Nona Antagonis

Nona Antagonis
Jadi temen gue ya?


__ADS_3

...***...


Fellin keluar dari rumah sakit setelah berpamitan pulang. Dia sangat senang malam ini, Azril tidak ada mengatakan hal kasar sedikit pun, itu karna Anya tentunya, tapi Fellin benar-benar senang.


"Fell? Gue mau ngomong serius." Kata gadis itu menghentikan langkah Fellin, Fellin menoleh, dia melihat Sania disana.


Fellin memiringkan kepalanya, "Apa? Ada yang ketinggalan?"


"Sejak awal gue ketemu lo, gue pengen jadi temen lo. Dan dulu gue selalu mikir itu ga mungkin terjadi, karna gue bukan bangsawan, dan dekat dengan Azril. Lo pasti benci gue. Gue ga tau kenapa, tapi gue tertarik sama lo." Kata Sania tanpa ada yang di tutupi, meski pipinya merona malu mengatakan itu, tapi itulah yang dia rasakan.


Lagipula gak ada gunanya juga jauh dari Fellin, kemungkinan dia jadi ipar gue besar. Dan gue juga ga ada peluang buat dapetin Azril kan? Jadi ya sudahlah.


Fellin menempelkan uang lima ribu rupiah di kening Sania. "Kalo soal lo darah bangsawan atau bukan gue ga perduli, gue cuma ga suka ada orang yang deketin Azril. Tapi sekarang lo adalah adeknya, gue rasa gue ga ada alasan lagi buat benci lo."


"Memberi uang itu kebiasaan Cecil loh. Apa ga punya kebiasaan sendiri?" Sindir Sania, namun dengan senyuman di bibirnya. Sania sudah menyerah, dia kalah, fakta yang dia tau dia adalah adiknya Azril.


"Pantes kandunt, mirip, sama-sama punya mulut lemes, huh." Fellin menggembungkan pipinya.


Sania tersipu, soalnya Fellin benar-benar imut saat ini. "Buat lo, hadiah dari gue, anggep aja hadiah dari calon adik ipar." Sania memberikan sebuah gantungan kunci pada Fellin. Gantungan kunci sederhana dari kayu yang Sania ukir sendiri selama dia bersekolah di sini.


"Gue terima!"


Keduanya tersenyum senang. Meskipun ada nyeri di hati Sania, tidak masalah, karna dia tau itu hanya sementara.


...***...


Di kamarnya Fellin  berbaring, dia menatap mainan kunci yang Sania berikan. Dia benar-benar bahagia, seolah semesta memang sudah berpihak mutlak padanya. Apalagi yang dia khawatirkan? Dia tidak memiliki saingan soalnya.


Saingan ga ada, restu keluarganya di depan mataaa. Ahh tinggal tunangannya.


Tring! Satu suara itu membuyarkan fokus Fellin.

__ADS_1


Erlan begooo:


Gimana hari ini? Oke? Abis dari rumah sakit? Udah berapa hari ga nangis?


Udah satu minggu  wleee 😝 Dan kayaknya semuanya bakal baik-baik aja dan balik kayak dulu. Gue yakin banget Azril bakal balik ke gue.


Dari tempatnya Erlan menatap pesan itu, senyuman kecut terlukis jelas di sana. Dadanya begitu sesak.


"Ah bagaimana ini? Apa gua sakit hati? Lebih sakit dari sebelumnya? Kenapa bisa?"


Brakkk!!!


Erlan langsung melempar ponselnya frustrasi. Dia pernah berfikir akan memiliki  Fellin seutuhnya, tapi hari ini dia tau bahwa itu hanya angannya belaka.


Berhenti halu Lan, berhenti marah, lu ga berhak? Dari dulu emang udah gini. Harusnya lu udah terbiasa.


Fellin masih menggengam hpnya dia masih menatap pesan itu. Ya, Fellin sedang menanti pesan dari Erlan.


Udah centang dua biru loh? Kenapa engga di bales juga? Padahal dia online ini, sibuk kah?


Alhasil Sampai Fellin tertidur, pesan itu masih belum juga di balas oleh Erlan.


