Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 3.9


__ADS_3

Setelah membayar, Bian kembali melanjutkan perjalanan ini. Seperti titahku sebelumnya, dia lantas membawaku ke sebuah taman yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah danau buatan yang hening. Tidak ada banyak orang yang ada di tempat ini mengingat hari ini termasuk weekdays, membuatku bisa bernapas lega terbebas dari rasa takut ketahuan kalau aku kabur dari rumah oleh seseorang yang bisa saja mengenalku. Iya, karena di sini masih daerah yang dekat dengan rumahku.


Aku tersenyum tipis saat dia membawaku ke sebuah kursi panjang bercat putih yang berada di pinggiran danau di belakang semak besar yang rimbun. Dalam hati aku berkata, matanya jeli juga bisa menemukan tempat persembunyian semacam ini.


"Di sini aman, kan?" Tanyanya yang sudah duduk lebih dulu dariku. Namun belum juga aku menjawab, dia sudah kembali bersuara. "Nggak terlalu sepi dan nggak terlalu ramai. Toh, kita juga belum halal sampai bisa berdua-duaan di tempat yang sepi."


Aku mendengus. Siapa juga yang mau berdua-duaan di tempat yang sepi bersamanya? Aku sih, jelas nggak!


"Punya lo," dia lantas meletakkan minuman dan makanan yang diklaim milikku itu tepat di atas kursi di sebelahnya.


Berjeda. Mungkin sekitar 10 centi, aku duduk memojok darinya. Kuputuskan tuk mencoba menikmati Peach Tea dan Croissant keju lebih dulu sebelum memulai pembicaraan. Aku melirik ke samping. Nyatanya dia juga melakukan hal yang sama denganku. Bagus lah, aku jadi nggak perlu merasa tak enak hati.


Setelah beberapa saat, aku meliriknya lagi. Ternyata Croissant itu sudah habis masuk perutnya. Tersisa Peach Tea yang tinggal setengah gelas. Hal itu membuatku menilik pada diriku sendiri. Aku tersenyum miris. Kecepatan makanku sungguh terasa seperti kura-kura bila dibandingkan olehnya. Lamban sekali!


"Ekhem," dia berdeham. Membuatku kembali meliriknya dengan ekor mata. Aku mengeryit. Entah, namun aku merasa dehaman itu seperti clue yang menyeruku untuk langsung masuk pada pembicaraan inti kami berada di sini.


Lalu, dia menoleh kepadaku saat aku tak kunjung bersuara juga. Tuh, kan, pasti benar dugaanku!


"Lo masih belum selesai? Butuh berapa lama lagi? 5 menit, 15 menit atau setengah jam??" Tanyanya yang seperti berniat untuk meledekku.


"Yaudah, udahan kok." Kataku, memutuskan untuk menutup bungkusan Croissant ini yang masih ada separuh bagian. Menyudahinya sebelum dia kehabisan sabar.


"Habisin dulu lah. Itu belum habis lo mau udahin??!" Serunya tak setuju.


Aku mengernyit. Sebetulnya maunya dia apa sih?


"Kalau gue habisin terus bikin lo nunggu lama, nggak masalah?" Tanyaku balik. Sengaja, berniat menantanginya. Karena aku pikir dia pasti akan menolak dan mengatakan bahwa itu adalah masalah untuknya. Jadi, pada akhirnya kami pun bisa langsung bicara ke inti pertemuan ini segera.

__ADS_1


"Nggak masalah. Asal lo habisin dulu makanannya."


Aku terdiam seketika. Mengerjap dengan tatapan tak mengerti kepadanya. Tunggu! Bukankah dia paling benci 'menunggu'? Tapi kenapa kali ini...


"Sampai kapan lo mau bengong begitu??" Dengusnya bersama dengan lirikan tajamnya padaku. "Cepat habisin. Gue tunggu 10 menit, cukup kan??"


Aku lantas mengangguk. Mengiyakan tawarannya. Bahkan 10 menit saja terlalu banyak hanya untuk menghabiskan setengah potong Croissant ini!


Lalu, dengan kecepatan yang kuusahakan semampuku yang kubisa. Akhirnya setengah potong Croissant ini habis dalam waktu tiga menit. Saking tak ingin dia menunggu terlalu lama, aku sampai mengabaikan kerongkonganku untuk bernapas. Mengingat dahulu bahkan dia pernah melempar penghapus papan tulis pada anggota OSIS yang kala itu telat datang rapat.


Sungguh, aku nggak mau mengulang hal itu lagi. Meski di sini tak ada penghapus papan tulis tapi di sini masih ada hal lain seperti... gelas minuman yang dipeganginya itu contohnya!


"Uhuk! Uhuk!!" Akhirnya aku tersedak juga. Ini karena aku yang terlalu banyak memikirkan hal buruk! Huh.


"Gue kan, bilangnya nunggu SEPULUH menit bukannya SATU menit. Kenapa lo buru-buru gitu, sih??" Ujarnya yang tak punya rasa iba.


"Minum dulu," dia menyodorkan gelas minumanku yang ternyata sudah dibuka tutupnya.


Aku menatapnya, heran. Namun dia malah menaikkan sebelah alisnya dan menggoyangkan gelas di tangannya itu sebagai isyarat untukku lekas mengambil barang itu dari tangannya.


Pandanganku menunduk. Entah kenapa di satu sisi aku merasa sikap Fabian sudah menjadi cukup baik padaku sekarang. Tapi di sisi lain aku sungguh tak ingin mengakui hal itu.


Jangan punya pikirin macem-macem, Re, pikirin aja sikap jahatnya dulu dan fokus pada pembicaraan hari ini! Rapalku dalam hati.


"Mana?"


Aku lantas menoleh kepadanya setelah berhasil menelan beberapa tegukkan besar Peach Tea ini guna melancarkan jalur tenggorokkan. "Apanya?"

__ADS_1


"Makasih." Jawabnya dengan tatapan datar.


Aku meringis. Sungguh tak kusangka kalau dia menunggu kata itu terucap dariku setelah perbuatan baiknya itu. Astaga, pamrih sekali orang ini...


"Oh, iya. Makasih ya,"


"Sama-sama." Dan, dia tersenyum.


Senyuman aneh. Meski sebetulnya tidak. Bahkan senyuman itu makin menambah pesonanya yang membuat dia terlihat makin ramah kalau saja aku tak pernah mengenalnya sebelum ini.


Aku mendengus. Mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Sungguh aku jadi merasa aneh melihatnya tersenyum yang seperti itu. Seperti bukan dirinya. Sosok yang tak pernah aku kenal. Senyuman yang membuatnya tampak asing di mataku karena begitu ramah!


"Langsung aja ke intinya. Ada pertanyaan yang mau gue ajukan ke lo, yang menjadi alasan kenapa gue minta kita ketemu hari ini." Ujarku menjelaskan. Sekarang, senyuman itu sudah lenyap dari wajahnya. Membuatku sedikit banyak merasa lebih nyaman karena hal itu.


"Pertanyaan soal apa?" Tanggapannya tak kalah serius dariku.


"Fabian, lo yakin mau terusin pernikahan ini??" Tanyaku tanpa basa-basi.


Dan, kami pun saling menatap dengan wajah serius. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Namun kuharap dia menolak pertanyaanku sebelum benar-benar terlambat.



_____________________


P.S :


Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI

__ADS_1


sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI


__ADS_2