Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 3.0


__ADS_3

Aku mendengus kesal. Meski begitu aku harus tetap menutupi rasa kesalku ini.


"Sori." Mataku yang tajam langsung melirik ke arahnya. "Bisa tolong lepasin?" bisikku padanya, hati-hati.


"Mau ke mana?" Tanyanya sekali lagi.


Aku mendengus. Entah kenapa aku jadi kesal karena dia pura-pura nggak peka padahal barusan aku meminta izin pada para kerabatnya. Hatiku bahkan nyaris terbakar emosi kalau saja aku nggak ingat situasi. Untuk itu aku mengolah sabar, menghela napas panjang-panjang setelah sempat memutar bola mata. "Nelepon, oke?"


"Siapa?" Tanyanya lagi. Yang mana pertanyaannya kali ini membuatku merasa telah salah mendengar.


"Mau teleponan sama siapa?" Setelahnya, aku sadar bahwa telingaku memang tidaklah rusak.


Aku tertawa mendengus kemudian. Merasa lucu akan pertanyaan yang terdengar persis seperti 'calon suami sungguhan' yang amat perhatian. Padahal meski aku menelepon teman cowok pun apa urusannya dengan dia? Kita kan, belum resmi jadi suami dan istri!


Ingin rasanya aku menjawabnya dengan kalimat menyebalkan. Aku ingin menantangnya. Namun lagi-lagi, karena situasi aku harus melonggarkan ego.


Sekali lagi, aku menghela napas panjang. Lalu dengan suara rendah aku menjawab dengan penuh penekanan, "U-ti."


Aku tetap menatapnya tajam sampai kemudian dia melonggarkan tenaganya dan akhirnya berhasil membuatku lolos dari cengkramannya.


Aku tersenyum menang sambil berlalu. Berderap dengan langkah cepat. Secepat aku ingin mendengar kabar Uti segera!


Namun, berkali-kali aku menghubungi nomor ponsel Uti, berkali-kali pula sambungan itu gagal!


Aku menggigit bibir bawahku dengan gelisah. Jantungku mendadak bertempo cepat. Pikiranku mulai kacau ke mana-mana dengan berbagai pikiran negatif datang menyerbu bak hujan meteor yang meluluh lantakkan segalanya. Aku jadi kalut sendiri.


Tetapi akal sehatku segera menenangkan. Menepis berbagai kemungkinan terburuk yang tadi sempat mampir mengganggu pikiranku.


Bukankah jika terjadi sesuatu pada Uti, maka Ayah dan Ibuku nggak akan santai-santai begini? Akal sehatku mulai menanamkan pikiran positif untukku. Menghela napas sejenak, aku pun mulai tenang.


"Tuuut... Nomor yang ada tuju tidak menjawab. Silahkan tekan-" klik. Lagi-lagi aku mematikan sambungan itu lagi. Mendesah panjang, separuh hatiku menyeru berhenti. Namun separuhnya lagi menyeruku untuk tetap melakukannya.

__ADS_1


Uti...


Sudah cukup lama sejak aku kembali meninjakkan kaki di rumah lagi, lebih dari seminggu lalu. Sejak saat itu aku belum sama sekali melihat Uti. Salah siapa jika aku rindu?


Andai Uti mau berkumpul bersama kami di rumah Ayah dan Ibu. Andai Uti nggak terlalu setia dengan Akung hingga nggak mau meninggalkan rumah peninggalan beliau barang seminggu pun. Andai Uti...


Akh! Aku baru sadar. Begitu bangak kata "andai" dari pikiranku ini. Rasanya aku telah menjadi manusia yang kurang bersyukur.


Sudah lah, Re, hargai keputusan Uti... asalkan Uti sehat dan panjang umur. Kamu harus bersyukur! Hati kecilku yang waras pun memperingati.