Fellin bangun pagi ini, dia masih melihat hp di tangannya. Dan masih ada balasan dari Erlan.


"Pengen tak hiiiihhh tuh anak,  kebiasaan deh. Apa kebiasaan Azril udah nular ke Erlan ya? Kalo ga niat bales tuh ga usH di baca gitu loh, kan ga enak liat centang dua biru doang. Kalo udah di baca kan yang sini ngarep di bales. Hadeh, untung Erlan lakuin ini ke gue, kalo ke pacarnya, dah di putusin dia tuh." Fellin mengepalkan tangannya gemas, gemas sekali ingin menarik rambut Erlan.


...***...


"Erlan sial Erlan sial! Mana dia, bakal gue kasih pelajaran dia!" Gumam Fellin sembari terus berjalan. Dia menatap pintu kelasnya, sudah berkumpul tiga bangsawan itu.


"Erlannn!!!" Teriak Fellin sembari berlari kecil. Setelah sampai gadis itu langsung mencubit perut Erlan.

__ADS_1


"Sakit bege, kuku kecil nyubit gitu perih euy." Respon Erlan setelah cubitan mematikan itu terlepas dari tubuhnya.


Arga dan Cecil hanya bisa menahan tawa mereka.


"Lo ini ya, gini gue kasih tau ke lo. Ke depannya kalo lo punya gebetan, jangan pernah read doang kalo dia ngirim pesan. Yang ada lo udah di putusin sebelum jadian, ibarat bunga nya layu bahkan sebelum mekar."


"Lah emang udah pernah, dipaksa mundur oleh keadaan dan kenyataan, bahkan saat perasaan itu belum terungkapkan." Mata Erlan mendadak sayu, pandangannya jatuh ke bawah. Dia tak sanggup menatap pujaan hatinya itu?


Fellin menempelkan tangannya di kening Erlan. "Lo sakit? Ini kepala abis kepentok apa? Kok ngomong lo aneh?"


Erlan hanya diam, mana mungkin dia mengatakan yang sebenernya, kan?


"Oh iya, gue tau, lo abis patah hati ya? Abis di tolak gitu? Emang cewek mana yang nolak lo?"


Erlan hanya diam saja, begitu juga Arga dan Fellin. Fellin menarik tangan Erlan, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. "Kalo dia nolak lo, yang bermasalah itu dia. Lo emang bego dan terkadang ngeselin, tapi lo itu punya hati yang tulus Lan, lo baik, lo juga jagoo, lo hebat, kalo dia ga suka sama lo, percaya deh dia tuh begonya ga tanggung-tanggung." Kata Fellin polos dan ceplos. Tanpa tau kebenerannya.


Erlan terseentak halus, matanya membesar haru, perasaan itu kembali berkobar, rasa hangat dan nyaman itu. Erlan menepuk kepala Fellin pelan. "Iya, lo bener Fell, cewek yang gue sukain itu begonya kuadrat, sarap, sinting, goblokk, intinya bego nya melebih batas umat manusia deh."


"Separah itu kah? Gue jadi penasaran siapa orangnya? Emang siapa sih?"


"Letak tas dulu sana, risih gue liatnya. Abis letak tas baru kesini lagi." Cecil mendorong Fellin masuk ke kelas. Fellin yang juga merasa berat, mengikuti saran Cecil.


"Apa sekarang saatnya? Lo udah butuh wadah? Ember? Atau tong? Kira-kira itu air mata berapa liter, cukup buat mandi ha ya?" tanya Cecil meletakkan bahunya di pundak Erlan.


"Jangan gitu Cel, ntar dia nangis beneran loh, Erlan kan orangnya cengeng." tambah Arga dengan tawa yang dia paksakan.


"Kompak amat? Gua curiga kalian jadi jodoh malah." kilah Erlan sebisanya.


Fellin sudah kembali tanpa tas di bahunya. "Jadi siapa orangnya? Gue penasaran sumpah."


Teettt!!!!

__ADS_1


Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, sepertinya kali ini pun semesta ada di pihak Erlan.


...***...


__ADS_2