh, mungkin saja karena akan ada acara di rumah ini makanya batu itu dipinggirkan karena pintu ini harus dipakai?! Otakku mulai berasumsi. Yang langsung kubenarkan dalam hati. Karena memang bisa saja seperti itu!


"Nainaaaa!!"


Aku terkesiap seketika. Mataku membulat lebar dan bahkan jantungku sampai berdegup cepat sekali saking kagetnya diriku mendengar suara teriakkan Mbak Citra yang sedang memanggil sepupu kecilku yang bernama Naina. Yang suaranya seakan sedang menuju ke arah sini.


"Aish!" Dengan gerak terburu-buru aku lantas membuka pintu itu untuk langsung menutupnya begitu aku berhasil keluar dari sana.


Namun, betapa terkejutnya aku saat kulihat sosok itu yang sedang berdiri tegap membelakangiku. Posisinya santai dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana. Dari gelagatnya itu... seakan dia memang sedang menungguku di sana.


Lantas, aku mendekat. Tanpa pikir panjang lagi aku berdiri di depannya. Memastikan wajahnya, kalau itu benar adalah dia.


Mataku mengernyit. "Fabian?? Kok lo bisa di sini??"



_____________________


P.S :


Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI

__ADS_1


sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI


__ADS_2