Aku terdiam, merenung untuk beberapa saat. Tadinya aku ingin menyudahi usaha ini, namun sebagian besar hatiku menyeru untuk melakukannya satu kali lagi.


"Oke, nggak apa. Satu kali lagi aja..." putusku. Lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinga.


"Tut... tuut... tuuuut......" panggilan itu masih menyambungkan. Aku masih dengan sabar menunggu sampai suara monoton itu dapat berganti dengan salam.


Kakiku bahkan bergerak-gerak nggak menentu. Ada harap cemas kala menunggunya. Dan, tiba-tiba...


"Re,"


Lalu, dia mulai bersuara lagi setelah beberapa detik. "Kamu ngapain di sini? Semuanya pada cariin kamu loh,"


"Iya, Mbak, maaf. Aku dari tadi mau hubungi Uti. Mau tanya, Uti udah sampai di mana? Kenapa sampai sore begini belum sampai juga..."


"Uti, nggak bisa datang, Re."


"He?" Aku mengangkat alisku dan membalas tatapan Mbak Citra dengan cukup terkejut. Terheran-heran, kenapa berita itu terdengar mendadak.


Mbak Citra tersenyum tipis. "Kabar ini nggak mendadak. Mbak aja yang lupa kasih tau kamu," jelasnya. Membuatku bergeming.


"Kenapa, Mbak?" Tanyaku kemudian. Mendadak rasa kecewaku bertumpuk tinggi.

__ADS_1


"Itu, Mbok Sum nggak enak badan. Jadi Uti mau nemani Mbok Sum di rumah. Kasihan, kamu tau kan, Mbok Sum nggak ada yang merawat kalau Uti pergi? Kan, sanak familinya ada di kampung semua." Jelas Mbak Citra panjang lebar yang akhirnya membuatku mengangguk-angguk mengerti.


"Oh, gitu ya..."


Kini, ganti Mbak Citra yang mengangguk. Anggukan yang ritmenya amat cepat. Nyaris tanpa jeda. Yang malah membuatnya jadi seperti boneka dasbor mobil yang sedang eror.


"Eh, ngapain kamu senyum-senyum gitu??" Tanyanya dengan kernyitan dalam di dahi. Dia keheranan.


Aku menggeleng. Ingin menutupinya saja. Toh, kalau Kakakku ini tahu bisa-bisa aku langsung dikutuk olehnya akibat aku yang sudah menyamakannya dengan boneka dasbor mobil yang eror pula. Ugh, bisa-bisa aku dilabeli sebagai "adik durhaka" lagi!


"Heh, coba cerita! Kamu tadi senyum-senyum kenapa, sih?"


"Bukan apa-apa kok, Mbak..." aku nyengir.


"Bohong ya?" Mbak Citra langsung menatapku curiga. Lalu, tiba-tiba dia mendelik. "Hei, kamu bukannya ketawain Mbak, kan??"


"Ih, ge-er banget!" Sahutku sambil berlalu melewati tubuhnya yang masih bergeming di sana. Setelahnya senyumku pun berbuah tawa. Untungnya masih bisa kutahan sehingga Mbak Citra nggak curiga.


Akhirnya, kami pun berjalan beriringan meninggalkan teras bangunan ini tuk kemudian kembali masuk ke dalamnya dan bergabung dengan kerabat yang lain karena pesta ini belum usai.


Dan sebelum kuputuskan untuk tenggelam seluruhnya, aku sempatkan mengetik sebuah pesan singkat dengan cepat.


To : Uti Sayang♡


Rere udah dengar kabarnya Mbok Sum dari Mbak Citra, Uti. Nggak apa, Uti nggak hadir hari ini. Besok biar Rere yang ke rumah Uti ya... miss you so much, Eyang Uti kesayangan Rere!



______________________


P.S :

__ADS_1


Tulisan "NTM : X.X" artinya SUDAH REVISI


sedangkan "BAB X.X" artinya BELUM REVISI


__ADS_2