Nona Antagonis

Nona Antagonis
Main ke rumah Azril


__ADS_3

...***...


Sore ini Fellin tengah bosan, jadi dia memberanikan diri datang ke rumah Azril. Sebenarnya Fellin sering sekali main kesini, dan bahkan dia sudah sangat akrab dengan orang tua Azril, juga beberapa pembantunya.


Mobil Fellin sudah masuk ke pekarangan rumah besar itu. Namun sayangnya mendadak gerimis turun, sang supir lupa untuk membawakan payung.


Bi Jum yang sudah sangat familiar dengan pemilik mobil itu langsung meninggalkan pekerjaannya, dia memerintahkan yang lainnya untuk berhenti dan segera berbaris. Termasuk ada Sania dengan pakaian pelayannya disana.


Bi Jum mengambilkan payung, lalu dia berjalan ke pintu mobil itu, sang supir membukakan pintunya. Fellin keluar dari mobil, dia benar-benar seperti seorang putri dari kerajaan. Mata para pelayan itu takjub, termasuk Sania. Bi Jum segera membukakan payungnya.


"Tante Anya ada bi?" tanya Fellin ramah, sembari berjalan dia sedikit tersenyum melihat para pelayan yang berbaris, tapi senyum itu memudar terganti dengan tatapan sinis saat dia menatap Sania.


"Ada non, di dalam, mari bibi antar."


"Eh ada Fellin, duh lama banget ga kasini, tante bener-bener kangen loh, sebagai gantinya Fellin di sini sampai malam, oke? Ntar pulang biar Azril yang anter." Kata Anya ramah, sembari memeluk gadis yang sudah di anggapnya seperti putrinya sendiri.


Tante Anya masih baik banget, kayaknya dia ga tau deh Azril mulai aneh sama gue.


Batin Fellin, Anya yang dia anggap sebagai calon mertua tidak berubah sampai sekarang.


"Iya tante, Azrilnya ada?"


Anya menghela napasnya. "Dia udah besar, jadi mulai bantu-bantu di kantor om Wira."


Fellin mengangguk mengerti. Kalau perginya untuk bekerja, tidak masalah, yang Fellin tidak suka kalau perginya bersama gadis lain.


"Fellin udah makan belum?" Tante Anya benar-benar ramah dan perhatian, dia menganggap Fellin sebagai putrinya sendiri.


"Sebenernya udah sih tante, cuman kalo makan lagi, alhamdulillah perut Fellin kayaknya masih bisa nampung haha." Sahutnya dengan nada khas milik Fellin, nada yang mampu meluluhkan hati orang-orang disekitarnya. Termasuk Anya dan Wira, orang tua dari Azril. Mereka sangat menyayangi Fellin, seperti putrinya sendiri.


"Ya udah, Sania kamu siapkan makanan untuk Fellin ya,"


Sania yang sedari tadi berdiri di sana segera pergi. Dia menyiapkan makanannya. Semua pelayan juga kembali ke kegiatannya. Ah, Sania bingung harus menjelaskan situasi apa ini? Dia merasa agak aneh. Tapi wajar sih, Fellin dan Azril dulu sempat menjalin kasih.


"Gimana sekolahnya? Baik? Atau ada yang buat kamu kesel? Bilang aja sama Tante, biar tante yang kasih peringatan." Anya mengelus lembut rambut gadis itu.

__ADS_1


Fellin berbaring di pangkuan Anya, ya soalnya gadis mungil itu sudah biasa melakukannya, dan Anya juga suka jika Fellin manja kepadanya. "Sekolahnya asik-asik aja sih tante, cuma yang ga asik tuh tugasnya makin banyak, belum lagi panas yang ughhh ngeselin banget, Fellin rasanya pengen berendam aja huwaaa." Fellin mengadu, merengek manja kepada seseorang yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.


Fellin tidak memiliki ibu, tapi kasih sayang Anya benar-benar memberikan Fellin kehangatan, Fellin jadi tidak begitu merasa kesepian, Anya sudah seperti ibunya sendiri.


"Cape ya? Yang sabar ya, namanya juga sekolah." Anya mengelus kening gadis itu lembut. Tatapannya benar-benar hangat. Bisa di bilang, Anya sudah sebagai ibu sendiri untuk Fellin, dia bisa merasakan kehangatan mamanya yang hilang ada pada diri Anya.


"Nyonya, makanannya sudah siap." Lapor Sania, masih menunduk patuh. Dia benar-benar tidak ingin menatap Fellin. Tidak berani, atau malas cari ribut?


"Iya, ayo Fell, sayang bangun, kamu juga ikut ya San." Anya menuntun putri kecilnya itu ke meja makan, untuk Anya, Fellin sendiri adalah calon menantu yang akan dia anggap sebagai anaknya sendiri.


Fellin tersenyum ramah, mengangguk patuh.


Fellin duduk di kursi yang di sediakan. Dia mulai menatap makanannya dengan penuh gairah.


"Oh iya, Sania, kenalin dia Fellin. Calon menantu rumah ini, ya meskipun belum ada ikatan sah sih, tapi nanti waktu Azril sama Fellin tamat SMA, mereka akan segera bertunangan." Anya tersenyum hangat menatap Fellin. Begitu juga Fellin, dia benar-benar sangat senang, dia semakin yakin tak kan melepaskan Azril, dia sudah sangat percaya bahwa Azril adalah jodohnya, apalagi restu kedua keluarga benar-benar terbuka lebar.


Fellin mulai memakan buahnya lebih dulu, ntahlah, itu kebiasaannya.


"Fellin kenal Sania ini ga?"


Anya tersenyum senang.


Fellin memang gadis yang baik.


Batin Anya, dia percaya sekali pada putri kecil yang sudah dia jaga selama ini.


Kira-kira besok Fellin bakal jahatin gue apa lagi ya? Hadeh, tapi bu Anya perhatian banget sama Fellin, dia kayaknya bener-bener sayang. Azril juga kayaknya masih ada rasa, restu keluarga lancar, terus apa alasan Azril bersikap kayak gitu ke Fellin? Dia pengen udahin hubungannya sama Fellin, artinya dia juga nyakitin mamanya kan? Dasar, Azrol sarap.


Sania melihat Anya yang begitu perhatian pada Fellin.


Sial, kayaknya gue mulai iri deh, gue tau ini ga baik, tapi... Andai aja gue yang ada di posisi Fellin. Bukan gue gak bersyukur, hanya saja hidup gadis satu ini bener-bener spesial banget. Apalah daya gue yang dari kecil cuma dapat kasih sayang nenek, gue juga ga tau orang tua gue siapa.


Uhuk!


Tiba-tiba Fellin terbatuk, Anya langsung memberikan Fellin air. Wajahnya bener-bener khawatir. Mata Anya bergetar, tidak boleh terjadi sesuatu apapun yang buruk pada Fellin.

__ADS_1


"Apa sayang? Ada apa? Tenggorokan kamu sakit ga?"


"Pedas tante! Ini pedas banget! Terus ada udang lagi, Fellin kan alergi udang tante." Fellin terus mengibas mulutnya yang terasa panas.


"Sania!! Kamu ini apa-apaan sih! Fellin tuh ga bisa makan yang pedas-pedas! Kenapa kamu malah sajiin ini!" Bentak Anya kasar, suaranya sangat keras hingga menggema ke seluruh ruangan. Jujur saja, Anya akan selalu berlebihan jika itu menyangkut Azril dan Fellin. Karna Azril dan Fellin adalah dua anak yang paling dia sayangi.


"Ta-tapi bu, sa--"


"Diem deh kamu! Mending kamu pergi cari kerjaan yang lain,  biar yang layanin Fellin itu bi jum aja." Tambah Anya masih dengan amarah yang sama.


Sania menunduk, dia lalu berlari kembali ke kamarnya. Dia tidak tau kenapa, tapi ini pertama kalinya di dimarahi seperti itu sepanjang hidupnya. Saat masih bersama nenek, Sania tidak pernah di bentak begitu, paling sering sih dinasehatin.


Sania mengunci pintu kamarnya, dia tidak ingin menangis, tapi hatinya saat ini benar-benar terluka. Dia tidak tau, yang jelas itu sakit sekali. Sejak saat pertama datang kesini, semua baik kepada Sania, kecuali Azril, ini adalah pertama kalinya Sania dimarahi oleh Anya.


Padahal Anya juga biasanya sangat lembut pada Sania.


...***...


Fellin melihat Sania berlari, entah perasaannya saja atau dia salah lihat, yang jelas Sania tampak menangis.


"Kamu gapapa sayang? Butuh ke rumah sakit?" Anya menatap Fellin khawatir.


Fellin menggeleng pelan. "Gapapa kok tante, toh udangnya tadi cuma kegigit, ga ada dimakan, terus pedasnya juga udah ilang kok."


Anya menghela napasnya lega. "Bagus deh kalau gitu, tante lega banget kamu gapapa."


"Oh ya tante, Sania itu kan yang nolongin tante?"


Anya mengangguk.


"Tante, apa gak terlalu berlebihan bentak Sania gitu, kayaknya dia nangis deh. Lagian kan tante, dia baru kerja di sini, Fellin baru main ke sini, mungkin dia ga tau Fellin ga bisa makan udang, terus ga suka yang pedas-pedas."


Anya terdiam, dia baru sadar akan hal itu. "Iya juga ya. Ya ampun, tante udah salah nih. Makasih ya Fellin udah ingetin tante, ntar tante bakal ngomong sama Sania deh."


Sejujurnya gue suka liat cewek kampung itu di bentak, tapi liat dia nangis kesian juga sih. Ah bodoamat deh.

__ADS_1


Fellin menghela napasnya, dia juga tidak tau apa yang sedang dia lakukan. Disatu sisi dia suka, di sisi lain dia juga kasihan.


__ADS_2