
Mataku melirik ke arah Bian, lalu tersenyum tipis. Setidaknya, aku bersyukur karena semua masih baik-baik saja.
Tepat hari ini, kurang dari seminggu lagi pernikahanku dengan Bian akan terlaksana. Persiapan sudah amat sangat sempurna, katanya.
Ya, itu karena aku yang nggak tahu menahu tentang semua itu. Ibarat sebuah boneka, aku hanya cukup duduk manis dengan senyum sampai menunggu waktu sesungguhnya tiba.
Rasa sesalku sudah aku tekan dalam-dalam di hati. Diriku mengikuti tiap prosesnya meski harus dengan setengah hati. Berkat pikiran untuk membahagiakan semua orang aku bertahan meski nyatanya cukup sulit untuk dilakukan.
Contohnya? Saat ini.
Saat di mana kami harus bertemu untuk acara pengenalan antar keluarga sebelum pernikahan. Nyatanya, meski kami tak berdua-duaan saja dan ada begitu banyak kerabat dan saudara yang hadir, tetapi tetap saja jika cowok itu berada di sekitarku aku masih merasa risih. Apalagi kalau dia duduk di dekatku seperti ini. Ugh, ingin rasanya aku pindah tempat segera!!
Aku melirik Bian yang duduk di sisi kananku sedangkan sisi kiriku hanyalah dinding berjendela rendah yang sedang terbuka lebar akses di mana angin bisa masuk dan keluar. Meja ini panjang. Nahasnya aku dipaksa duduk di tempat yang paling ujung.
Sejak tadi aku tak bersuara. Hanya diam di tempat mendengarkan orang lain bicara sambil mengaduk-aduk jus stroberi di depanku.
"Tuk!" Suara tulang sikut yang beradu membuatku meringis. Aku melirik kesal ke samping. Ke arah Fabian Samudra yang tidak lain dan bukan adalah pelaku utama!
"Apa?" Tanyaku kesal setengah berbisik padanya. Begini, suara tanyaku pasti akan mengundang kontroversi bila didengar orang lain. Apalagi yang sekarang ada di sekitar kami adalah keluarga, tentunya aku nggak mau sampai mengundang masalah bila ketahuan bersikap kasar pada calon suamiku ini.
"Dari tadi diajak ngomong diam aja sih?!" Jawabnya dengan suara tertahan. Matanya mendelik lebar padaku. Lalu, kepalanya mendekat ke arah telingaku. "Tolong, fo-kus!" Ucapnya penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Aku menghela napas pasrah. Karena sedang berada di depan publik tentunya aku nggak bisa bersikap semau hatiku. Dan, meski agak berat mengakuinya, aku tahu kalau Bian khawatir tentang pandangan orang lain mengenai diriku yang tengah bersikap acuh tak acuh ini.
Dengan kemampuan merubah ekspresi wajah dalam sekejap. Aku lantas menyunggingkan senyum ramah di hadapan para kerabat keluargaku dan keluarga Bian. Memasang topeng yang tebal akan jauh lebih baik daripada ketahuan.
"Maaf ya, semua... daritadi aku agak nggak fokus. Kepikiran skripsi yang masih banyak revisi," aku nyengir. Begitu cerdasnya diriku sampai bisa menemukan alibi yang amat jitu ini.
Bian yang di sebelahku ikut tertawa merespon alibiku. Dia mengangguk-angguk mengiyakan perkataanku. Dengan kata lain, Bian ini sedang membantuku dalam situasi krisis semacam ini. Demi imej, Bian yang selalu populer tentu nggak akan mau bila pandangan orang yang dikabarkan saat ini dekat dengannya jatuh. Pasalnya, bila hal itu terjadi bukankah dia pasti akan ikut jatuh juga, kan?
"Oh, iya, Rere masih kuliah ya?" Tanya salah satu Budhe Bian yang aku lupa siapa namanya dengan logat jawa yang cukup kental.
Aku mengangguk, tak lupa seraya memasang senyum. "Iya, Budhe."
"Loh, kok bisa? Bukannya kalian itu seumuran? Rere telat masuk kuliah apa gimana?" Tanya kerabat Bian yang satu lagi ingin tahu. Yang duduknya tepat di hadapanku.
"Dia ambil cuti, Mbak." Tukas Bian cepat-cepat. Hingga aku yang sedikit terkesiap karenanya pun meliriknya bingung.
Mataku menyipit untuknya. Menilai. Apa ini salah satu bentuk perlindungan harga dirinya??
"Oh, gitu yaa..." respon mereka sembari mengangguk-anggukkan kepala.
Lalu, obrolan tanpa batas pun mengakar ke mana-mana. Seolah tak kehabisan topik bahasan, mereka semua asik bicara tanpa henti. Sementara aku sendiri yang sepertinya mulai bosan.
__ADS_1
Saat melirik jam di tangan, aku mendapati kalau hari sudah mulai sore. Mataku secara instan langsung mengarah ke seluruh penjuru ruangan satu lantai ini. Meneliti satu persatu wajah yang tampak sudah senja dengan usia mereka. Aku mencari seseorang. Sosok yang amat kurindukan sejak kepulanganku ke tanah air, Eyang Uti!
"Uti belum sampai ya?" Aku menggumam tampa sadar. "Apa macet?" Tanyaku pada diriku sendiri. Lekas, aku mengambil ponsel yang tadinya sengaja kumasukkan ke dalam tas agar bisa lebih fokus pada jalannya acara.
Seperti tubuh yang sudah diatur, diriku lantas berdiri dari dudukku tanpa bisa dicegah sampai ketika tangan Bian menarik ujung kemejaku hingga membuatku dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Mau ke mana?" Tanyanya.
"Oh, iya!" Bukannya langsung menjawab pertanyaan Bian, aku malah melengos darinya untuk melihat kerabat Bian yang duduk berjejer di depanku. "Maaf, semua, aku mau izin nelepon dulu ya... sebentar."
Wajah senyum dan anggukkan kepala yang menanggapi pertanyaanku langsung membuatku puas dan untuk itu aku lekas berbalik pergi. Namun, langkahku tertahan akibat tarikkan tangan Bian pada ujung kemejaku.
Duh, apa lagi sih ini?!!
______________________
P.S :
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
__ADS_1
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI