Nona Antagonis

Nona Antagonis
Bukan saudara kandung?


__ADS_3

...***...


"Sayang sekali, tapi saya udah gak suka Fellin lagi, karna saya udah suka orang lain, dan hanya akan menikah dengannya. Dia, Shareen Maheswara." Azril menggenggam tangan Sania, dan mulai mengecupnya di depan semua orang. Sania diam mematung, badannya mendadak kaku, tenggorokkannya kering, pikirannya mendadak kosong, dia tidak tau harus berbuat apa dalam situasi saat ini.


Fellin menatap itu tidak percaya, amarah langsung berkobar di sekelilingnya. "Gak mungkin bisa gitu! Mana mungkin Azril bisa nikah sama Sania saat kalian sendiri saudara kandung! Kalian sedarah! Azril ingat, Sania itu adik lo! Lo gak bisa nikah sama dia!"


"Nah!! Itu dia poin penting dari segalanya! Tapi, apa aku pernah bilang? Aku putra kandung Maheswara?" Azril menatap Gerald dengan kelicikan.


Gerald menatap Wira serius. "Katakan pada ku bahwa Azril itu anak kandung kalian? Ya kan?"


Wira dan Anya hanya diam saja, mereka juga tidak tau permainan apa yang sedang putra tak sedarah mereka mainkan.


"Terima kenyataan Pak Gerald, kalo saya memang tidak di takdirkan untuk Fellin. Dan buat Sania." Kata Azril semakin memanaskan suasana.


Semua yang di sana sangat terkejut. Fakta bahwa Sania adalah putri bangsawan sudah mengagetkan mereka semua, sekarang di tambah kalo Azril bukan keturunan bangsawan, begitu kah?


Mendadak Sania mengingat kejadian di rumah sakit,


Itu alasannya dia gak mau donorin darahnya ke mama? Karna jelas beda? Azril bukan anak kandung, Dan lagi, itu artinya Azril tidak sakit parah? Terus, apa alasan dia jauhin Fellin saat dia sendiri begitu cinta ke Fellin? Capek tau ga mikirin alasannya.


Sania menatap genggaman itu, wajahnya merona panas saat mengingat bagaimana Azril mengecup tangannya tadi.


Gue tau gue cuma pelampiasan, gue harusnya sedih, terus kenapa gue deg degan? Gue seneng? Di atas penderitaan Fellin, gitu? Jahat banget sih gue.


"Enggak! Enggak! Enggak! Gak bisa gitu!! Gue gak setuju!! Azril pokoknya cuma boleh jadi punya gue! Emangnya kenapa kalo kalian gak sedarah! Kalian tetap kakak adik!" Bantah Fellin menggelengkan kepalanya, dia langsung berjalan ke arah Azril, melepas genggama Azril pada Sania.

__ADS_1


"Gue ga perduli apapun alasan lo! Gue cuma maunya lo! Dan itu harus jadi kenyataan!" Kali ini Fellin menatap Azril dengan serius.


"Berhenti egois, lu tuh egois banget, terlalu manja, udah gua bilang berapa kali, lupain gua. Kita ga di takdirin bersama." Kata Azril dengan nada suara yang pelan, mencoba memberikan pengertian.


"Enggak! Itu gak bener! Kita itu di takdirin bersama! Segala yang terjadi di kita bukan cuma sebatas kebetulan!!"


"Serah lu dah, intinya gua cintanya sama Sania, lu ga bisa ngatur-ngatur gua."


Meskipun Sania tidak tau, itu jujur atau hanya kebohongan belaka, tapi Sania sangat senang mendengarnya.


"Gak mau gue gak mau, gue cintanya sama lo, gue gak mau yang lain, gue gak bisa." Fellin terduduk lemas, ia menangis sejadi-jadinya di sana. Anya dengan cepat berlari mendekati Fellin, bagaimana pun juga, Fellin itu putrinya.


"Azril Maheswara, jaga batasan mu, aku bisa mengenyahkan mu dari dunia ini kapan pun aku mau." Kata Gerald dengan menahan segala amarahnya, dia tidak bisa terima putrinya di hina lebih jauh lagi. Bahkan penghinaan hari ini akan terbayang selamanya di kepalanya.


