Nona Antagonis

Nona Antagonis
Berani banget dia! Aku pijak kakinya!


__ADS_3

...***...


Pagi itu Fellin turun dari tangga, gadis dengan rambut gelombang yang terurai itu turun dengan anggun. Seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini Fellin sarapan dengan papanya, ya benar, hanya ada papanya karna Mama Fellin sudah meninggal saat usianya delapan tahun.


"Ayo sini sayang sarapan." sapa hangat papanya. Papa Fellin sangat mencintainya, rela melakukan apapun asal Fellin bahagia, entah itu melakukan hal buruk atau hal baik.


Fellin tersenyum dan duduk didekat Papanya.


"Duh anak papa ini, selalu aja cantik, ayo cantik-cantik gini harus makan." Katanya lagi menghidangkan sarapan untuk putrinya tercinta. Akibat kasih sayang yang melimpah itu, Fellin tidak kekurangan kasih sayang orang tua, mungkin?


"Pa, itu banyak banget. Ntar Fellin bisa gemuk tau, ga jadi putri cantiknya papa lagi."


"Nanti papa sewain guru gym deh. Yang penting kamu ga boleh kekurangan gizi." Papanya mencubit kecil hidung putrinya.


"Oh iya sayang, Papa udah lama ga liat Azril main ke sini? Dia sibuk?"


Fellin seketika terdiam, senyumannya agak memudar. Namun Fellin mencoba berperilaku senormal mungkin, jika sampai Papanya tau bagaimana cara Azril memperlakukan Fellin. Entahlah, mungkin Pak Gerald ini akan melakukan berbagai macam cara agar Azril menderita seumur hidup. Dan Fellin tidak mau Azril menderita, apalagi sampai sang papa tercinta membenci Azril.


"Iya Pa, Azril sibuk. Papa tau kan Azril sekarang udah beranjak dewasa, terus dia anak tunggal keluarga Maheswara yang bakal mewarisi perusahaan besar Maheswara. Nah, ya begitulah, dia ga kayak Fellin yang selalu Papa manja." Sahut Fellin dengan nada khasnya, sedikit manja dan suara kekanak-kanakan.


"Ya bener juga, bagaimanapun si Tua Wira harus digantikan haha. Lagipula Azril anak laki-laki, dia harus bertanggung jawab, kalau kamu kan perempuan, cuma bakal di manja." Begitulah anggapan Gerald. Segalanya soal Fellin akan dia buat menjadi mudah.


"Ya udah Pa, Fellin berangkat kesekolah dulu ya, ntar terlambat lagi." Fellin menyalami tangan berharga itu.


"Terlambat juga gapapa, emang siapa yang berani bentak putrinya Gerald Skylira?" Anggar Papanya, ya memang harus diakui, di Negara itu yang paling berkuasa adalah keluarga Skylira. Semua keluarga bangsawan tunduk padanya, termasuk keluarga Maheswara, dan yang lainnya. Berurusan dengan Skylira hanya akan menimbulkan masalah besar.


"Papa~"


"Iya iya, pergilah. Beri tau papa kalau ada yang berani mengacaukan hari-hari bahagia putri kecil papa ini."


Ya memang begitulah kehidupan Fellin berjalan, 16 tahun hidupnya dia mendapatkan segala yang dia inginkan. Entah bagaimanapun itu, papanya akan mendapatkannya untuknya. Bahkan Fellin juga mendapatkan cinta pertamanya, Azril. Karna itu, dia akan mempertahankan Azril apapun yang terjadi. Fellin akan mendapatkan segalanya, itu yang selalu dia pelajari sejak kecil.


...***...

__ADS_1


Pagi itu Fellin tengah berjalan bersama Cecil menuju ke kelas. Pagi ini sebenarnya suasana hatinya cukup baik karna Papanya, namun itu semua rusak ketika melihat gadis itu, murid baru yang entah darimana asalnya keluar dari mobil Azril. Sontak, tak butuh waktu lama untuk Fellin memijak kaki gadis itu.


...Kurang ajar! Kurang ajar! Sialan! lo gadis sialan! Akan gue buat hidup Lo hancur!! ...


Dengan emosi yang membara diaeluruh tubuhnya, dia menekan pijakannya lebih keras. Kemarahannya semakin memuncak saat Azril menggandeng tangan gadis itu di depannya.


Hati Fellin benar-benar panas, dia sudah bagai manusia yang kesetanan. Sumpah serapah sudah dia layangkan pada Sania, hanya pada Sania yang berani menyentuh Azrilnya.


"Gue bakal hancurin dia Cel, gue ba--"


Tukhh


Lagi-lagi ucapan Fellin terhenti karna Cecil yang menepuk jidatnya sembari menempelkan uang lima ribu rupiah disana. "Kalem, ayo kalem, mainnya santai. Lu mau kita kasih dia pelajaran buat jauhin Azril kan?"


