Nona Antagonis

Nona Antagonis
Perjalanan


__ADS_3

...***...


Fellin menarik napasnya, dia mencoba untuk tetap tenang. Dia sama sekali tidak ingin liburan ini hancur karna amarahnya semata. Fellin menarik napasnya, dan mengalah duduk di sebelah Erlan.


Mobil itu berjalan setelah semuanya naik.


"Gua haus, mau minum." Kata Azril. Baru saja Fellin ingin memberinya botol air mineral, sudah ada Sania yang melakukannya.


"Lu ga liat gua nyetir?"


Sania melepas tutup botol itu, dan memberikannya pada Azril. Fellin hanya berusaha untuk menahan segala amarahnya.


Tahan Fell, tahan, lo harus sabar biar liburan nya ga hancur.


Fellin menghela napasnya, meski dia ingin sekali langsung menyiramkan air itu ke wajah Sania, tapi dia tetap menahannya demi kelancaran liburan kali ini.


Dia sudah lama tidak berlibur bersama dengan Azril, jadi Fellin tidak mau liburannya dengan Azril kali ini menjadi batal dan berantakan.


"Eh Fell, lu liat deh ini, anjir gua ngakak liat fotonya, kok bisa begitu ya." Celetuk Erlan menunjukkan foto yang membuatnya tertawa. Biasanya selera humor Erlan dan Fellin itu tak jauh beda, kebanyakan berteman dengan Erlan, membuat Fellin sedikit tertular kepribadiannya.


"Lah? Itu kan pohon mangga? Ngapa berbuah Pisang coba? Editan ga tuh?" Fellin mendekatkan lagi kepalanya pada Erlan, untuk memperjelas penglihatannya.


Erlan menaikkan pundaknya, tak tahu maksudnya. Fellin mengabaikan itu semua, dia melihat Cecil dan Arga yang asyik bermain game online di belakang.


Fellin memasang earphone miliknya, ia menyetel musik tahun 2000-an, lagi pengen soalnya. Ntah kenapa, semua lagu-lagu patah hati itu nyaman di dengar oleh telinganya. Padahal dia tau itu menyesakkan, tapi seolah semua lirik itu menggambarkan dirinya, membuat Fellin merasa akrab dengan lagu-lagu itu


Entah mungkin memang lelah, atau memang sudah ngantuk, Fellin tertidur. Dan ia tertidur di sebelah Erlan, Erlan puas, setidaknya gadis kecil kesayangannya itu bisa bersantai padanya.


Azril melihat itu sebentar, dia lebih hati-hati untuk mengendarai mobilnya, menghindari jalanan berlubang dan berusaha untuk tidak mengerem mendadak. Namun tetap saja,    beberapa kali ia terbangun akibat jedutan ringan.


Meski diam-diam, meski merupakan hal sepele dan kecil. Azril tetap memperhatikan segalanya soal Fellin, kenyamanan dan keamanan Fellin itu adalah prioritas.


Erlan menarik kepala Fellin untuk bersandar di bahunya lagi. "Tidur aja, ada gua di sini yang jagain." Berhubung Fellin memang sudah mengantuk, dia menerimanya saja. Beberapa kali tangan Erlan mengusap lembut kepala gadis itu. Fellin tidak menepisnya, soalnya itu Erlan, sahabat yang sudah Fellin kenal dekat sejak kecil.


Azril yang memperhatikan itu hanya tersenyum ringan, meski ada nyeri di hatinya, namun tetap saja, itulah yang dia inginkan. Walau nyatanya agak menyakitkan melepaskan Fellin, Azril tetap konsisten menjaga jarak nya dari Fellin.


Azril menatap ke arah Sania, yap gadis itu juga sudah tertidur, wajar saja. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan liburan ini, ah lebih tepatnya akan beberapa hari bersama nona Fellin.


Azril mengulurkan satu tangannya guna menjadi sandaran untuk Sania, dia berusaha menyetir hanya dengan satu tangan.


"Cel, lu udah siap kan sama rencana kita?" bisik Arga pelan, sembari memainkan game online bersama Cecil.

__ADS_1


"Santai aja, semua beres." sahut Cecil penuh keyakinan.


...***...


3 Jam sudah berlalu, dan saat ini mereka melewati daerah yang kanan kirinya hanya ada pohon-pohon yang besar.


"Lama lagi ga?" Tanya Fellin yang sudah bangun. Namun dia masih bersandar di bahu Erlan.


"Buset, lu tidur 3 jam? Lama amat, lu mimpi apa? Mengitari bumi apa keliling galaksi bima sakti?" Tanya Erlan, namun dia masih terus mengusap rambut Fellin. Fellin tidak begitu memperhatikan hal-hal kecil itu, karna dia yakin Erlan hanya melakukan itu sebagai teman.


"Berisik ah bekicot."