"Gerald, bukan begitu caranya bertamu, dan Azril, bukan begitu caranya menyambut tamu." Wira mulai angkat bicara, suaranya semakin memanas.


"Apa Azril udah ga cinta sama Fellin?" tanya Fellin dengan suara yang begitu pelan, lirih dan penuh sayatan di setiao katanya.


"Sorry gua harus bilang gini, tapi faktanya emang gitu, gua ga cinta lagi sama lu. Dan udah ada orang lain yang gantiin posisi lu, lu juga mending cari orang yang bisa gantiin posisi gua." sahut Azril enteng tanpa dosa,


"Azril!!!" raut wajah dan cara bicara Azril mengundang kemarahan Anya.


"Terus gimana janji kita dulu, kalo kita akan menikah setelah kita dewasa?" Tanya Fellin, namun pandangannya tertuju ke bawah, sebagian wajahnya sudah tertutupi oleh rambut.


"Oh itu? Waktu kita umur 9 tahun? Ah, itu cuma janji anak kecil, gak ada artinya, perkataan pas bocah doang." Azril tidak mengubah ekspresinya sama sekali.

__ADS_1


"Cukup sudah! Fellin ayo pulang! Dan kamu gak akan boleh ke rumah ini lagi, ataupun bertemu dengan keluarga Maheswara! Papa tidak izinkan." Gerald sudah geram, penghinaan ini sudah terlalu jauh, dan dia tak kan melupakannya, seketika ide ide kotor itu bermunculan untuk membuat satu keluarga itu menderita.


Fellin bangkit berdiri, bukan pulang, melainkan dia berlari menaiki anak tangga, dan sampai di lantai tiga.


"Fellin ga mau tau! Pokoknya Sania harus tolak Azril, dan Azril harus jadi punya Fellin!!!  Atau Fellin bakalan lompat dari atas ini!!" Ancam Fellin yang sangat serius.


"Fellin!!!" Teriak Gerald ingin berlari mendekati putrinya. Begitu juga dengan Wira, Arga dan yang lainnya.


Namun Fellin segera menghentikan langkah mereka. "Jangan ada yang bergerak, atau Fellin bakal beneran lompat."


Semuanya terdiam, suasana mendadak hening. Namun Azril mendadak menerbitkan senyumannya. "Kalo mau lompat ya lompat aja, serah lu, hidup itu hidup lu, bukan tanggung jawab gua. Tanggung jawab gua adalah kebahagiaan gua sendiri, dan bahagia gua itu sama Sania, ngerti?" Azril menatap Fellin aneh, tapi Fellin tak suka itu.


"Sania!! Bilang ke Azril kalo lo ga cinta sama dia! Dan hubungan pernikahan antara kakak dan adik itu salah! Pokoknya lo harus nolak dia! Jelasin ke dia kalo cuma gue yang layak di sisinya!!"


"Fellin..., Nak, ini bisa kita bicarain sama-sama oke? Jangan gegabah, kamu turun dulu." Kata Anya pelan dengan kelembutan.


"Oyy Fell, turun oke? Gue kan udah janji bakalan bantuin lo, tapi ga gini caranya. Lo turun oke?" kata Cecil dengan tenang dan wajah meyakinkan.


Tenggorokan Gerald kering, amarah kebencian sudah terpancar jelas di sekitarnya. Dia sudah menyumpahi Azril dalam hatinya. Gerald menatap Fellin sendu, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Sania diam terpaku, tangannya bergetar hebat, dia menatap Azril dengan penuh air mata.


Tukhh


Azril menepuk kepala Sania pelan. "Hidup dia adalah tanggung jawab dia, dan bukan lu. Ga usah terlalu di pikirin, dia ga bakal lompat, karna dia ga berani, putri manja kayak di--"

__ADS_1


Sayang sekali, tebakan Azril salah, kali ini Fellin benar-benar melompat dari sana.


...***...


__ADS_2