
Aku jadi tak banyak bicara. Semenjak pertemuanku dengan Bian kemarin, aku berniat mengunci bibirku rapat-rapat. Bukannya aku marah atau kesal, aku hanya nggak mau kelepasan mengucapkan hal yang tak semestinya kuucapkan.
Amarah dan kesalku sudah menguap sejak kuputuskan untuk membuang egoku jauh-jauh demi keluargaku yang kucintai.
Penyesalan selalu datang belakangan...
Benar! Tapi mau bagaimana pun penyesalan akan datang jauh lebih besar bila kehilangan seorang yang dikasihi dibanding mengorbankan diri sendiri!
Mataku berkelana pada sekitar. Aku sudah tak bersama mereka meski nyatanya tempat dudukku masih berada di dekat mereka. Tiap-tiap wajah kuperhatikan baik-baik. Aku mencari beliau. Tapi sejauh mata memandang tak bisa kutemukan wajahnya di rumah ini. Nihil. Lalu ke mana perginya?
Aku lantas menoleh pada Mbak Citra yang ternyata masih asyik mengobrol seru dengan Tante Rima dan Kania. Nggak peduli meski mereka sedang asyik sekali pun, karena nyatanya rasa penasaranku ini lebih besar!
"Mbak, Uti belum datang ya? Kok aku nggak lihat Uti dari tadi??"
Mbak Citra tampak membulatkan matanya sedikit kala dia menoleh padaku. Aku mengernyit, bingung akan ekspresinya yang seolah terkesiap dengan pertanyaanku barusan.
"Uti??" Tanyanya balik. Aku mengangguk cepat. "Aaa... Uti," dia menoleh ke samping setelah menggigit bibir. Aku menyipitkan mata. Gelagatnya yang aneh membuatku makin tambah penasaran.
"Yang lagi diomongin ini... Uti siapa sih?" Kania ikut membuka suara. Berkatnya, tatapan tajamku pada Mbak Citra langsung teralihkan. Kini, aku ganti menatapnya tajam.
"Uti... Eyang Uti, masa lupa sih Kania sama panggilan Uti sendiri?!" Balasku yang sepertinya terdengar agak sinis di telinga. Tanpa sadar, aku sudah bersikap ketus pada saudaraku sendiri. Entah lah. Sepertinya, pembicaraanku dengan Bian kemarin agak banyak membuatku jadi lebih sensitif.
__ADS_1
Kania lantas terdiam. Dia bergeming terpaku dan hanya menatapku dengan tatapan datarnya. "Mbak Rere..."
Aku balas menatapnya tanpa menjawab. Sementara ekspresinya masih sama. "Kok Mbak Rere tanya-tanya Uti lagi sih?? Uti, kan--"
"Kania! Kamu dipanggil Mamah kamu di sana! Buru gih," Tante Rima mengintrupsi tiba-tiba, membuat Kania langsung berjengit. Wajahnya berubah gusar. Kentara sekali bahwa dia benar-banar ada urusan penting dengan Mamahnya.
Lalu, tanpa tedeng aling-aling dia pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan lingkaran kecil kami di sini. Juga, meninggalkanku yang padahal masih menunggunya melanjutkan kalimat setengahnya itu. Ck!
"Rere, masuk kamar gih! Istirahat. Besok kan kamu mesti bangun pagi buat makeup." Seru Tante Rima.
"Aku mau nunggu Uti dulu, Tante. Nanti aku tidurnya mau bareng Uti," balasku.
"Kamu nggak usah nungguin Uti. Uti kayaknya nggak ke sini hari ini..." jelas Tante Rima yang seketika membuatku kecewa.
"Ada urusan mendesak. Pokoknya Uti nggak bisa ke sini." Jawabnya lagi.
Aku mendesah panjang. Satu kata yang ada di benakku sekarang, kecewa. Tapi mau bagaimana, urusan itu sepertinya penting dan tak bisa dihindari. Mengorbankan waktu bertemu denganku hari ini sepertinya nggak masalah dibanding tak bisa menyelesaikan urusan itu, bukan?
"Yaudah kalau begitu," mau tak mau aku harus mengerti. Sekarang aku sudah dewasa. Besok saja aku sudah akan menikah. Tentu, aku nggak bisa selalu bergantung dengan Uti. Meski sebetulnya saat ini aku sedang amat butuh bersandar di dada beliau sembari mengatakan segala hal yang mengganjal di hati ini.
"Tapi besok Uti datang kan, Tant??" Tanyaku lagi.
__ADS_1
Tante Rima tersenyum. Senyuman manis dari simpul-simpul bibir yang ditarik tinggi.
"Udah pokoknya, Rere harus istirahat sekarang. Cepat masuk kamar, tidur... biar fresh buat acara penting besok!" Tegas Tante Rima, lalu dia memapah diriku ke arah tangga menuju lantai dua berasal.
Selagi melangkah, aku kembali menoleh ke belakang. Ke arah Mbak Citra berada. Yang ternyata juga sedang menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Membuatku nyaris berspekulasi yang bukan-bukan andai saja dia tidak tersenyum dengan begitu lebarnya seperti itu.
Aku lantas membalas senyumnya sebelum berakhir menaiki tangga menuju lantai dua.
Sudah lah, Re, Mbak Citra bukan orang yang pantas dicurigai! Hatiku menyeru.
Lalu aku mengalihkan perhatianku pada Tante Rima yang masih menghela tanganku. Aku tersenyum padanya, memintanya untuk mengantarku sampai di sini saja. Yang kemudian langsung disetujui olehnya tanpa ada banyak pertanyaan. Lalu kami pun berpisah di batas pertama anak tangga terbawah. Tante Rima pun kembali menemui keluarga besar kami yang masih sibuk dengan kotak souvenir juga berbagai pernak-pernik lainnya. Sementara aku langsung berderap menghabisi anak-anak tangga ini sampai atas. Mengunci kamar seorang diri.
Benar, sepertinya diriku ini sedang butuh waktu sendiri. Dan, mungkin Uti tahu betul itu.
Aku tersenyum.
...
...________......
__ADS_1
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...