
"Nggak usah gugup," Bisik Bian di telingaku. "Santai aja, okai?
Aku meliriknya, lalu mendengus. Siapa pula yang gugup? Huh!
Saat ini kami sudah tiba tepat di depan pintu restoran hotel ini berada. Tertahan sebentar karena kami ingin lebih banyak persiapan. Jelas, menyiapkan banyak amunisi itu lebih baik untuk memudahkan kami meraih trophy kesuksesan panggung kami hari ini.
Selagi menunggu aba-aba dari Bian, mataku berpendar ke dalam ruangan resto itu berada. Suasana di dalamnya tampak ramai dari luar pintu kaca di mana aku berdiri saat ini. Bahkan sejauh mataku memandang, wajah-wajah yang familiar pun tampak jelas sedang menikmati sarapan mereka sambil bersenda-gurau.
Saat tatapanku berpindah ke arah sudut yang lain, seketika aku tersenyum saat kulihat salah satu sepupuku tampak menyadari kehadiranku di sini. Wajahnya berubah antusias dengan sudut bibir yang tertarik ke naik dengan lebarnya, dia tersenyum cerah untukku. Sedangkan tangannya melambai-lambai ke atas. Dari gerak bibirnya aku bisa menyimpulkan kalau dia mengucapkan kata, "Di sini!" Kepadaku.
Rasanya tubuhku bagai kutub magnet yang ingin segera mendekat padanya. Terlebih itu karena perutku sudah berbunyi sejak tadi.
Iya, benar, aku memang sudah kelaparan!
"Eitsss!"
Di saat itu pula tubuhku tertarik ke belakang, begitu cepat hingga aku nyaris tidak menyadarinya. Magnet yang tadi sempat kupikir sudah paling kuat dayanya ternyata bisa lepas juga akibat tarikan tangan besar ini!
__ADS_1
Aku melirik kesal pada orang yang kini begitu rapat menempel dengan bahuku. Tangannya bahkan tak ragu untuk berada di pinggangku. Dengan cepat aku ingin sedikit memberi jarak di antara kami, tapi lagi-lagi tangannya yang berada di pinggangku menarikku sigap tuk lebih dekat lagi. Membuatku tak bisa jauh lagi darinya.
Ya ampun... Nggak bisakah dia sedikit menjauh dariku??
"Pagi ini kita nggak boleh terpisah. Kita harus mirip surat dan perangko yang nempeeel terus,"
"Nggak mau!" Sekali ini aku ingin membantahnya. Sekali ini.
Lalu, kudengar embusan napas keras dari sebelahku. Tak berapa lama dia menurunkan kepalanya. Mensejajarkan bibirnya pada telingaku. Dia pun berbisik, "Fine... Tapi bukan salahku kalau konsekuensinya jadi naik 2 kali lipat?!"
Dan, aku pun menjadi diam seribu bahasa karena tak berdaya berkat ancaman jitunya barusan.
"Nah, begitu dong istriku yang manis..." Kali ini dia tersenyum lebar. Aku hanya menatap matanya beberapa saat sebelum akhirnya aku mengikuti cara mainnya, (pura-pura) tertawa lebar.
Meski sebetulnya dalam lubuk hatiku terdalam aku sangat ingin menginjak kakinya, memberinya pelajaran. Tapi niat burukku itu sepertinya memang harus kuurungkan demi nama baik pernikahan yang belum ada sehari ini.
"Senyum," Dia memperingati. Yang entah bagaimana membuatku terdikte otomatis. "Jangan kaku. Luwes,"
__ADS_1
"Iya, bawel!" Bisikku kesal sendiri selagi menjaga wajah penuh senyum untuk semua orang.
Tiba-tiba Bian mengencangkan rangkulannya pada pinggangku, membuatku terkesiap karena gerakannya yang tiba-tiba itu. Terlebih, karena kini tubuh kami sudah menjadi lebih rapat lagi.
Astaga... Hal seperti ini sungguh di luar kontrolku!
"Tolong jaga sikap kamu atau... Semuanya jadi berantakkan." Tegasnya lagi-lagi dengan berbisik.
Aku melirik ke samping. Bian tampak begitu luwes dengan perannya. Lihat, senyuman itu bahkan sangat mewakili wajah pengantin baru yang sedang kasmaran! Sangat berbeda sekali denganku yang kakunya masih begitu terasa.
Aku mendengus. Tekadku sudah bulat. Mari kita sukseskan rencana ini! Semangat Rere!! Tekadku keras dalam hati.
......________......
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...
__ADS_1