
Lelahnya hari ini terbayarkan seketika setelah aku mendapatkan kartu sebuah kamar hotel yang memang letaknya berada tepat di depan gedung acara resepsi di mana pernikahan ini dilaksanakan. Maka tak heran kalau aku bisa secepat ini sudah duduk nyaman di tempat ini, beristirahat. Padahal baru sekitar lima belas menit saja aku meninggalkan lokasi acara.
Ya, tepat setelah acara resepsi selesai, Tante Wina, ah maksudku, Mami Wina... datang menemuiku dan memberikanku barang tersebut, maksudku kunci kamar hotel. Entah sejak kapan beliau melakukan reservasi, aku pun tak akan banyak tanya jika sudah difasilitasi tempat istirahat sebagus ini.
Ah... nyamannya! Aku merebahkan diriku tepat di atas ranjang empuk berseprai putih ini. Tak peduli meski kaki dan tanganku kurenggangkan lebar hingga menghabisi wilayah ranjang. Yang jelas, hal ini perlu dilakukan agar capeknya tubuhku ini bisa lekas menghilang!
Rasa letih yang terasa menggeluti tubuh ini membuatku ingin memejamkan mata walau hanya sebentar. Setidaknya lima menit saja.
Namun ternyata bukannya sebentar seperti yang aku pikirkan melainkan malah sebaliknya. Pada kenyataannya setelah aku tersadar, rupanya aku menemukan dia sudah terduduk di atas kursi itu lengkap dengan piyama tidur dan rambut yang basah seperti dia baru saja selesai membersihkan diri.
Kontan, hal itu membuatku bangun dan terduduk dari posisi tidurku seketika. Mataku membulat lebar dengan tangan yang memeriksa sekujur tubuh tanpa sadar. Astaga! Jadi sejak kapan dia masuk ke sini??
"Tenang... pakaian pengantin kamu masih utuh tuh!" Dia tertawa kecil, dan pernyataannya langsung membuatku menghela napas lega seketika.
"Sebegitu takutnya ya, aku apa-apain?"
Aku lantas menatapnya yang sudah menatapku lebih dulu. Aku mengangguk tegas sebagai jawaban pertanyaannya. "Jelas! Dengan status pernikahan dan predikat istri, tentu aja gak ada kata haram kalau Anda ngapa-ngapain saya!" Ugh! Daripada lo-gue lebih baik saya-Anda, kan?
Fabian mengerutkan keningnya. Matanya pun menyipit, berikut tangannya yang sudah diubahnya menjadi dilipatnya di depan dada. Aku tentu merasakan bahwa aura di sekitarnya langsung berubah serius. Membuatku langsung memasang sikap pertahanan diriku darinya. Karena aku tahu dia pasti hendak melakukan sesuatu!
__ADS_1
"Hm... tadi kamu bilang apa? Coba ulangi sekali lagi," katanya membuatku mengernyit. Segini dekatnya masa iya dia nggak bisa dengar kalimatku dengan jelas sih?
Namun tak ada pilihan lain lagi selain aku harus mematuhinya. Mengulang apa yang aku ucapkan nyaris persis seperti yang aku ucapkan sebelumnya dan sedikit membuatnya lebih jelas. Ini adalah upayaku agar dia tidak lagi memintaku untuk mengulanginya. "Jelas takut! Dengan adanya status pernikahan dan predikat suami-istri... maka itu, nggak ada kata haram buat Anda nyentuh saya, kan??"
Dan, tiba-tiba Fabian malah tertawa. Tawanya terdengar garing dan aneh di telinga, membuatku sadar bahwa tawanya itu adalah sebuah ejekkan darinya untukku!
Sialan, makiku dalam hati.
Dia berdiri dari duduknya tiba-tiba, membuatku mengerut kening dan terus memerhatikan gerak-geriknya. Perlahan namun pasti, Bian melangkah maju selurus dengan posisinya berdiri yakni tepat mengarah kepadaku.
Senyumnya yang kini sirna makin membuatku takut, apalagi dia terus makin mendekat padaku. Aku yang kebingungan hanya mampu menyiapkan kepalan tangan yang berada di samping tubuhku, berjaga-jaga takutnya dia nekat melakukan sesuatu hal yang tak diinginkan!
Dan sekarang dia sudah berada tepat di depanku. Tubuhnya yang jangkung membuatku harus sedikit mendongak untuk bisa menatap wajahnya yang memang berada jauh di atasku.
Aku meneguk ludah. Posisi yang amat berbahaya! Dasar! Berani-beraninya ya dia begini padaku!!
Menyiapkan posisi, aku nyaris saja meninjunya agar dia terjengkal andai saja dia memajukan wajahnya satu centi lagi. Namun karena wajahnya malah beralih pada sisi lain, maka kuurungkan niat itu.
Benar, kini dia beralih pada telingaku. Napasnya bahkan sampai terdengar jelas yang menandakan bahwa dia memang sedekat itu denganku! Astaga...
__ADS_1
"Hei, perjanjian kita tadi pagi bukannya sebatas panggilan aku-kamu? Kenapa tiba-tiba jadi berubah Anda-saya? Hmm,"
Aku bahkan sampai bergidik saking merasa ngerinya atas intonasi suara berat itu berucap padaku. Ini seperti peringatan tegas yang mematikan! Sungguh!!
"Jangan diulangi lagi ya? Atau..."
"Atau...." tanpa sadar aku malah mengikuti kalimatnya.
"Atau kamu dapat konsekuensinya." Jawabnya.
"Konsekuensinya apa?" Tanyaku lagi. Entah apa yang sedang kupikirkan sampai aku menimpalinya terus.
Dia tak langsung menjawabku. Kini, dia malah menjauhkan wajah berikut tubuhnya dariku. Yang otomatis membuat akses jalanku tak lagi terblokir olehnya.
"Hm..." dia mengerut keningnya, tampak sedang berpikir sejenak. "Suatu hal yang gak ingin kamu lakukan sama aku... mungkin," katanya sembari tersenyum miring.
Aku memekik histeris dalam hatiku seketika. Ya Allah... jadi apa yang ada di pikirannya itu?!!
__ADS_1
......________......
...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...