Sania mengangguk dengan matanya yang berbinar.


"Cup cup cup, Fellin yang malang. Santai, kita bakal kasih dia pelajaran yang bakal dia ingat seumur hidupnya karna udah berani deketin Azril, oke?"


"Seriusan Cel?"


"Ahhh Nice, you are my Angle. " Fellin memeluk Cecil bahagia, semangatnya benar-benar membara untuk menyiksa gadis itu.


Gue ga bakal biarin Lu bertindak sendiri Fell, dengan kekuasaan lu dan pastinya bokap lu bakal dukung apapun yang lu mau, lu bisa lakuin apapun semau lu, dan sesuka lu. Gue cuma mau awasin lu, biar ga bertindak gegabah dan terlalu ekstrim. Ini semua demi kebaikan lu Fell, biar lu tetep jadi Fellin yang manja, bukan Fellin yang jahat.


Gue pengen cegah lu, tapi lu pasti bakal keras kepala dan maksain buat hukum dia, apapun yang terjadi.


Cecil menarik napasnya, berharap keputusannya ini tidaklah salah. Memberikan pelajaran kepada murid yang bahkan belum genap dua hari bersekolah di sini.


...***...


Fellin dan Cecil sudah sampai di kelas mereka, hampir semua murid menyapa Fellin, Dan Fellin hanya menjawabnya terkadang dengan senyuman atau anggukan.


Brakkk!

__ADS_1


Arga melempar buku didepan Cecil dan Fellin. "Sesat lu Cel, gua minjam Dvd film fantasy, ngapa lu kasih Dvd film Gore."


"Tapi tetap aja lu tonton sampai habis kan?" Jawab Cecil tanpa dosa.


"Lu kata gua psikopat apa, nonton beginian. Emang sih gua nontonnya sampe abis, cuma jijik juga anjir."


"Buset, gua jadi penasaran isi filmnya sampe buat si Arga kena mental." Celetuk Erlan mengambil Dvdnya, melihat cover nya yang tidak ada seram-seramnya.


"Apa segitu nyereminnya Ar? Sampe lo kayak gitu? Gue jadi pensaran." Timpal Fellin yang agak mendongak, untuk melihat covernya juga. Tampaknya tidak seseram itu.


"Nice mantep, ntar kita nontonnya berdua. Gua tau lu kan anaknya penakut, manja, lebay, da--ughhhh"


Sebelum Erlan menyelesaikan kalimatnya, sumpalan kertas sudah Fellin hadiahkan di mulutnya.


Gelak tawa terdengar nyaring dari perkumpulan empat bangsawan besar itu. Namun mendadak mereka berhenti saat melihat Azril datang, diikuti oleh Sania yang ada di belakang.


"Darimana aja lu Zril? Demen banget terlambat, sini gabung bro, kita lagi sesi menghujat si Arga nih." Sapa Erlan.


"Ga deh, lu aja, gua mau tidur. " Seperti yang Azril ucapkan saat sampai dimejanya, dia langsung menempelkan pipinya di atas meja dan mulai memejamkan matanya.


Fellin tidak ingin mengganggu Azril, tapi dia benar-benar menatap benci pada Sania. Bahkan aura kebencian itu bisa dirasakan orang sekitarnya.


"Lu masih marah sama anak baru itu gegara kejadian kemarin? Udah lah Fell, lagian kan lu tau kemarin cuma kecelakaan yang ga disengaja. Ga usah diperpanjang gitu lah." Bela Erlan, terkadang Cecil dan Arga bingung sendiri melihat Erlan. Erlan bisa jadi sosok yang dewasa dan bijak, kadang juga bisa bersikap kekanak-kanakan dan aneh.


"Bukan masalah itu, lo tau ga, tadi pagi tuh ... " Begitulah Fellin mulai menceritakan kejadian tadi pagi.


"Masa iya Azril langsung suka cewek itu, ga mungkin sih. Tapi kok mereka cepat banget akrabnya?" Arga mulai mengeluarkan opini-opininya.


"Bodoamat, intinya gue bakal kasih cewek itu pelajaran sampe dia bakal mikir ribuan kali buat natap Azril." Gumam Fellin dengan tatapan bencinya.


Erlan mengangkat Dvd itu dan membandingkan nya dengan Fellin. "Film Gore dan Fellin, kayaknya dua hal yang mungkin berkaitan,"


Tukhh!!

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Fellin langsung memukul jidat Erlan dengan penggaris yang dipegangnya. Membuat tawa nyaring Erlan terdengar menggema di seisi ruangan.


...***...


__ADS_2