Nikah Tapi Musuh

Nikah Tapi Musuh
NTM : 4.7


__ADS_3

Acara hari ini cukup lancar. Semua berjalan sesuai apa yang diharapkan. Dari mulai prosesi acara, tamu undangan sampai suguhan makanan... bisa dibilang acara ini terbilang sukses!


Hamparan dekorasi bunga asli berwarna-warni yang memanjakan mata itu, juga lampu-lampu kelap-kelip yang menghiasi hampir seluruh ruangan nampaknya tak mampu membuatku berdalih pada fokusku menatap mata Mbak Citra yang berada persis di depanku.


Bukan, aku bukannya ingin komplain tentang suatu hal yang berkaitan dengan pernikahan ini. Itu bukan urusanku. Daripada itu aku lebih memikirkan tentang kehadiran Eyang Utiku yang tak terlihat sama sekali bahkan sejak aku berada di tempat ini.


"Jadi Uti nggak datang, Mbak?" Tanyaku sekali lagi. Lebih untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa barusan aku tidak salah dengar.


Mbak Citra dengan raut wajah bersalah itu pun mengangguk pasrah. "Iya, Re..."


Jawabannya yang seperti itu sungguh tak pernah kuharapkan, tak ayal membuatku jadi mendesah penuh kekecewaan. Bahkan, di saat cucu tersayangnya ini menikah, Uti tak bisa datang.


Sebetulnya hal apa yang membuat Uti mengingkari janjinya tuk datang pada pernikahanku ini sih?? Seberapa pentingnya hal itu sampai-sampai ia mengabaikanku??!


"Kenapa..." perlahan aku mencicit. Kutatap lagi mata Mbak Citra. "Kenapa Uti sampai nggak bisa datang ke sini, Mbak??"


"Apa alasannya??!" Aku menuntut jawaban yang pasti. Aku hanya ingin tahu alasan logis apa yang membuat Uti tak bisa datang ke acara paling penting dari cucu kesayangannya ini!

__ADS_1


Namun, ekspresi yang diperlihatkan Mbak Citra padaku membuatku ragu. Gelagatnya yang aneh serta gerak-geriknya itu sungguh membuatku curiga.


Mbak Citra menggigit bibir bawahnya, dia tampak gelisah dengan tatapan mata yang tak bisa berfokus padaku. Sebetulnya kenapa??


"Hm, Re, kamu ingat Mbok Sum yang dulu bantu ngasuh kita waktu kecil?" Tanyanya dengan sorot mata yang lebih meyakinkan dari sebelumnya.


Aku mengangguk. "Kenapa sama Mbok Sum, Mbak??"


"Anaknya sakit keras di kampung, Uti nggak tega biarin Mbok Sum pulang kampung sendirian, jadi... Uti deh yang anter Mbok Sum ke kampung, mau nggak mau." Jelas Mbak Citra.


Kuperhatikan raut wajahnya itu baik-baik ketika dia berbicara tadi. Semuanya sempurna, tanpa cela. Bahkan gelagat aneh yang sempat kulihat dan kucurigai tadi sudah sirna tak berbekas. Kali ini aku yakin, Mbak Citra pasti menjelaskan kondisi yang sebetulnya kan?


"Tapi Mbak,"


"Eung??" Mbak Citra nampak membulatkan matanya. Entah kenapa aku merasa wajahnya lebih menegang daripada sebelumnya.


"Kenapa Uti nggak kabarin langsung ke aku? Kenapa harus lewat Mbak Citra??"

__ADS_1


"Oh, kalo itu..." Mbak Citra mengerutkan dahinya sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu. "Nomor Uti kan beda operator sama kamu, Re, katanya Uti lagi gak ada pulsa jadi pakai bonus telepon ke sesama operator." Jelasnya lagi.


Kini, ganti aku yang mengerut kening. "Bukannya nomor Mbak juga beda yaa?"


Mbak Citra lalu tertawa sendiri. Dia bahkan sampai menepuk pundakku segala. Mana keras lagi! Kan, sakit!!


"Ih, kamu ini, Re! Siapa juga yang bilang kalau Uti nelepon ke nomor Mbak?! Haha... Uti itu nelepon ke nomor Ibu tahu! Inget, nomor Ibu itu sama operatornya kayak nomor Uti... iya, kan?!


Benar, Mbak Citra berkata benar. Meski begitu entah kenapa aku merasa ada yang salah pada penjelasan juga gelagat Mbak Citra. Aku merasa ada satu hal yang sedang ditutup-tutupi olehnya dariku. Entah apa itu, yang jelas akhir-akhir ini semuanya terasa ganjil untukku!


"Yaudah kalau gitu. Makasih banyak yaa Mbak buat infonya. Tapi nanti kalau Uti telepon lagi, tolong kasih tahu Rere ya. Rere juga mau bicara sama Uti," balasku dengan senyum tipis.


Mbak Citra pun mengangguk. Menyanggupi apa yang kupinta padanya. "Kamu balik lagi ke pelaminan gih, Re! Nggak enak loh ngebiarin tamu salaman sama pengantin prianya aja,"


Kini ganti aku yang mengangguk. "Iya, Mbak."


__ADS_1


......________......


...- BAB INI SUDAH DIREVISI -...


__ADS_2