Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 5.1


__ADS_3

Aku bergidik ngeri sendiri memikirkan apa yang dia katakan barusan. Karena apa yang dia maksudkan pasti suatu hal yang negatif dan tentu saja hal yang tidak-tidak. Iya, benar! Aku amat yakin dengan itu!!


"Jadi... kita sepakat kan?" Tanyanya dengan senyuman yang tampak manis namun amat mengintimidasiku itu.


Sesungguhnya aku ingin mengingkarinya dan berkata tidak. Namun dirinya yang sedang berada di hadapanku ini tampak mengerikan. Meski dia tersenyum manis layaknya malaikat, namun di dalamnya justru sebaliknya. He's really like a demon!


Akhirnya, aku pun menganggukinya meski dalam keadaan terpaksa. Dia pun langsung tersenyum cerah.


"Nah, gitu dong!" Lalu dengan jahilnya tangannya itu malah mengacak-acak rambutku yang bahkan masih tersanggul.


"Ih, jangan diacak gitu dooong! Sakit ini... ketarik-tarik!" Jengkelku padanya. Aku mendengus.


Sementara dia nyengir tanpa dosa, lalu berkata, "Sorry,"


Aku berdecih jengah sembari bangkit berdiri dari posisi dudukku. Tak aku hiraukan lagi dia. Sekarang aku hanya ingin mandi! Membersihkan tubuhku yang sudah lengket ini, terlebih lagi melepaskan segala riasan tebal ini dari wajahku juga kepalaku! Rambut yang kaku nan berat akibat sanggulan. Ugh, sungguhan... aku sudah sangat nggak betah!


"Eh, mau ke mana?" Tanyanya, tepat setelah aku melewati tubuhnya yang tinggi itu.


"Mandi lah, masa ke kantor polisi!" Balasku jengkel, dan dia malah tertawa terbahak.

__ADS_1


Senang ya sudah membuat aku kesal? Dasar Fabian nyebelin!!


***


Kata orang, malam pertama pernikahan adalah hal indah yang tak akan bisa terlupakan seumur hidup.


Salah besar!!


Karena aku... justru malah merasa sebaliknya!


Malam pertama pernikahan bagiku malah seperti nightmare yang amat mengganggu dan membuatku takut!


Aku mendesau panjang.


Dari dalam kamar mandi, aku hanya terdiam di depan kaca wastafel. Berdiri menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan diri dari sini. Suara berisik televisi yang sudah ada semenjak satu jam yang lalu bahkan tetap membuatku tak nyaman. Dari dalam sini sungguh aku penasaran apa dia sudah ketiduran atau belum?


Aku menggigit bibir. Menggerak-gerakkan kakiku, gelisah. "Gimana nih, masa iya aku harus di sini sampai tengah malem sih??" Gumamku sendirian.


Aku menghela napas. Kakiku bahkan sudah terasa kebas akibat kesemutan karena saking lamanya aku berdiam diri dengan posisi yang sama. Berdiri. Sudah berapa lama ya kira-kira? Entah lah, yang jelas terasa amat lamaaa sekali buatku. Bahkan rambutku saja sudah hampir mengering karenanya!

__ADS_1


Sesungguhnya... aku takut. Takut, kalau-kalau jika aku sudah keluar dari sini dia akan langsung menerkamku selayaknya hewan buas yang kelaparan tak diberi makan, seperti yang Kania bilang sebelum ia pamit tadi.


Aih, sial! Gara-gara omongannya Kania, aku jadi parno sendiri, kan?!!


"Tuk! Tuk!"


Aku terkesiap seketika. Jantungku langsung berpacu dengan amat cepatnya. Mataku menyalang pada letak pintu berada. Oh, tidak! Harapanku pupus sudah... dia memang belum tidur!


"Re..." kini, suaranya memanggilku. Membuat diriku makin gelisah tak keruan. Kenapa dia nggak langsung tidur aja sih, tanpa perlu peduli padaku?!


"Re, kamu nggak pa-pa, kan??" Suaranya bernada khawatir. Aku menggigit bibir. Bingung harus bagaimana menjawabnya.


Alasan apa yang harus kubuat agar dia tak perlu menungguku? Aku mulai berpikir keras lagi.



......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...

__ADS_1


__ADS_2