
"Bohong apa??"
Lalu, dengan datarnya dia menjawab. "Tentang kita adalah pasangan romantis." Dia mendengus. Dengusan yang terdengar kesal di telingaku. "Kenapa harus pura-pura segala? Lo mau main panggung sandiwara di sini??"
Kalimat yang sinis dilengkapi dengan nada suara yang amat menyebalkan. Bian memang paling jago ya merusak suasana hatiku yang padahal sudah mulai membaik. Dasar, pengacau suasana hati!!
Kemudian, tanpa rasa gentar aku lantas menatapnya. Mengangkat dagu dengan tangan bersidekap. "Jadi lo maunya kita jadi Tom & Jerry di depan orang-orang, gitu?" Aku mendengus. "Kalau emang maunya gitu, ya nggak masalah. Asal lo yang tanggung jawab di depan Ayah!"
Dia mengeryit. "Ayah?! Apa hubungannya Ayah sama hal ini??"
Aku menghela napas, menatap Bian dengan pandangan penuh tanya membuatku sadar bahwa dia benar-benar nggak tahu menahu soal perjanjianku dengan Ayah.
"Jadi... Ayah minta gue buat nutupin fakta tentang perjodohan kita. Ayah minta gue buat nggak bersikap selayaknya anak dipaksa nikah, tapi sebaliknya." Jelasku panjang lebar.
Bian terdiam sejenak. Menatapku tepat di wajahku lurus-lurus. Namun, setelah ia berkedip, dia pun mendengus. "Terus... elo nggak keberatan soal itu??"
"Keberatan sih." Jawabku jujur. "Tapi mau gimana. Gue nggak mau kejadian nahas tempo hari terulang lagi. Gue mau semuanya aman meski gue nggak nyaman." Kesahku.
"Kalau lo nggak nyaman, ya gak perlu lo lakuin." Katanya seketika yang kontan membuatku kebingungan.
__ADS_1
"Maksudnya??"
"Pokoknya lo nggak perlu sampai bersikap berlebihan kayak tadi." Putusnya.
Aku lantas menatapnya nggak habis pikir. Padahal aku sudah menekan egoku dalam-dalam demi kebahagiaan bersama. Mengabaikan kenyamanan diriku demi membuat orang lain percaya bahwa aku nggak senahas itu. Tapi bukannya memberikanku reward orang ini malah langsung memberikan ultimatum padaku secara mentah-mentah begini??
"Apa maksud lo berlebihan?!" Tanyaku dengan suara cukup keras. "Gue kan cuman bertindak sesuai apa yang gue nyatakan. Pernyataannya kita ini adalah pasangan romantis, gue cuman mau mendukung pernyataan itu aja kok. Nggak lebih!"
Mendengar sanggahanku dia terdiam. Matanya menatap balik mataku yang sedang menatapnya gahar, nggak terima. Namun, entah karena enggan meneruskan atau apa, dia tiba-tiba memalingkan tatapannya dariku kemudian.
Bian mendesah panjang seakan sudah lelah berdebat denganku. "Intinya, gue cuman mau kasih tau buat ke depannya. Tolong realistis aja, nggak perlu terlalu dramatis!"
Sudah. Begitu saja. Kemudian dia berpaling dan pergi meninggalkanku yang terus menatapnya dengan tatapan bodoh.
Rasanya, darahku masih mendidih kala mengingat kejadian itu!
Sungguh, sebagian harga diriku telah tercoreng akibat ultimatumnya yang nggak berperasaan itu. Seakan-akan aku yang memang pengin banget jadi pasangan romantis dengannya, sedangkan dia enggan!
Memikirkan hal itu membuatku jadi makin bergidik ngeri. Aku serasa telah menjadi cewek yang mengejar-ngejar cinta dari seorang cowok labil!
__ADS_1
ASTAGAAAA!!
"Rere!"
Aku menoleh. "Iya, Mbak..." suaraku lantang pada Mbak Citra yang kepalanya menyembul di antara celah pintu.
"Ayo, buruan! Bian dan keluarganya udah jalan loh. Jangan sampai kita terlambat!"
Aku meringis. Mendengar nama Bian lagi rasanya makin nggak enak di hati.
"Heh! Ayoo!!" Seru Mbak Citra. "Ngelamun aja, lagian."
Aku nyengir. Lalu mengangguk sekilas. Kemudian beranjak dari depan meja rias di kamarku ini menyusul Mbak Citra yang memimpin jalan.
_____________________
P.S :
__ADS_1
Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI
sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI