Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 3.1


__ADS_3

Uti sungguh nggak hadir persis seperti yang dikatakan Mbak Citra.


Aku menghela napas panjang setelah lagi-lagi kulirik ponsel yang teronggok di atas meja di sisi gelas Ice Lemon Tea-ku. Bahkan, Uti pun nggak balas pesanku sampai kurang lebih satu jam ini aku menunggu.


Huh. Segitu sibuknya ya, Uti merawat Mbok Sum? Sampai-sampai pesan cucunya ini saja terabaikan!


"Jadi setelah nikah kalian rencana tinggal di mana?" Pertanyaan seputar kami pun kembali muncul. Entah kenapa hari ini semuanya ingin tahu kehidupan kami, aku dan Bian.


Jika aku nggak menjawab pasti akan jadi masalah. Asal nggak apa, yang penting dijawab saja!


Lalu, dengan santai aku pun menjawab secepat yang kubisa, "Sewa rumah."


"Di apart-ku, sementara."


Mataku langsung melirik sosok yang lagi-lagi duduk di sebelahku. Sialnya, kami menjawab nggak kompak. Lebih sial lagi di waktu yang bersamaan.


Orang-orang di depan kami pun tertawa. Menertawakan kami yang kini saling bertatapan sengit. "Akh, gimana sih kalian berdua. Nggak kompak banget jawabnya. Janjian dulu kek sebelumnya. Kan biar kelihatan pasangan serasi di mana pun dan kapan pun," seloroh Mbak Puji, salah satu kerabat Bian yang usianya hanya terpaut dua tahun di atas kami. Nggak heran kalau dia bisa bicara sesantai itu.

__ADS_1


Bian menyudahi perang mata kami dengan dengusan lalu dia pun melengos. Dalam sekejap mata saja dia sudah mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih ramah. Tawanya pun berderai renyah di telinga.


Aku berdecih. Bisa banget yaa, aktor kita satu ini!


"Rere emang kurang briefing, Mbak, gitu deh jadinya..." Bian nyengir.


Dalam hati aku sudah mengumpat-umpat dirinya. Kurang briefing apanya?! Malah dia nggak pernah beritahu aku sama sekali! Dasar lempar batu sembunyi tangan!!


"Eh, eh! Kok gestur kalian berdua kaku banget sih, kayak pasangan perjodohan aja?!" Kali ini Rima, sepupuku yang berujar usil.


Aku diam saja. Meski dalam hati sebetulnya aku sudah berteriak dengan keras mengiyakan.


"Hei, kok kalian berdua diem aja sih??" Rima mengernyit. Menatap kami penuh kecurigaan. "Jangan diem aja gitu dong! Kan, kita jadi berpikir kalau kalian emang dijodohin..."


Wah, gawat!


Dengan buru-buru kusanggah ucapan Rima itu. Kalau bukan karena Ayah yang meminta padaku semalam untuk menutupi perjodohan itu dan membuatnya seolah-olah pernikahan itu adalah kemauan kami berdua... yah, kalau bukan karena Ayah aku mana mau begini!

__ADS_1


"Ih, mana ada!" Aku nyengir. Lalu menoleh ke samping. Sementara Bian menatapku dengan kernyitan dalam. Aku yakin, dia pasti sangat kebingungan sekarang.


"Kita nggak gitu kan, Bi??" Aku sudah membuat kode untuknya dengan gerakan mata. Tapi dia yang nggak peka itu sama sekali nggak mengerti. Bian masih saja menatapku terpaku seolah-olah diriku saat ini adalah suatu keajaiban di dunia ini.


Nggak menyerah, aku masih berusaha membuat Bian berkompromi denganku. "Kalian nggak tahu aja... kita ini biasanya romantis banget. Iya, kan, Bi?"


Sekali lagi aku buat kode dengan mataku. Tapi lagi-lagi dia diam saja. Aih, orang ini benar-benar deh!


"Bian, kayaknya lagi kurang fokus... dia jadi diam aja gini." Aku tertawa sumbang pada orang-orang di depanku yang malah terkikik dan bahkan ada yang bersiul menggoda. Yah, setidaknya aktingku berhasil untuk mereka yaa... huh.



______________________


P.S :


Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI

__ADS_1


sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI


__ADS_2