"Sabar Fell, paling 1 atau 2 jam lagi kita nyampe kok, gua tau tempatnya soalnya, dulu pernah ke sana bareng Azril juga." Sambung Arga karna tak mendengar jawaban dari Azril.


"Lu mau tidur lagi?" Tanya Erlan.


"Engga sih, udah ga ngantuk, cuma masih pengen gini, males ngubah posisi. Lo ikhlasin bahu lo deh, ntar gue bayar. Anggap aja nyewa."


"Buset, dia lupa, gini-gini gua juga anak bangsawan, elap tuh iler lu."


"Males." Singkat, padat,  undangan untuk berdebat.


Jujur saja, itu tidak terlalu buruk bagi Erlan. Sania menatap Azril, Sania tau Azril tengah sakit hati sekarang.


"Ga, cemilan aja."


Sania menatap Azril datar.


Nyesel gue nawarin minum, liat kan sekarang. Gue juga yang bakal kena. Kalo cemilan pasti gue yang...


"Suapin juga, soalnya gue nyetir. Bukannya berarti gue mau lo suapin gue, cuma gue lagi nyetir, nyetirr, inget ya." tambah Azril.


Sania menghela napasnya, dia hanya bisa melakukan apa yang tuannya perintahkan.


Suapan pertama itu ingin Sania berikan, dengan Erlan dan Fellin yang memperhatikannya dari belakang. Namun itu semua batal saat mobil mereka berhenti mendadak.


Kepala Fellin hampir saja terbentur,  syukurlah ada tangan Erlan yang menahannya.


"Woy! Lu mau buat kita pada serangan jantung yak?" Omel Erlan.


"Ga tau gua, tiba-tiba mobilnya mati sendiri. Ntar gua cek." Azril keluar dari mobil, ia mulai memeriksa mobilnya. Di ikuti Erlan dan Arga yang keluar.

__ADS_1


"Lu pada di dalam aja, biar kita para cowok yang selesaiin ini." kata Arga percaya diri.


Tapi omongan itu hanya angin lalu untuk Cecil. "Fell, gerah ga sih? Ya kan? Keluar yuk, cari angin gitu."


"Ayo deh, bosen juga dari tadi di dalam mobil terus." angguk Fellin yang mengikuti jejak Cecil keluar dari mobil.


Sania di dalam mobil sendirian sudah merasa gerah, dan sangat bosan. Dia menatap Fellin dan Cecil yang kira-kira sedang mengobrol asyik. Rasanya itu menyenangkan, apalagi dengan nuansa angin sepoi-sepoi yang mampu menggerakkan rambut gadis-gadis itu.


Sania menatap ponselnya, tidak ada jaringan, di tambah baterainya sudah tinggal 2 persen, karena di sepanjang jalan ia memainkan ponselnya.


Ah, kangen SMK~ Kalo gue berangkat bareng Temen SMK pasti lebih asik, hadehh.


Sania menyenderkan kepalanya. "Mungkin asik di sini, kalo aja Fellin ga benci gue, dan gue jadi temennya Fellin, bukan Azril."


"Apa sebut-sebut nama gua?" tiba-tiba sudah ada kepala Azril di jendela sebelah Sania.


"Astaghfirullah! Gue kaget beneran setannnn!" Sania memegangi jantungnya, yang berdegub begitu kencang. Tapi dia tau jelas, deguban ini karna dia kaget.


"Jadi?" Azril menaikkan sebelah alisnya.


"Biasalah, gue nyebut lo buat maki lo, eneg juga liat lo."


"Apa begitu cara bersikap seorang pelayan kepada bosnya?"


Sania langsung menampilkan senyuman palsunya. "Iya tuan muda, apa yang anda butuhkan? Sania sang pelayan, siap melayani semuanya."


"Lu bosen kan? Gerah juga? Kalo mau keluar cari angin gapapa, toh ini tempatnya sepi, lu ga bakal kecelakaan." Azril membuka kan pintu mobil itu, satu tangannya dia ulurkan untuk menuntun Sania keluar dari mobil.


Ahh baru saja dia keluar, dia sudah menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapa wajahnya.


Sekarang apa?


Sania bingung, haruskah dia bergabung dengan Fellin dan Cecil, atau duduk di bawah pohon lain sendirian.


Tiba-tiba sudah ada Erlan yang menarik tangan Sania, dan membawanya kepada Fellin dan Cecil.


"Lu di sini aja, jangan misah oke? Susah kalo lu sampe misah dan hilang, ini tempatnya sepi, pohon semu, ga ada penduduk."


Sania hanya diam saja.


"Oke, gua balik benerin mobil dulu." Erlan kembali pada Azril dan Arga. Entahlah, apakah mereka berhasil memperbaikinya atau tidak. Soalnya mereka kan para tuan muda, apa tau hal begituan?

__ADS_1


Tanpa diketahui siapapun, Cecil menerbitkan senyuman, tapi entah senyuman jenis apa itu.


...***...


__ADS_2